Bunda's posts with tag: article

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag article

Author: Dr. dr. Tauhid Nur Azhar

Ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigapnya segera berbelanja ke tukang daging di pasar langganan. Semuanya tampak biasa dan wajar-wajar saja. Tetapi bila ternyata uang yang didapat sang ayah tadi bukanlah terkategori sebagai pendapatan yang halal, maka jalan ceritanya akan panjang dan pasti tidak akan "happy ending".

Apalagi tokoh sang ibu dalam cerita ini rupanya tengah berbadan dua. Dongeng punya cerita, ternyata setelah diusut-usut oleh KPK, uang yang dibawa pulang oleh sang Ayah adalah uang komisi yang tidak semestinya diterima. Sang ayah yang pegawai senior di sebuah instansi itu tentulah tahu dan dapat membedakan, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Akan tetapi karena desakan hawa nafsu ingin tampil sebagai seorang kepala keluarga yang prestatif serta dapat menduduki maqam yang terhormat di mata istri dan keluarganya, maka uang itupun diterimanya.

Dengan senang hati? Tentu tidak. Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, sampai-sampai ia sendiri merasa bahwa jantungnya bisa saja putus saat itu juga. Keringat dingin meleleh di sepanjang tulang punggungnya, dadanya terasa sesak, sampai-sampai kemeja yang dikenakannya serasa melekat erat bak pakaian senam. Nafas tersenggal-senggal, dan kepala terasa pening melayang. Ya, itulah pertanda seluruh tubuhnya sepakat menolak untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah dosa.

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (Al-Qur'an) yang serupa lagi berulang-ulang. Bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah." (QS. Az-Zumar ayat 23).

Getaran rasa bersalah itu mengguncangkan sistem normalitas dan homeostasis alias keseimbangan internal manusia. Hormon ketakutan (skotopobin) membuncah dan terus mendorong ketidakseimbangan hormonal lainnya. Metabolisma tubuh mengalami perubahan secara drastis. Para elektron, proton, quark, lepton, bosson, dan fermion yang tengah bertasbih dan berthawaf terganggu ritmenya dan membangun sebuah keseimbangan baru sebagai suatu efek kompensasi. Sebagian dari mereka menjadi liar karena kehilangan pegangan.

Sunatullah yang termanifestasi sebagai berbagai aturan yang menjamin keteraturan yang bersifat sistematik tidak lagi berjalan semestinya. Sebagai contoh, konsep larangan Pauli yang memisahkan antara elektron dengan arah spin yang sama dalam orbital Bohr yang berbeda, tidak lagi dipatuhi dan para elektron, semuanya berloncatan semaunya, semuanya semau "gue".

Uang yang notabene hanya sekedar sekumpulan karbon yang berbentuk kertas dan sama sekali tidak berdosa, bila terpegang oleh tangan-tangan yang chaos akan ketularan dan menunjukkan sifat (fenotip) serupa. Kertas uang akan menjadi media penghantar multi level dosa (MLD).

Sang ibu yang kemudian berbelanja dan membeli ½ kg daging has dalam dari seekor sapi yang nyata-nyata halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah, akan kecipratan efek tidal dosa yang seperti molekul dalam gerakan Brown, membentur sana-sini dan berzig-zag kian-ke mari menciprati tetesan dosa ke sana-ke mari, terdorong oleh panasnya energi kinetik rasa bersalah.

Dan daging has dalam sapi yang halal itu, ketika terpegang oleh lengan ibu yang terkena efek gerak Brown dosa, maka akan berubah pula menjadi sekumpulan atom C, H, O, N, P, dan K yang resah dan gelisah (ingat hampir semua elemen di alam semesta bersifat dielektrik).

Ya, daging itu telah menjadi medium turunan ketiga dari sebuah dosa. Jangankan terpegang, dikantungi plastik saja dan plastik itu "dicengkiwing" hanya oleh 1 ibu jari dan 2 jari anak buahnya, maka sifat semi konduktornya tetap akan menjadi penghantar bagi proses MLD.

