Bunda's posts with tag: da'wah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag da'wah
Blog EntryAku Setuju dengan Opini si-PengecutApr 22, '08 10:05 PM
for everyone
Hampir 2 tahun terakhir ini, aku sering dapat anonymous letter dari anonymous persons (baca: manusia2 pengecut). Kenapa aku bilang begitu? Karena mereka hanya berani mengkritik, menasehati & menghujat tanpa mau diketahui identitasnya.

Dan kenapa aku yakin dengan kata "mereka"? Bisa saja kan sebenarnya hanya satu orang saja yang begitu? Ya...aku hanya melihat berdasarkan perbedaan gaya tulisan & batas2 kesopanan di tulisan2 mereka.

Anonymous letter itu dikirim via personal message ke Multiply & Friendster-ku, juga via email. Hampir semua isinya taushiyah. Hanya 2 messages yang isinya menghujat & mengobok-obok urusan keluargaku. Apa pun isi messages/email dari pengecut2 itu, aku ingat pesan Bunda-ku yang gigih & tangguh menghadapi kritikan siapa saja.

"Terima lah nasehat,
walau itu dari mulut seekor anjing sekali pun."


Maaf buat yang kurang berkenan. Tapi maksud beliau, seburuk2nya manusia di mata manusia, jika dia menilai kita...anggap itu sebagai kursus kepribadian gratis. Banyak orang berani bayar mahal untuk meningkatkan kualitas kepribadiannya.

Awal tahun ini, aku punya fans gelap baru di Friendster-ku, nama samarannya Holy. Isi message-nya memang taushiyyah dengan bahasa manusia yang sudah ter-tarbiyah dengan mustawa tinggi. Tapi Mr.Holy ini terlalu dalam mencampuri urusan keluargaku. Sekali...aku reply message-nya dengan mengucapkan terima kasih atas nasehat2nya. Ternyata itu membuatnya makin besar kepala, dengan terus mengirimkan nasehat2 lainnya yang nggak lupa disertai dengan menyebut2 masalah keluargaku. belum sempat aku reply message-nya yang ke-2, aku jadi apatis begitu lihat namanya.

Pertengahan Maret tahun ini, dia mengirimkan pesan bukan via personal message lagi. Tapi via comment, masih di Friendster-ku. Karena Mr.Holy  ini bukan salah satu contact-ku, jadi harus aku approve/reject terlebih dulu sebelum ter-published di tampilan Friendster-ku. Selesai baca testimony-nya...aku sangat2 sependapat dengan si-Pengecut ini. Tapi di sisi lain, aku sangat membenci sikapnya.

Tanpa memperpanjang keraguanku, ingat pesan Bunda-ku ke anak2nya, aku approved semata-mata semoga testimony-nya itu bisa jadi pencerahan buat kita ummat Islam yang aktif di dunia maya.

Ini testimonial dari Mr.Holy :


assalamu'alaikum.

cuma mau ingatkan aja
^_^


kumohon bagi yang mempunyai...
bagi yang memiliki....
bagi yang melihat....
bagi yang berminat....

FOTO ORANG PAKE BOM DI BADANNYA
ATAU SEJENISNYA...
DITAMBAH BESERTA ATRIBUT ISLAM...

tolong di tolong di pertimbangkan lagi,
klo bisa dihapus.

seakan islam mengajarkan hal itu,

padahal...

islam sangat menentang hal ini,
dan sangat menentang akan hal ini
dan sangat menentang akan hal ini,

semangat dakwah bukan dengan seperti ini,
bukan dengan menunjukkan hal hal rusak.

minfadhlik ya saudaraku,

kutakutkan..
dakwah islam terhambat..
terfitnah...
tersisihkan...
terintimidasi...

karena kebodohan beberapa golongan.

ya Allah,
cukup sudah kesusahan dakwah agamaMu ini,
mudahkan ya Allah,
agar kami bisa menjalankan syariatMu yang sahih

yang benar dari Allah,
yang salah dari syaitan dan kebodohan ana.
Allahu'alam

kritik dan pesan selalu terbuka.


