“Bunda, lulus SD aku mau ke pesantren ya…?” permintaan itu keluar dari bibir putri sulungku 2 tahun yang lalu.
Jujur…aku kaget! Secara, selama ini dia nggak pernah pisah dari aku sejak kecil. Lebih kagetnya lagi, permintaan itu diajukannya saat dia masih harus melalui 2 tahun lagi di bangku Sekolah Dasar.
“Jangan2…dia bosen sama aku ya…?” pertanyaan yang selalu melekat di kepalaku, sampai pernah membuat B16 0KE mencium teman sejawatnya di toll.
Aku langsung mendiskusikan hal itu ke Ayahnya & Eyang Utinya, juga Eyang Kakungnya. Ayahnya setuju sekali, secara beliau berharap anaknya yang menjelang ABG itu bisa menikmati masa2 pubernya di pesantren & akan mengembalikan Mbak Athira ke komunitas yang lebih heterogen (baca: SMU Negri) setelahnya.
Begitu juga Eyang Utinya, beliau langsung semangat membuat planning akan membangun villa mungil yang permanent di tanah sisa waqaf di kompleks Nurul Fikri Boarding School. Agar nantinya kita sekeluarga bisa sering2 menjenguk Mbak Athira, seperti ketika Bulek Nieza-nya juga nyantri di sana.
Eyang Kakung, Alloh yarham, kurang setuju cucunya dikirim ke Nurul Fikri…kalau memang ada pesantren modern lain yang bisa dibilang bagus. Aneh…padahal Bapak salah satu bidan lahirnya yayasan tersebut. Dan Almarhum masih punya sedikit hak di lahan itu. Mungkin bosen kali ya...10 tahun harus lihat logo Nurul Fikri di seragam anak2nya.
*****
Awal kelas 6, tiba2 Ayah-nya menawarkan Asy-Syifa Boarding School
lengkap dengan brosur dan presentasinya yang disampaikan oleh beliau langsung.
Aku juga bosen ditanya sama ibu2 satu gank komite sekolah, “Kenapa nggak coba2 aja dulu, Bun?”
Lah…?! Siapa yang mau dicoba kalau anaknya nggak berminat sama sekali…?! Aku…?! Bisa nangis Bombay guru2 di Asy-Syifa punya santri macam aku.
*****
“Bunda…pendaftaran di Asy-Syifa masih buka nggak ya…?” pertanyaan itu bikin aku lebih kaget dari 2 tahun yang lalu.
“Astaghfirulloh…! Siapa yang ngasih pelet Subang ke kamu, Nak…?”
“Dini…!”
“Dini…?! Your classmate…?”
“Yup…!”
Dini…salah satu "rival" Mbak Athira dalam pembelajaran di sekolah untuk meraih nilai tertinggi. Teman sekelas Mbak Athira yang cerdas, paling dewasa, paling sholehat & paling mandiri. Satu sifat anak ini yang aku paling suka lagi, mau berkorban demi temannya. Selama 5 hari kerja, anggota keluarganya hanya dia, Ayahnya, kakaknya & adiknya. Ibunya sedang meneruskan studi masternya di ITB dan hanya pulang weekend aja. Aku memang selalu memuji Dini di depan Mbak Athira & teman2 sekelasnya. Athira pun sering membawa oleh2 cerita pulang sekolah tentang kebanggaannya akan temannya yang satu itu. Tapi Dini bukan type orang yang suka menasehati temannya, apalagi hanya untuk mempromosikan pesantren baru itu.
“Bunda koq malah bengong…? Please, kapan kita ke sana…? Pendaftarannya masih buka nggak ya, Bunda…?”
“Wait…! I’m still wondering what did she say you…?”
“I promise to tell you after you call to Asy-Syifa. K...? Here the number's.” Katanya sambil menyodorkan brosur Asy-Syifa yang persis pernah diberikan Ayahnya.
