Bunda's posts with tag: crime

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag crime
Blog EntryDie with LuvApr 5, '08 9:57 AM
for everyone
AstaghfiruLLOH al'adziem... Koq gue nggak bersyukur banget ya jadi orang...?  Punya anak2 yg masih bisa menikmati karunia-NYA... ALLOHUMMAghfirlii...

*************************************************************************************************************

Israeli girls write messages on a shell at a heavy artillery position near Kiryat Shmona, in northern Israel, next to the Lebanese border, Monday, July 17, 2006.
(AP Photo/Sebastian Scheiner)


Dear Lebanese/Palestinian/Arab/Muslim/Christians - Kids,

Die with love.

Yours,
Israeli Kids




These are the photos when Israeli kids sent gifts of love to Arab kids


Thank you, Israel kids...we received your gifts of love.

See…




The driver




source of pix: http://www.bubbleshare.com/album/47671

ReviewReviewIPDN Undercover: Sebuah Kesaksian BernuraniJun 25, '07 10:35 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Inu Kencana Syafiie
Menurut saya, ini penggunaan istilah yang keliru. "Undercover" menyiratkan makna bahwa penulis buku ini, Inu Kencana Syafie, menyamar sebagai bagian dari IPDN (dulu STPDN) untuk mengungkap rahasia-rahasia di baliknya. Padahal penulis memang bagian dari institusi yang ia ungkap dan lawan kebobrokannya.

Buku ini sebenarnya autobiografi, yang tadinya mau diubah oleh penerbit karena takut dipertanyakan masyarakat. Namun akhirnya dipertahankan karena kualitas tulisan yang bagus. Menurut saya itu pilihan yang bagus. Tapi bukan berarti penerbit jadi melalaikan kerja samanya dengan penulis untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Karena itulah yang saya lihat. Selain dari judul yang kacangan, suntingannya pun asal. Salah ketik masih bertebaran di mana-mana. Kisah-kisah tidak disusun agar menyampaikan inti yang saling mendukung. Ini menunjukkan bahwa penyunting tidak teliti. Atau terlalu terburu-buru mengejar tenggat penerbitan.

Dua ratus empat halaman adalah kisah kehidupan penulis. Sementara kasusnya sendiri hanya tujuh puluh halaman. Perbandingannya hampir 3:1, sehingga terlihat misi yang diemban hanyalah yang pertama. Banyak bagian yang sama sekali tidak perlu dan tidak relevan dengan misi kedua. Dengan begini, judul makin keliru.

Orang yang membaca buku ini dengan berharap mendapatkan kesaksian mendetail tentang IPDN akan kecewa. Memang ada kronologis yang lebih lengkap. Termasuk pengungkapan fakta dan kesimpulan penting seperti:

Kematian anak didik IPDN hanyalah sempalan dari kondisi di lapangan. Yang lebih mengerikan adalah kejahatan membudaya para pengasuh dan komisi disiplin yang menjadikan kasus anak didik sebagai ladang uang.

Film adegan pemukulan yang sering ditayangkan di TV-TV swasta sudah mengalami rekayasa citra. Dalam rekaman sebenarnya, setelah adegan itu para "aktor" sama-sama tertawa sambil minum dan makan roti. Karena adegan ini sendiri direkam untuk "gagah-gagahan", agar kelak mereka bisa ngomong ke para junior, "Kami aja sanggup, kenapa kamu nggak?" Namun, adegan tertawa tersebut dihapus. Lalu adegan pemukulan diberi musik latar yang seram. Jadilah tayangan yang membuat orang-orang berang.

Intinya, pemukulan memang ada. Dan sebagian besar memang mengerikan. Tetap saja, yang ditayangkan TV adalah manipulasi.

Poin-poin tersebut jadi kabur karena tertelan oleh lautan kisah tentang penulis. Kasus Cliff Muntu yang berdasarkan Pengantar Penerbit ditambahkan untuk melengkapi buku pun tidak terlihat. Penuturan kasus per kasus pun begitu.