Kemudian daging itu disemur, dan dimakan beramai-ramai. Ketika ia sampai di lambung dan saluran pencernaan, amilase, gastrin, pepsin, tripsin, garam empedu, dan juga lipase ogah-ogahan menjamunya karena merasa tak kenal. Jadilah daging itu diolah seenaknya dan tentu semau gue juga dong!

Blok pembangun yang semestinya kelak dapat menjadi bagian dari keshalehan dan kejeniusan otak seorang anak, gagal menjadi protein dan banyak di antaranya menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroid dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas, gelisah, khawatir, dan ketakutan.

Coba bayangkan, hanya dari sekerat daging sapi yang semestinya halal, anak-anak dari keluarga muda itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang pemarah, murung, gelisah, dan ketakutan, tanpa mereka pernah tahu apa sebabnya.

Dan bila kelak mereka dewasa serta menjadi pribadi yang berakhlaq kurang mulia, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dan terbebani oleh dosanya? Tentu bukan para downliner bukan? Kitalah, para orangtua yang berperan sebagai up-line yang akan menuai badai bonus dosa, Na'udzubillahi min dzalik.

Ternyata, proses dan fenomena ini tidak hanya terjadi pada kegiatan makan-memakan saja, melainkan pada semua aspek kehidupan seorang manusia. Setiap rasa bersalah karena melanggar perintah dan larangan Allah, yang merupakan kebenaran absolut, maka setiap sel dan setiap unsur di dalam tubuh kita akan bersikap chaos yang pada gilirannya akan mengakibatkan munculnya dampak akumulatif yang mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai tataran muthmainnah, na'udzubillahi min dzalik.

Seorang ibu yang tegang dan kecewa (tanda-tanda kufur nikmat), pada saat mengandung putranya, berarti dapat pula dikatakan berinvestasi pada kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa anaknya di kemudian hari. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong, setiap belaiannya pada sang anak akan menularkan ketakutan, kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya. Oh anak, engkau rupanya sebuah cermin bagi keimanan kedua orangtuamu.

Maka bertaubatlah kita, berdo'alah kita, dan berwudhulah kita untuk mensucikan setiap proses interaksi dengan setiap elemen dalam kehidupan. Karena itu pula di setiap perjumpaan diwajibkan bagi kita untuk mengucapkan salam, sebuah do'a bagi sesama, dan sebuah do'a bersama bagi keselamatan kita semua.

Oleh karena itu pula terkuak makna dalam do'a sebelum makan yang memiliki arti tidak sekedar mengharapkan barokah dari makanan yang tersedia, tetapi juga permohonan agar terhindar dari azab api neraka. Do'a makan itu rupanya bagian dari proses sterilisasi dan pengeliminasian unsur-unsur dosa (haram) dalam sebuah makanan. [halalguide. info]

 

Na'udzubiLLAH min dzaliik...



Blog EntryCommon EnemyJul 25, '07 3:30 AM
for everyone

oleh : Djony Edward
Wartawan Bisnis Indonesia

 

Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal tersebut sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan Gubernur DKI Jakarta.

Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh bersama)." Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud common enemy bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan dari A hingga Z tentang perkembangan di tanah air.

Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena pernyataan itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic Salvation (FIS) di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang kemudian kemenangan itu langsung dijegal oleh militer.

Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada di Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja setelah MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui aksi-aksi tak konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan, aksi tak simpatik anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan Nurmahmudi, hingga aksi pengempesan ban mobil sang walikota dan pelemparan bom molotov mobil kader PKS Depok.

Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama pasangannya Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wagub Banten. Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar bersatu untuk melawan kader dari PKS.

Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan Sa'aduddin dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun akhirnya dimenangkan oleh PN Jabar.

Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS adalah common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta.

Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi paling nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa pilkada DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah memanas, padahal kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta program kerja mereka.

Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada Pemilu 2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika dipresentir menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis dengan Koalisi Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih yang terhimpun di 20 parpol pendukung.

Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20 parpol dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang. Berikut al. parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar (9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%), PBB (1,45%), maupun PKPB (1,83%).

Maksimalkan kemenangan

Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan putra Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa sebegitu besar suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1? Padahal untuk sahnya seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol peserta pemilu 2004.

Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin.

Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman Ustad Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor ngidul, setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin.

"Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad dengan adik saya," demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa Presiden Soeharto.

"Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi.

"Foke, Ustad," tambah Ginandjar.

Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi. Singkat kata, dalam obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling disegani di PKS itu.

Apa jawaban Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut petikannya, "Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon, yakni Adang Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi secara sehat."

Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada PKS, dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan PKS dan PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya tingkat konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah.

Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang juga merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu pendukung Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan kemenangan digalanglah Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan aspek pendidikan politik, yang penting bagaimana memaksimalkan kemenangan. Jadilah PKS sebagai common enemy bagi, paling tidak, elit politik di DKI. Tapi belum tentu bagi rakyat DKI Jakarta.

Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih dari 30%.

Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri, ada yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat dan pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang memasuki tahun ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya cuma sibuk berdakwah), sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah pemilihan.

Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus jantung hati rakyat.

Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin menyapa atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami rakyat. Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60 titik posko yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan sukarela warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko itu dibentuk dari awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir yang terakhir.

Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang cuma memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda warga Jakarta.

Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru meinggu kedua pasca banjir menurunkan bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap yang tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba dalam kebajikan, maka kader PKS lah yang maju dimuka.

Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik, karena itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi Jakarta. Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon seperti fenomena yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri Marin, maupun Agum Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono Kusumaatmaja, tak lebih dari bagian dinamika yang memperkaya dan mengarahkan PKS sebagai common enemy.

Plus minus

Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat dan mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus.

Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi kelemahan dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan kalau memang dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran tidak memenuhi kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku.

Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada DKI Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung birokrasi yang saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelaha da kepastian Daftar Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene masih dikomandaninya.

Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah tokoh mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai adanya ghost vooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan buntu, KPUD tetap jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil proses yang lemah sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada paling buruk di Indonesia.

PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan menghalangi kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi oleh waktu dan tempat pendaftaran.

Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang telah ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan mengarah pada kartel kekuasaan.

Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis yang memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma. Sejumlah organisasi parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau setidaknya menjadi penasihat, menunjukkan supelnya sang calon.

Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol dengan sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni ideologi serta anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung pencalonannya.

Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak mampu mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu membendung meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI Jakarta, padahal tekadnya menyejahterakan warga.

Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada pasangan Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa karena kemiskinan meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik.

Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan dan pengangguran bertambah di Jakarta.

Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat menjabat Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen Polri sehingga memang tak terlalu dikenal.

Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu, sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan hingga jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai predikat buruk tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS yang bersih?

PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan, itupun kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian dari dalam. Sebuah spekulasi yang memang harus diuji.

Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui sebagai militer aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan Dani Anwar adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak perjuangan sekolah gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan, walaupun pelaksananya Sutiyoso dan Foke.

Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan syariat Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten, pemkot dan pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun yang otomatis diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya akan terlaksana jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah memerlukan waktu.

Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap memilih. Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati maknanya hampa sama sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada pada nurani Anda!!! 

 

http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html

 


Blog EntryKreatif, lalu LatahJul 3, '07 9:19 AM
for everyone

Tahun lalu, saat mengunjungi teman semasa kuliah di Islamabad yang memang asli orang Bandung, dia mengajak aku menikmati "sop buah" di daerah Gasibu. Begitu mendengar ajakannya, spontan aku jijik "buah kok di-sop?".