*****
“Jadi, beberapa hari yang lalu…Dini curhat ke aku kalau aja umur dia belum 13 tahun sekarang ini, dia pengen banget masuk Asy-Syifa yang kata teman kakaknya yang nyantri di sana, pesantren baru yang bagus banget, kayak sekolah alam & pesantren modern termurah dengan fasilitas lengkap. Siswanya juga cuma 130 anak per angkatan dengan seleksi masuk yang ketat. Dini harus masuk SMP Negri yang ada akselnya, biar dia bisa sekolah cuma 2 tahun. That’s all, Bunda.” ceritanya setelah aku menghubungi ayahnya, bukan Asy-Syifa. Karena ayahnya yang punya hubungan ke sana.
Eyang Utinya sedikit kecewa, tapi kebiasaan selalu menuruti kemauan cucu2nya bisa mengalahkan perasaan itu. Eyang Kakungnya sangat berharap Mbak Athira diterima di Asy-Syifa, waktu Mbak Athira ceritakan sendiri keinginannya itu.
*****
Setelah survey dan mendaftar ke Asy-Syifa, kami juga survey dan mendaftar ke Nurul Fikri untuk berjaga-jaga kalau2 belum rizqi Mbak Athira untuk bertani juga di Asy-Syifa.
Sampai di Nurul Fikri di Anyer, dia nggak mau turun dari mobil dengan alasan sudah tau sampai detail pesantren itu. Jadi, kami cuma sholat & ambil formulir aja. Lebih banyak waktu main di pantai & bermalam di Serang.
Tanggal 30 Maret, yang harusnya ujian test masuk Nurul Fikri, Mbak Athira sengaja mengalihkan konsentrasiku ke hari itu…sampai sorenya di tanggal itu dia bilang, “Bunda, bukannya hari ini harusnya aku test untuk NFBS…?”
“Innalillahi…! Gubraks…! Koq Mbak nggak ngingetin aku…?”
“Aku juga lupa.” jawabnya sambil ngeloyor ke connecting door yang menghubungkan rumah kami dengan tetangga sebelah.
*****
Dan alhamdulillah…usahanya yang luar biasa demi pesantren baru itu, sampai harus cheating di tanggal 30 Maret, mengharuskan aku menerima sms ini kemarin pagi :
Assalamualaikum. Selamat anak bpk/ibu dinyatakan lulus tes di Assyifa. Daftar ulang 21 April-4 Mei 08. Terimakasih.
Aku langsung menyampaikan ke Bunda, yang membuatnya menangis terharu. Karena dia sangat tau cita2 cucunya yang satu itu. Yang sampai detik2 menjelang test di Subang waktu itu, Mbak Athira izin telefon Eyang Uti-nya yang sedang melaksanakan ibadah umroh. Dan belum pernah aku melihat anak sulungku ini sujud syukur tanpa disuruh, kecuali kemarin…begitu aku sampaikan kabar gembira ini.
*****
Mbak Yayang...semoga dirimu turut menjadi bagian butiran benih-benih yang sudah terpilih untuk dapat tumbuh dengan baik dan memberikan buah bermanfaat untuk ummat, juga perbaikan peradaban masa depan.
Untuk teman2nya yang belum mendapatkan rizqinya di ladang ini, pasti kalian menemukan ladang lain yang jauh lebih baik untuk kalian...karena Dia Maha Pembuat Rencana.
Untuk sahabat2ku semua, baik para MPers & non-MPers yang setia membaca journal-ku...jazaakumullohu khoiron katsiro untuk support & do'a tulus kalian, terima kasih banyak, thanks so much.
Jazaakumullohu khoiron katsiro juga untuk Pak Tri, Bu Metty & Bu Sari yang mendukung Athira memenuhi keinginannya ini. Juga untuk Ayah Oke, Eyang Uti, Almarhum Eyang Kakung, Bulek Cimon, Bulek Nieza, Om Ghanenk, Dede & Mbak Nofa atas do'a juga support moral & materil dari kalian.
Jazaakillahu khoiron katsiro, Dini sayang...yang udah ngasih contoh baik ke temen2nya tanpa dirimu sadari, Nak...