Buku ini menjadi autobiografi yang salah kemas. Seharusnya justru dimulai dengan bagian paling akhir, yang menceritakan saat penulis diundang oleh pemilik Joger, Joseph Theodorus Wulianadi. Joseph mengajak para stafnya merenungkan kenapa mereka semua mengundang Pak Inu ke Bali, padahal banyak yang lebih terkenal.

Seseorang meneriakkan jawabannya, karena Pak Inu berani seorang diri membongkar skandal STPDN.

Joseph mengiyakan dan mengajak, "Sekarang, kita dengarkan ceramahnya. Mengapa keberanian itu muncul?"

Inilah inti buku itu. Mengapa keberanian itu muncul. Sama sekali meleset dari judul dan kemasan buku. Jangan baca karena tertarik kisah IPDN, bacalah kalau tertarik kisah seorang pemberani bernama Inu Kencana Syafiie.


Blog Entryini kah KEADILAN ?!May 14, '07 2:39 PM
for everyone

What's your opinion about this TRUE STORY...?


Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.


Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.


Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak ke hadapan saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.


Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.


Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan adzan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?


Kasus ini terjadi ketika Agung, sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah Bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.


Berita ini rupanya sampai di telinga Agung. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. "Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.


"Gue, terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.


Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Agung pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.


"Agung nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala Lapas yang ikut menemani saya mewawancarai Agung sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu, anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.


Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Agung menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Agung. Ia berhasil keluar dari penjara.


Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.


Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, Agung selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk Agung. Ia keluar penjara kedua kalinya.


Pelarian ketiganya dilakukan ala Mission Imposible. Agung yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.


Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Agung memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Agung.


Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya.


Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!


Karena itu pula pada pelarian Agung yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Agung.


Hasilnya dua hari kemudian Agung kembali lagi ke Lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.


"Ibu kepala Agung minta maaf, tapi Agung kangen sama ibu Agung.* Tulisnya singkat.


Seorang anak cerdas yang harus terkurung di penjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.


Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap Agung) pastinya saat ini anak pintar dan rajin  itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya Agung itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat.

Inikah yang namanya KEADILAN...?! Inikah cara untuk menSEJAHTERAkan rakyat...?!

 

From my cousin...dedicated then to all of my "Seniors".

 


Photo AlbumAnak2 yang Ikhlas dengan Mainannya (48 photos)May 9, '07 5:07 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ya...ROBBanaa...! Berikanlah anak2ku kekuatan jiwa & iman seperti mereka...

(source of pictures : dari yang tertinggal di computer di kamar tamu depan)


ddd
dThumbnaild
ddd
Kenapa aku bilang "anak2 yg lebih beruntung"...? Karena sicon yg harus mereka hadapi, 4JJI SWT menjanjikannya syurga & mereka menjadi syafa'at bagi ortu & keluarga/kerabatnya...

Ya...Yang Maha Agung...! Jadikanlah kami termasuk hamba-MU yg bersyukur dalam sicon apa pun...agar dapat bertemu kekasih-MU kelak...di tempat yg tidak fana...

(sumber foto : dari yg tertinggal di computer di kamar depan)


Blog EntryWWF & TB Aksara Putar "Film Panas"May 5, '07 5:17 AM
for everyone

1st Case:

Saya adalah orang tua dari dua orang anak, masing-masing duduk di TK B (5th) dan kelas 2 (7th) di sebuah sekolah TK&SD di Kemang, Jakarta Selatan. Sebagai bagian dari eks-kul, pada tgl 29 April 2007 kedua anak saya tersebut memperoleh undangan dari sekolahnya untuk mengikuti workshop lingkungan hidup yang diselenggarakan TB Aksara bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, judulnya WWF-Aksara Goes Green, maksudnya kampanye penyadaran mengenai pemanasan bumi (global warming) guna menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan hidup, serta memeliharanya sebagai sesuatu yang harus Kita pelihara demi semua yang tinggal didalamnya. Dituliskan di surat undangan bahwa kegiatan akan berupa bercerita, permainan, berdiskusi dan membuat prakarya green project, Dan untuk kegiatan ini tidak dipungut biaya sama sekali.