Bagi pendatang baru, nama “sop buah” memang terasa asing, tetapi bagi warga Bandung sop buah sudah biasa. Sop buah tidak lain adalah kombinasi buah-buahan yang dipotong kecil seperti dadu, disiram dengan air gula, es batu, lalu ditambah susu kental manis. Dihidangkan pada sebuah mangkok. Jadilah minuman segar yang menyehatkan. Buah-buahannya cukup lengkap, mulai dari yang lokal sampai impor seperti semangka, melon, apel (import), nanas, pear (import), anggur, strawberry, timun suri, blewah, pisang, dan sirsak. Karena penambahan es, susu kental, dan air gula, maka buah-buahan tersebut seperti mempunyai kuah seperti kuah sop, sehingga dinamakan sop buah. Nama lainnya “es shanghai”, tetapi entah kenapa nama ini kurang populer.

Entah siapa yang pertama kali mencoba berjualan sop buah dan entah darimana orang punya ide membuat minuman baru, tetapi yang jelas 3 tahun belakangan ini. Dulu hanya 1 orang penjual sop buah ini, di depan Gasibu, sekarang di Bandung terdapat puluhan bahkan ratusan penjual sop buah.

Bandung memang kota yang masyarakatnya terkenal kreatif. Berbagai ragam karya seni, pakaian, sovenir, dan lain-lain termasuk makanan lahir dari kota ini. Berbicara mengenai ragam makanan, aku teringat brownies kukus yang diproduksi oleh toko Amanda. Kue ini, yang lahir karena salah resep, menjadi terkenal dan merupakan icon baru oleh-oleh Bandung selain peuyeum, kue soes, roti bagelen, dan roti molen. Banyak orang-orang Jakarta yang berkunjung ke Bandung memburu brownies kukus. Antrian pembeli di beberapa gerainya sampai berpuluh-puluh meter. Peluang bisnis ini ditangkap oleh beberapa pedagang kaki lima yang menjual brownies kukus Amanda di pinggir-pinggir jalan, terutama jalan yang banyak toko factory outlet.

Hukum “latah” pun mulai menghinggapi banyak orang yang melihat kesuksesan brownies Amanda. Bermunculanlah berbagai kue brownies kukus dengan bermacam-macam merek, bahkan toko kue yang tidak berjualan brownies kukus pun ikut-ikutan memproduksi kue brownies kukus dengan berbagai rasa, mulai dari rasa pandan, rasa durian, bahkan ada brownies yang dilapisi keju. Nama “kukus” pun menjadi terkenal sehingga banyak orang mencoba membuat resep baru seperti tiramisu kukus, bolu kukus, tart kukus, dan entah berapa macam lagi yang kukus-kukusan.

Akibat budaya latah seperti itu, orang pun mulai bosan dengan brownies kukus. Ini dapat dilihat gerai toko Amanda yang tidak lagi ramai seperti dulu. Yang jelas, budaya latah sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia. Melihat orang lain sukses dengan bisnisnya, maka bermunculan lah puluhan sampai ratusan usaha yang serupa.

Aku masih ingat dua tahun yang lalu betapa populernya jajanan gorengan yang bernama “cimol” (aci digemol). Bermula dari seorang pedagang, maka bermunculanlah banyak pedagang lain yang berdagang serupa. Sekarang makanan cimol sudah tidak populer lagi, sudah jarang ditemui pedagang yang berjualan jajanan yang tidak bergizi itu.

Sejak tahun lalu di Bandung bermunculan rumah makan Sunda yang berbau nama kampung dengan cara penyajian yang beda dari yang lain, seperti Bumbu Desa, Dapur Cobek, Sambal Cibiuk, Rumah Nenek, Bawang Merah, dan sebagainya. Awalnya bermula dari rumah makan Bumbu Desa yang sukses, lalu pengusaha lain pun latah meniru konsep serupa.

