Bunda's posts with tag: bandung

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bandung
ReviewReviewReviewReviewReviewBumbu DesaJul 3, '07 1:08 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Other
Location:Jl. Laswi, Jl. Pasirkaliki, Rumah Mode Jl. Setiabudi (all in Bandung)
Bumbu Desa adalah kedai sunda kontemporer dengan konsep self service. Sebelum duduk, pelayan akan memberikan nampan untuk tempat lauk-pauk yang kita pilih yang kemudian akan digoreng lagi oleh pelayan supaya bisa disantap dalam keadaan hangat.

Sesuai namanya, Bumbu Desa menyediakan menu masakan khas pedesaan. Tiap satu jenis lauk ditempatkan dalam satu wadah bambu yang dialasi daun pisang. Ada udang, empal gepuk, cumi, tahu-tempe, ayam, macam-macam ikan, aneka pepes, aneka jeroan ayam dan sapi, dan belasan aneka tumisan. Ada sekitar 20 macam lauk gorengan ataupun yang baceman.

Di kedai ini kita juga bisa menikmati masakan yang sudah langka dengan harga terjangkau, seperti ikan paray goreng dan tumis genjer.

Untuk lalapan dan sambel, kita bisa ambil sepuasnya. Selain jenis lalapan yang beraneka, sambelnya pun ada 4 macam. Ada sambel dadak, sambel goreng, sambel ijo dan sambel oncom.

Kalau dulu setiap ke Bandung selalu mampir di Ampera, akhir-akhir ini Bumbu Desa selalu jadi pilihan kita untuk mengisi perut yang keroncongan selama hang-out di Bandung. Menu andalanku selain lalap dan sambel dadak, yaitu tumis jamur kancing, cumi goreng, limpa goreng, dan ikan paray.

Ada 3 kedai bumbu desa di Bandung, di Rumah Mode, Pasikaliki dan Laswi. Kedai yang berada di Jalan Laswi merupakan Bumbu Desa yang pertama, tetapi kedai yang di Pasirkaliki yang memiliki fasilitas paling lengkap. Tetapi kalau dengan anak-anak, aku lebih cocok yang di Rumah Mode.


Blog Entry1 jam...! Lebih 1 menit...Apr 20, '07 11:26 AM
for everyone

Alhamdulillah...! Hari ini rekor sepanjang aku driving Jakarta-Bandung via Cipularang. 1 jam...! Lebih dikit...dikit...banget. Tepatnya 1 jam 1 menit, itu juga karena macet di Halim tembusan UKI. Biasa...hari Jum'at, the last workday.

Pekan lalu, Jakarta-Bandung 1 jam 30 menit, nggak beda dengan yang sudah-sudah. Pulangnya, Bandung-Jakarta, discount 17 menit...jadi 1 jam 13 menit. Ini karena anak-anakku tidur, jadi aku bisa lebih konsentrasi. Dan yang penting, ada "upil cina" (sejenis manisan buah kering khas China, rasanya nano-nano gitu deh). Orang-orang yang sudah hafal kebiasaanku ini, menyebutnya "sesajen sang driver".

Sore ini, sudah jam 4 kurang keluar dari Rumah Mode. Biasanya aku nunggu dinner dulu baru pulang. Tapi karena masih kenyang dengan lunch yang terlambat, anak-anak pun minta langsung pulang. Dan satu hal yang paling aku benci adalah on the way in Maghrib time. Tapi, untuk kali ini aku yakin ban mobilku bisa menggilas aspal Jakarta sebelum adzan Maghrib berkumandang di gelombang radio yang sedang aku dengar.

Setelah bermacet-macet ria di Cihampelas, jam 4.35 kita mulai masuk toll Pasteur. Bismillahittawakaltu... Mentari yang akan kembali ke peraduannya bersinar terik sekali, tepat tersenyum di hadapanku. Dan pemandangan sepanjang toll Cipularang yang sedang berhias dengan bunga ilalang yang tinggi-tinggi dan gemulai ditiup angin, beberapa kali sempat menggodaku untuk menambah koleksi photo album di laptop-ku. Tapi mereka hanya kusapa dengan Subhanalloh, dan aku tetap konsentrasi membelah jalan toll terpanjang se-Indonesia itu.

Aku sangat menikmati saat mesin mobilku ini menderu lembut melewati empat jembatan yang melengkapi toll "Pembelah gunung, Penguruk jurang" itu, yaitu Jembatan Ciujung, Cisomang, Cikubang dan Cipada. Masya Alloh...! Benar-benar memacu adrenalin.

Begitu sampai di interchange toll Cipularang dan toll Cikampek, butiran hujan tiba-tiba melukis pola polkadot di kaca depan...dan mendadak angka-angka digital di speedometer berkurang. Sepertinya ada accident, tapi entah di mana....di kilometer berapa. Seperti biasa, aku langsung telepon Jasa Marga yg selama ini selalu memberikan info yang akurat. Benar, ada truck container terguling hanya 2 Km ke depan. Sabar...sabar...aku masih jauh lebih beruntung dari supir truck itu. Sempat aku melihat truck container yang terguling itu, sekejap. Entah supirnya tewas, atau akan dipecat oleh boss-nya besok. Entah karena kesalahannya atau bukan. Dan entah siapa yang akan peduli dengan istri dan anak-anaknya yang menunggu di rumah.

Setelah melewati TKP, alhamdulillah...toll Cikampek mulai bersahabat lagi. Begitu juga ketika aku harus kembalikan tickect toll ini plus uang sewanya di pintu toll Pondok Gede, alhamdulillah tidak ada antrian yang sangat panjang. Begitu hampir sampai di penghujung toll Cikampek, tepatnya di interchange dengan toll dalam kota, PaMer (Padat Merayap) sudah mulai terlihat. Biasanya hanya sampai traffic-light persimpangan Halim.

Dan setelah bebas dari lampu merah itu, Mbak spontan teriak, "Hore...! 1 jam, Bunda! Lebih 1 menit..." Aku lirik digiclock di dashboard, jam 5.36. Alhamdulillah...yang penting selamat dan nggak dengar sahut-sahutan mu'adzin di jalanan.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help