Sebagai orang tua kami memang sangat senang bahwa Ada kegiatan positif semacam ini, paling tidak kami berpikir hal ini akan sangat berguna bagi masa depan anak-anak kami serta bumi Kita di masa depan. Kedua anak kami pun tampak begitu bersemangat untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut, bahkan beberapa hari sebelumnya mereka sudah mengumpulkan daun-daun kering sebagai materi prakarya.

Saat Hari H, kami sekeluarga lengkap pergi ke acara tersebut dengan harapan selain memperoleh pengetahuan sekaligus hiburan positif bagi keluarga kami. Tetapi justru di sini awal bencana terjadi. Dari awal terlihat ketidaksiapan kerja panitia, acara mulur, komputer serta LCD/layar lebar tidak berfungsi dan lain-lain. Sehingga di tengah acara saat pergantian VCD penyuluhan, dimana terdapat beberapa orang dari WWF lengkap dengan seragam, petugas TB Aksara melakukan kesalahan fatal yang sangat tidak perlu terjadi apabila telah dipersiapkan sebelumnya, yaitu : memutar video porno rated XXX (maaf tidak dapat kami ceritakan di sini) yang filenya kebetulan berada di dalam komputer dan salah klik oleh petugas. Selama puluhan detik adegan tersebut ditayangkan pada layar lebar Dan lengkap disaksikan oleh guru-guru, petugas WWF Dan TB Aksara juga tentunya.. Puluhan siswa TK serta SD beserta orangtua masing-masing sampai (maaf) adegan pemeran film ejakulasi. Coba bayangkan!

Kepanikan terjadi, wajah-wajah pucat pun terlihat, ada beberapa anak yang menjerit, tapi ada pula yang bertepuktangan, dan untuk beberapa saat acara sempat terhenti. Banyak dari kami termasuk petugas (seperti telah diterka) yang terkesima dan tak berbuat sesuatu, sampai salah seorang petugas mencoba mematikan komputer tersebut (bila anda mengerti cara kerja kompter, pasti paham bahwa komputer memerlukan beberapa detik untuk off, alias tidak langsung mati).

Setelah kejadian tersebut, memang baik video WWF maupun video porno tidak tayang sama sekali. Setelah saling menyalahkan antara pihak WWF Dan TB Aksara, salah seorang staf TB Aksara mengumpulkan para orangtua murid seraya meminta maaf Dan menyampaikan bahwa hal ini terjadi karena "kecelakaan" tanpa didampingi oleh pihak WWF (karena menurut mereka, laptop milik salah satu staf TB Aksara serta yang mengundang adalah TB Aksara). Sampai di sini, kami memang sangat menyesalkan kejadian tersebut, dan tinggal pertanyaan dari kami sebagai salah satu orangtua murid yang hadir.

WWF sebagai sebuah organisasi dunia professional yang setiap saat tanpa henti melakukan penyuluhan Dan presentasi, apakah tidak pernah melakukan persiapan secara matang seperti layaknya apabila hendak melakukan sebuah presentasi? Misal: peralatan yang compatible (bukan alasan yang masuk akal bila hal ini dinyatakan sebagai sebuah kecelakaan seperti kata mereka, karena komputer yang Ada tidak compatible dengan DVD kata petugas sehingga harus mencari pinjaman laptop dari orang lain) padahal menurut kami ini lebih pada kelalaian petugas (atau malah faktor kesengajaan) ? Apakah mereka menganggap hal ini sepele, sehingga jawaban dari petugas (yang cukup membuat kami terkejut) yaitu tidak perlu dibahas dengan anak-anak, mari Kita berharap bahwa anak-anak tersebut tidak akan menyimpan dalam memori otak masing-masing tentang hal yang telah mereka lihat pada tayangan di layar lebar tersebut? Coba bayangkan apabila para petugas tersebut berada pada posisi kami, yaitu memiliki anak di bawah umur (5 Dan 7 tahun) yang kedapatan menonton film porno, apa kira-kira reaksi anda? Presentasi penyuluhan yang disampaikan bagi siswa-siswi SD yang menggunakan bahasa Inggris secara penuh tanpa sepatah katapun bahasa Indonesia lengkap dengan istilah-istilah ilmiah, yang membuat banyak siswa tidak mendengarkansama sekali Dan mengerjakan hal lain karena mungkin menurut penceramah "lebih gaya" (padahal mereka orang asli Indonesia, menurut tebakan saya) serta tidak perlu memperhatikan yang tidak gaya karena tidak dapat berbahasa Inggris?