Yang punya ID di Friendster, bisa baca di sini.

Aku setuju banget dengan opini yang disampaikannya itu, seperti gambar2 di bawah ini yang sering dijadikan headshot di Multiply, Friendster, atau blog2 lainnya.

Memang hak kita untuk menampilkan headshot sesuka kita, seperti headshot-ku yang narcist itu yang juga mengundang kontra dari beberapa fans gelapku. Dan semoga opini dari Mr.Holy bisa jadi pertimbangan untuk semangat jihad kita, yang bukan hanya di medan perang...apalagi kita hanya bisa menampilkan gambar2 tersebut tanpa ada aksi yang lebih kongkrit, yang akhirnya hanya menimbulkan fitnah untuk Islam.

Aku yakin, Muslim yang membaca journal-ku ini sudah faham bahwa kita bisa berjihad di mana saja. Di dunia sastra seperti Mbak Helvy, Mbak Asma, Teh Pipit, Mbak Afifah Afra, dll. Atau mencerdaskan ummat di bidang penulisan seperti Mas Jonru, dkk. Untuk seorang pelajar/mahasiswa pun, perginya dalam menuntut ilmu termasuk jihad...yang kalau mereka dipanggil-NYA saat menuntut ilmu bisa dikategorikan mati syahid. Dan aku sebagai seorang perempuan yang nggak bisa apa2...cukup berpegang dengan kalimat "Jihadnya seorang wanita adalah melahirkan".

Slogan-ku pribadi, kita boleh berbeda pendapat...asal ukhuwwah tetap terjaga. Mohon maaf sebesar2nya untuk sahabat2ku yang nggak berkenan dengan journal-ku ini.

JazaakumuLLOHU wa khoirul jazaa' untuk Mr.Holy.



Glossaries of Islamic Terms (for my non-Muslim readers) :
~ taushiyah (nasehat)
~ tarbiyah (proses pengembangan dan bimbingan, meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat)
~ mustawa (level tarbiyah)
~ jihad (berjuang atau berusaha dengan keras & nggak harus berarti perang dalam makna fisik)
~ mati syahid (kematian pada saat berjuang keras, sehingga kematiannya itu menjadi saksi atas kegigihan usahanya & itu sebuah taruhan dari kehormatannya dalam perjuangannya)
~ ukhuwwah (persaudaraan)
~ jazakumuLLOHU wa khoirul jazaa' (ucapan terima kasih yang lebih bermakna & mengandung do'a, yang artinya "semoga ALLOH membalasmu dengan balasan yang lebih baik lagi")



Blog EntryUstadz KomersilSep 25, '07 3:34 AM
for everyone

Dalam sebuah perbincangan, seorang teman bercerita tentang kisah tragis perayaan ulang tahun kabupaten Banjarnegara, yang gagal mendatangkan seorang ustadz terkenal dan menggantinya dengan seorang penyanyi dangdut asal Jawa Timur yang terkenal dengan goyang ngebornya. Kisah dimulai ketika bupati kabupaten tersebut secara personal menghubungi ustadz terkenal itu. Saat tiba giliran penentuan "tarif panggung"-nya, sang ustadz meminta bapak bupati menghubungi pihak manajemen ustadz tersebut. Tanpa dinyana-nyana, pihak manajemen menyebut angka yang "lumayan memberatkan" panitia penyelenggara, 15 juta rupiah !

Setelah melangsungkan rapat besar, pihak panitia acara membatalkan rencana untuk mengundang ustadz tersebut dan berusaha mencari penggantinya. Beberapa pihak yang "kurang setuju" dengan acara relijius mengusulkan untuk mengundang seorang penyanyi dangdut yang dahulu pernah menghebohkan Indonesia dengan goyang ngebornya, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya). Pihak panitia kemudian mengontak mbak Mawar, "Mbak, kami mau mengadakan acara ulang tahun kabupaten. Mohon bantuannya, untuk menghibur masyarakat. Akan tetapi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena dana yang kami sediakan untuk mbak Mawar tidak sebesar tarif mbak saat manggung di ibukota."

