Bunda's posts with tag: biography

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag biography
EventB'day of My Own BUNDAJan 8, '08 1:01 AM
for everyone
Start:     Jan 11, '08 12:15a
End:     Jan 11, '08 11:45p
Bunda-ku...atau Eyang Uti-nya Mbak & Dede, insya ALLOH pada tanggal ini usianya genap 57 tahun.

Beliau dilahirkan di Solo & bener2 jadi wanita Solo tulen. Sampe sekarang otak & energy-nya nggak pernah istirahat walau sesaat. Sampe tidur pun...beliau bisa mimpi solusi untuk kerjaannya.

Beliau salah satu perempuan p'tama yang terjun di medan da'wah di Indonesia ini. Nggak cuma menghadapi suami yang keras (Bapak-ku) yang belum s'fikroh pada waktu itu...tapi juga menghadapi seluruh keluarga & masyarakat di sekitarnya, yang akhirnya mengikuti jejaknya.

Walaupun ditipu sana-sini...walaupun beliau juga merasakan sakit hati...tapi tekadnya untuk membiayai da'wah ini nggak pernah putus. Tekadnya "Aku cari uang banyak untuk m'hidupi da'wah. Jangan sampe anak-cucu-mantuku jadikan da'wah sebagai sarana cari uang...apalagi harus m'halalkan b'bagai cara."

Kalo aku udah disakiti kayak yang pernah beliau rasakan...mana tahan...???

Sampe skarang bingung neh...mo ngasih p'hatian dalam bentuk apa. Soalnya, aku pas nganter Mbak Athira AMT di Puncak. Any idea...?

:-?

ReviewReviewIPDN Undercover: Sebuah Kesaksian BernuraniJun 25, '07 10:35 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Inu Kencana Syafiie
Menurut saya, ini penggunaan istilah yang keliru. "Undercover" menyiratkan makna bahwa penulis buku ini, Inu Kencana Syafie, menyamar sebagai bagian dari IPDN (dulu STPDN) untuk mengungkap rahasia-rahasia di baliknya. Padahal penulis memang bagian dari institusi yang ia ungkap dan lawan kebobrokannya.

Buku ini sebenarnya autobiografi, yang tadinya mau diubah oleh penerbit karena takut dipertanyakan masyarakat. Namun akhirnya dipertahankan karena kualitas tulisan yang bagus. Menurut saya itu pilihan yang bagus. Tapi bukan berarti penerbit jadi melalaikan kerja samanya dengan penulis untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Karena itulah yang saya lihat. Selain dari judul yang kacangan, suntingannya pun asal. Salah ketik masih bertebaran di mana-mana. Kisah-kisah tidak disusun agar menyampaikan inti yang saling mendukung. Ini menunjukkan bahwa penyunting tidak teliti. Atau terlalu terburu-buru mengejar tenggat penerbitan.

Dua ratus empat halaman adalah kisah kehidupan penulis. Sementara kasusnya sendiri hanya tujuh puluh halaman. Perbandingannya hampir 3:1, sehingga terlihat misi yang diemban hanyalah yang pertama. Banyak bagian yang sama sekali tidak perlu dan tidak relevan dengan misi kedua. Dengan begini, judul makin keliru.

Orang yang membaca buku ini dengan berharap mendapatkan kesaksian mendetail tentang IPDN akan kecewa. Memang ada kronologis yang lebih lengkap. Termasuk pengungkapan fakta dan kesimpulan penting seperti:

Kematian anak didik IPDN hanyalah sempalan dari kondisi di lapangan. Yang lebih mengerikan adalah kejahatan membudaya para pengasuh dan komisi disiplin yang menjadikan kasus anak didik sebagai ladang uang.

Film adegan pemukulan yang sering ditayangkan di TV-TV swasta sudah mengalami rekayasa citra. Dalam rekaman sebenarnya, setelah adegan itu para "aktor" sama-sama tertawa sambil minum dan makan roti. Karena adegan ini sendiri direkam untuk "gagah-gagahan", agar kelak mereka bisa ngomong ke para junior, "Kami aja sanggup, kenapa kamu nggak?" Namun, adegan tertawa tersebut dihapus. Lalu adegan pemukulan diberi musik latar yang seram. Jadilah tayangan yang membuat orang-orang berang.

Intinya, pemukulan memang ada. Dan sebagian besar memang mengerikan. Tetap saja, yang ditayangkan TV adalah manipulasi.

Poin-poin tersebut jadi kabur karena tertelan oleh lautan kisah tentang penulis. Kasus Cliff Muntu yang berdasarkan Pengantar Penerbit ditambahkan untuk melengkapi buku pun tidak terlihat. Penuturan kasus per kasus pun begitu.

Buku ini menjadi autobiografi yang salah kemas. Seharusnya justru dimulai dengan bagian paling akhir, yang menceritakan saat penulis diundang oleh pemilik Joger, Joseph Theodorus Wulianadi. Joseph mengajak para stafnya merenungkan kenapa mereka semua mengundang Pak Inu ke Bali, padahal banyak yang lebih terkenal.

Seseorang meneriakkan jawabannya, karena Pak Inu berani seorang diri membongkar skandal STPDN.

Joseph mengiyakan dan mengajak, "Sekarang, kita dengarkan ceramahnya. Mengapa keberanian itu muncul?"

Inilah inti buku itu. Mengapa keberanian itu muncul. Sama sekali meleset dari judul dan kemasan buku. Jangan baca karena tertarik kisah IPDN, bacalah kalau tertarik kisah seorang pemberani bernama Inu Kencana Syafiie.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help