Saat kami pancing anak kami menceritakan pendapat tentang acara WWF Dan TB Aksara, anak kami yang kecil cuma berkomentar bahwa ada seorang perempuan tanpa busana yang (maaf) mukanya penuh ingus. Bagaimana cara menjelaskan kepada anak-anak kami? Bagaimana mengatasi hal ini baik dari sisi pendidikan, psikologi, hukum, dll?

Mohon kiranya bantuan serta perhatian dari yang berwenang : WWF, TB Aksara, para pakar pendidikan, pakar psikolog anak, pihak berwajib/kepolisian, hukum para orangtua Dan yang berkepentingan bagaimanakah hal ini bisa dihindari dan menanggulangi bersama? World Wildlife bukan berarti hidup liar dan pergaulan bebas kan? Global warming tidak sama dengan film Bumi makin panas kan?

Edi Tjahyono
Jalan Mesjid 12 Cawang
Jakarta Timur 13630

Katanya, surat di atas sudah dikirimkan ke berbagai kolom surat pembaca di beberapa media cetak.

 

2nd Case:

Dear all, 

Ini benar2 terjadi kepada anak2 teman sekolah anakku Sasha dan Andini. Kita masih dilindungi Allah karena hari itu saya diare berat sehingga tidak bisa hadir di acara yang sebelumnya menurut kami sangat baik untuk anak2 mungkin untuk kita.

Tapi bencana terjadi… yaitu adanya film porno oral sex sampai ejakulasi… edan memang… Sementara di Indonesia sedang digalakkkan larangan pronografi dan pornoaksi.

Sayangnya saat itu tidak ada yang mengerti benar tentang IT and multi media sehingga tidak bisa membantah alas an dari WWF dan Toko Buku Aksara tersebut yang meng kambing hitamkan laptop personil pegawai Aksara yang berisi film porno. Tetapi setelah dicek dan dibuka2 tuh laptop ternyata film porno yang tadi diputar tidak ada, kalau film porno lainnya sih memang ada.

Yang mereka bawa itu DVD player, tapi karena apa sehingga tidak bisa dipakai lalu cari2 laptop disana. 

Dan saya masih berasumsi yang dibawa mereka 3 CD untuk 3 film, tapi CD ke 2 yang dimasukkan ke laptop saat itu pasti CD BF karena waktu CD dimasukkan pasti… langsung auto play dan terlihat langsung di layer lebar… plus speaker surround… suara terdengar…

Anda2 bisa bayangkan seperti apa dan bagaimana perasaan orang tua saat itu dan sekarang. Dan bagaimana kejiwaan anak2 itu nantinya…

Sementara sekarang si pelaku perusak kejiwaan anak2 dari WWF jalan bebas diluar sana.   

Saya menghimbau… jauhkan segala urusan yang berhubungan dengan porno things di sekeliling kita untuk menjaga anak2 bangsa. Bersihkan harddisk computer anda dari hal ini … hal ini bisa terjadi pada siapa saja…

Sharing from me,

Kristina

 

AstagfiruLLOH AL-'ADZIEM...!!! Speechless pertama kali baca ini.