Sekarang di Bandung populer jajanan yang bernama singkong keju. Jajanannya sederhana saja, singkong yang sudah direndam dalam larutan yang bercampur keju, ketika digoreng akan memberikan aroma dan rasa yang lain dari singkong goeng biasa. Nah, bisa ditebak! Kesuksesan pedagang singkong keju yang pertama (entah dimana) membuat pedagang lain pun latah. Bisa ditebak nasibnya nanti seperti cimol itu.

Moral dari cerita ini, kalau kita ingin sukses, buatlah sesuatu yang beda dari yang lain, usahakan jangan membuat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Kreatif, itu kuncinya.


Blog EntryAmsal JemariJun 24, '07 11:09 AM
for everyone

Author : Agusty Anwar

Kedua tangan yang kita miliki masing-masing memiliki lima jari. Namun, dari kesepuluh jari yang ada, cukup banyak simbol yang dapat dihasilkan, bahkan amsal yang dapat dijadikan perbandingan.


KH Toto Tasmara dalam ceramah Pesantren Kilat (yang diberikannya di Los Angeles) menyusun kedua tangan berdempetan dengan melipatkan jari tengah. Lalu digerak-gerakkanlah kedua ibu jari saling beradu sedangkan pasangan jari-jari lain diam di tempat; lalu giliran jari telunjuk; kemudian kelingking. Semua mudah dilakukan. Namun, ketika yang digerak-gerakkan pasangan jari manis, ternyata tidak mudah atau bahkan tidak bisa.

Ustadz kita itu memang pembicara yang handal dan lihat meng-entertaint audience-nya. Dengan amsal jemari demikian itu saja, ia mengajak kita berfikir betapa bagian tubuh seperti jari-jari kita sendiri pun belum tentu dapat kita kontrol sesuka hati. Silahkan anda coba!

Demikian banyak keterbatasan yang kita miliki, bahkan hanya dalam soal jari. "Apakah kita patut menjadi sombong?" demikian Ustadz Toto bertanya dengan nada retoris. Dan guru kita itu benar, bahwa apa pun itu, tak akan pernah cukup alasan bagi seorang manusia untuk bersikap sombong. Apalagi takabur di depan Tuhan.

Faktanya, hanya dengan jari jemari saja pun pelajaran hidup dapat diambil berlimpah-limpah. Jari tangan kita adalah bagian tubuh kita yang berfungsi paling dinamis, yang mempunyai paling banyak sendi sehingga lebih lentur dan membuahkan hidup yang menjadi lebih mudah. Tak terhitung jumlahnya jenis pekerjaan yang mengandalkan keberadaan jari tangan itu.

Ketika kolom ini diketik, ketika anak dibelai, kerabat bersalaman, berhitung, menggaruk yang gatal, memijat, memegang atau menggenggam sesuatu, memainkan gitar atau piano, memetik buah, bahkan ketika menarik pelatuk pistol atau menandatangani cek palsu. Jari-jari tangan kita hadir menjalankan tindak yang otak kita inginkan, tak kenal baik atau buruk.

Lebih hebat lagi, jari-jari kita pun amat kaya dengan beragam bentukan simbol. Jari-jari pun merupakan komponen paling kaya dari beragam bahasa tubuh.

Memang, karena perbedaan-perbedaan kultural, satu simbol dapat bermakna bagi suatu bangsa, sedangkan bagi yang lain tidak. Namun, sangat banyak pula simbol-simbol itu yang dipahami di mana dan oleh siapa pun. Bagi kalangan tuna rungu dan tuna wicara, bahasa tangan dan jemari atau sign language sama kayanya dengan kamus tebal yang memuat jutaan kata. Dari berbagai lipatan jari, kesemua abjad dapat dibentuk.

Itulah sebabnya, dalam hidup sehari-hari, ketika jari telunjuk kita gerakkan, ia menyampaikan banyak makna: Ia dapat berarti menyetop taksi di pinggir jalan, memberikan perintah, sekedar menunjuk arah, acungan untuk bertanya dan sebagainya. Jari telunjuk yang dituding-tudingkan pun dapat membawa arti yang kasar, ketika yang punya jari kebetulan memang sedang marah.

Lalu, dalam beragam budaya dunia, kita pun maklum tentang jari jempol yang diacungkan ke atas; makna simbolik jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan---entah itu victory atau peace; makna vulgar acungan jari tengah atau kelingking dan sebagainya. Di RRC, setelah angka lima, terdapat simbol-simbol jemari lainnya yang menyatakan angka enam sampai sepuluh, yang hanya lazim di sana. Ketika di Shanghai jari tangan menunjukkan angka delapan, di Barat barangkali dimaknai sebagai simbol pistol atau sekedar tanda keakraban.

Ketika jari tengah, jari manis dan ibu jari menekuk dan membiarkan dua jari lainnya berdiri dapat dimaknai sebagai simbol setan, atau corna di Itali; tetapi di Texas itu menjadi tanda salam kalangan mahasiswa, "hook 'em horns", kata mereka. Atau, tepatnya, kata Harley Clark yang mempopulerkan simbol itu di tahun 1955. Sedangkan di Hawaii, ketika ketiga jari ditengah yang ditekuk dengan menyisakan ibu jari dan kelingking, ia menjadi shaka, atau lebih populer disebut hang loose, yang menjadi tanda salam yang beragam makna.

Pendeknya, hanya dari jari-jemari kita itu pun tersangat banyak hal yang dapat disimbolkan, bahkan dimaknai. Ketika di masa kecil kita mengibaratkan ibu jari sebagai gajah, telunjuk sebagai manusia dan kelingking semut, maka terjadilah sebuah permainan.

Sedangkan yang sebagai amsal, yang dapat menjadi pelajaran dalam hidup pun teramat banyak. Sebagai misal, ketika ada yang asyik menunjuk-nunjuk dan menuding-nuding, menyalah-nyalahkan orang lain, sebetulnya hanya satu yang tertuju kepada yang dituding, sedangkan tiga (kalau bukan empat) jari lainnya justru mengarah kepada diri sendiri. Oleh sebab itu, kata orang bijak, janganlah cepat melihat keburukan orang lain tanpa terlebih dahulu melakukan introspeksi diri sendiri.

Namun, sebuah amsal jemari yang sering terlintas di benak saya adalah tentang filosofi hubungan kelingking dan ibu jari, seperti dicatatkan seorang teman, Adi J. Mustafa, dalam mengenang Alm. Prof Dr. Koesnadi Hardjosumantri. Seorang wakil UNESCO, demikian kisah Pak Koesnadi, bertanya kepada seorang Kepala Desa tentang rahasia sukses dalam memimpin desanya.

Ternyata, jawaban sang Kades sederhana saja, bahwa ia menerapkan "falsafah jari tangan". Rakyat, menurut Pak Kades, ibarat jari kelingking, sedangkan pemimpin adalah ibu jari. Bagi kelingking tidak akan mudah menjangkau ibu jari apabila si ibu jari tak mau atau enggan menekuk. Sedangkan menjangkau kelingking bagi ibu jari akan jauh lebih leluasa, walau pun kelingkingnya tetap diam.

Makna dari amsal itu ternyata tidak lagi sesederhana penuturan seorang Kepala Desa, karena ternyata dapat menjadi sangat dalam: Bahwa sudah sepatutnyalah bagi pemimpin untuk memperhatikan rakyatnya, karena akan lebih mudah baginya melakukan itu daripada sebaliknya. Bayangkan kalau antara pemimpin dan rakyat sebagai ibu jari dan kelingking saling menekuk bersambut ke tengah, bukankah semuanya akan menjadi lebih mudah?

 

Betapa hidup ini teramat kaya, bahkan untuk memetik arti dari sekedar amsal jari jemari.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help