Blog EntryLagi, Praja IPDN Tewas Mengenaskan Apr 5, '07 1:17 AM
for everyone

JATINANGOR -- Kembali kampus 'pencetak' birokrat, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), menelan korban siswanya. Madya Praja (tingkat II) asal Sulawesi Utara, Cliff Muntu (21 tahun), Senin (2/4), pukul 21.30 WIB, tewas saat berkunjung ke barak yang menjadi tempat tinggal seniornya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari kampus IPDN, seusai mengikuti latihan drum band di kampusnya, Senin (2/4) sekitar pukul 21.30 WIB, Cliff tidak langsung pulang ke kamarnya di Barak Kalimantan Tengah. Cliff malah beranjak ke tempat tinggal seniornya, Nindya Praja (tingkat III), di Barak DKI Atas.

Di barak seniornya itulah, praja pembawa pataka dalam regu drum band IPDN itu, sempat larut dalam percakapan dengan puluhan Nindya Praja (tingkat III). Kepala Bagian Pengasuhan Praja IPDN, Ilhami Bisri, menyatakan, tidak lama berbincang dengan seniornya, Cliff langsung pingsan. Melihat kondisi Cliff, kata Ilhami, seniornya langsung membawanya ke lantai dua untuk diobati. Karena tetap tidak sadar, akhirnya Cliff dilarikan ke Rumah Sakit Al Islam, Kota Bandung, sekitar pukul 23.40 WIB.

Setibanya di RS Al Islam, Dokter Jaga setempat, dr Beni Benardi, menyatakan Cliff telah meninggal dunia. Beni sama sekali tidak mengetahui penyebab kematian mahasiswa tingkat II tersebut. Menurut Beni, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada jenazah Cliff. Namun, berdasarkan keterangan dari keluarganya yang disampaikan oleh perwakilan IPDN, Cliff mengidap penyakit liver. ''Untuk mengetahui penyebab kematiannya, harus diotopsi di RS Hasan Sadikin Bandung,'' ujar Beni di RS Al Islam, Rabu (3/4).

Setelah mendengar keterangan dr Beni, perwakilan dari IPDN yang juga Dosen Senior, Prof Dr Lexi Giroth, tidak langsung membawa jenazah Clif ke RS Hasan Sadikin. Jenazah Cliff didiamkan di RS Al Islam selama delapan jam lebih. Jenazah Cliff baru dialihkan ke RS Hasan Sadikin untuk diotopsi sekitar pukul 08.40 WIB. Itu pun, atas permintaan langsung dari Kapolres Sumedang, AKBP Syamsul Bahri.

''Kita tetap akan selidiki di balik kematian mahasiswa IPDN tersebut,'' katanya. Hingga Selasa (3/4) sore, jenazah Cliff masih dalam proses otopsi di RS Hasan Sadikin. Namun, pada bantal peti jenazah Cliff, terlihat tetesan darah dari kepala jenazah. Bahkan, ke dua pipi jenazah Cliff tampak lebam.

Harus bertanggung jawab
Mendagri ad interim, Widodo AS, mengaku belum mendapatkan laporan kejadian itu. ''Saya belum dengar, saya minta laporan dulu,'' katanya. Menurut Widodo, tewasnya praja IPDN itu terjadi untuk kali kedua itu tak lepas dari pembinaan sekolah milik Departemen Dalam Negeri itu. ''Ada otoritas pembina yang harus bertanggung jawab,'' tegasnya.

 

Lima Praja Senior IPDN Akui Aniaya Cliff Muntu

Jakarta-RoL-- Lima praja dari 10 praja senior Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN ) yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Praja Madya Cliff Muntu (21) pada Senin (2/4) tengah malam, mengakui melakukan pemukulan.

"Awalnya kami memang memeriksa 18 praja dan dua dari pihak Rektorat IPDN, namun dari hasil olah TKP 10 praja diantaranya diduga melakukan penganiayaan di Barak DKI, namun dari hasil pemeriksaan lebih intensif lima orang praja Nindya itu mengakui telah menganiaya Cliff Muntu," kata Kapolres Sumedang AKBP Syamsul Bahri dalam keterangan persnya di Maporles Sumedang, Rabu sore.

Kapolres mengatakan, selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Mapolres Sumedang, namun demikian pihaknya belum melakukan penahaan terhadap kelima praja tersebut dengan berbagai pertimbangan.

Adapun kelima praja Nindya dari kelompok Pataka yang sudah mengakui perbuatannya itu, yakni berinisial FN, JA, GM, AB dan MA. "Kelima praja itu masih dalam penyidikan dengan status sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian Cliff Muntu," kata Kapolres.

Kapolres mengatakan, bahwa sebenarnya ada 10 praja yang diduga tersangka, namun sampai hari Rabu sore baru lima praja yang mengakui perbuatannya, sehingga ditetapkan sebagai tersangka utama.

"Kurang dari 1 X 24 jam kami sudah menetapkan secara resmi lima tersangka dari 10 praja yang kami periksa secara marathon sejak Selasa hingga Rabu dinihari tadi," kata Kapolres yang mengaku tidak sempat istirahat sejak peristiwa kematian praja IPDN pada Senin (2/4) tengah malam.

Kronologi
Sementara itu Mendagri ad interim Widodo AS menegaskan, jajaran Depdagri dibantu kepolisian bertekad segera menuntaskan pemeriksaan kasus meninggalnya Cliff Muntu.
Kepada wartawan di Kantor Presiden Jakarta, Rabu, Widod AS yang juga Menko Polkam mengatakan, ada dua langkah penting yang dilakukan yaitu otopsi dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi menyatakan, "Hasil sementara mengindikasikan adanya tindak kekerasan. Dari sekian banyak siswa yang terlibat, sudah kita temukan pelakunya."

Seusai rapat koordinasi di Kantor Menko Polhukkam Jakarta, Rabu, ia mengatakan, ada sekitar 10 orang yang terlibat dalam kasus tersebut dan mereka seluruhnya dari angkatan 16 dan sekarang di tingkat 3.

Para pelaku itu, katanya lagi, akan diberi sanksi yang sesuai dengan tindak kekerasan pelanggaran berat yang telah mereka lakukan, yakni pemberhentian tidak hormat sebagai praja.

Nyoman mengatakan bahwa di IPDN sebenarnya telah dilakukan format struktur prosedur yang telah sesuai dengan keputusan Mendagri dan kebijakan pimpinan yang melekat dengan praja.

"Terus terang saja kita kecolongan. Mereka secara pribadi-pribadi melakukan kegiatan di luar jam yang telah ditentukan IPDN, yakni di atas jam 22.00 WIB. Ini ilegal dan tidak ada yang melaporkan kegiatan tersebut," katanya lagi.

Mengenai kronologi peristiwanya, Nyoman menjelaskan bahwa dari hasil penyelidikan sementara diketahui bahwa kegiatan pataka pembinaan oleh senior kepada siswa tingkat 2 itu dilakukan pukul 22.30 WIB.

Dalam "pembinaan" itu akhirnya terjadi kecelakaan dimana Cliff Muntu jatuh pingsan ditempat. Selanjutnya oleh pihak kelompok praja, Cliff dilarikan ke Rumah Sakit Islam, tetapi dokter mengatakan bahwa Cliff tidak tertolong lagi
Atas kejadian tersebut, Nyoman mengatakan, akan dibentuk tim investigasi yang beranggotakan Inspektorat Jenderal Depdagri, Sekjen Depdagri, Biro Kepegawaian, Kepala Badan Diklat Depdagri dengan Lembaga IPDN, sesuai instruksi Mendagri ad interim Widodo AS.

Nyoman juga mengatakan bahwa Mendagri ad Interim meminta pihak IPDN melakukan perubahan di bidang pengasuhan yang signifikan atas kejadian tersebut.

Sementara untuk bidang kognitif, pengajaran keterampilan, pelatihan, menurutnya telah dilakukan sesuai ketentuan.

Nyoman menambahkan, sesuai dengan Instruksi Mendagri No 1/2003 dan instruksi No 2/2003, kegiatan praja dan pembinaan senior ke yunior sudah tidak boleh dilakukan lagi dan setiap bentuk kekerasan juga telah dilarang.


LinkInfo PalestineMar 12, '07 10:57 AM
for everyone

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help