Mbak Mawar pun menjawab, "Walah, pak. Ndak papa. Yang penting saya datang selamat, pulang pun selamat. Masalah biaya, nggak usah dipikir. Anggap aja ini shodaqoh saya untuk panitia dan masyarakat !" Demikian, dan jadilah seluruh wilayah kabupaten "bocor total" karena di-"bor" seharian oleh penyanyi tadi.

Masih kisah yang hampir serupa, saat sebuah organisasi Islam di Jogja gelagepan dan kebingungan saat dihadapkan pada berlembar-lembar SOP (Standard Operational Procedure) dari seorang ustadz kondang asal Jawa Barat yang akan diundang ke kota Yogyakarta. Pihak manajemen ustadz tersebut menulis berbagai macam syarat yang luar biasa banyak dengan sebuah alasan "profesionalisme da'wah". Tidak tanggung-tanggung, pihak manajemen menyebutkan standard merk hotel, standard pelayanan hotel (bintang tiga ke atas), standard merk sound system, LCD, transportasi, dan berbagai macam perlengkapan yang sudah jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Seketika itu juga, organisasi tersebut langsung berpikir 500 kali untuk menghadirkan sang ustadz dan akhirnya membatalkan rencana tersebut.

Kisah yang lain, seorang ustadz terkenal, yang kerap bicara lantang tentang shodaqoh, juga berlaku serupa pada sebuah lembaga amal di Jogja yang ingin mengundangnya berceramah. Pihak manajemen menyebut harga dan standard akomodasi yang diinginkan oleh ustadz, yang lumayan mewah untuk ukuran orang-orang Jakarta . Akhirnya acara tersebut batal, hanya karena permasalahan harga dan akomodasi yang nggak cocok dengan persyaratan manajemen.

Fenomena ustadz yang "ngartis" ini sesungguhnya menjadi keprihatinan yang harus segera disikapi oleh kaum muslimin. Dalam sejarah Indonesia, pernah ada seorang ustadz "sejuta ummat" yang dahulu sangat populer dan menerapkan "tarif" saat manggung. Tak beda dengan kelompok band dan penyanyi dangdut, ustadz ini juga punya pihak manajemen yang dengan berani menyebut "tarif panggung" saat pihak pengundang bertanya. Namun yang sangat mengherankan, saat ustadz tersebut ditanya oleh media massa atau infotainment, dengan sangat "tawadhu'" ustadz tadi berkata, "Ah, saya tidak menentukan tarif koq ! Da'wah itu harus ikhlas, bla….bla…..bla….bla !"

Fenomena ini semakin parah dengan peran media massa yang ikut menaikkan tarif ustadz-ustadz komersil ini. Saat sang ustadz menjadi primadona layar kaca, pihak manajemen akan memberikan tarif dengan bandingan perolehan mereka saat dikontrak untuk berceramah di televisi nasional. Dan inilah yang kemudian membelokkan da'wah mereka dari da'wah ilallah (da'wah kepada Allah) menjadi da'wah ila al-maal (da'wah kepada harta), alias kalau nggak ada duit yang nggak usah ngundang ceramah.

Berkaca dari ulama' mujahid dan para masyaikh da'wah, kepandaian mereka dan dedikasi mereka untuk Islam sesungguhnya lebih layak untuk dihargai mahal, daripada ustadz-ustadz komersil ini. Ilmu mereka, keikhlasan mereka, dan sikap mereka yang luar biasa rendah hati sangat jauh bila dibandingkan dengan para ustadz komersil ini. Bayangkan, seorang syaikh Yusuf Qardhawi misalnya, telah mengarang lebih dari 300 judul kitab Islam dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Kitab yang terkenal, "Fiqh Zakat", bahkan mendapatkan pujian yang bertubi-tubi dari para ulama' kibar (ulama' besar) Arab Saudi, seperti syaikh Bin Baaz, karena kecemerlangannya. Syaikh Shalih Fauzan bin Fauzan atau syaikh Utsaimin, ulama' Arab Saudi yang kondang di seantero jagad, tidak pernah kemudian bersikap seperti para ustadz komersil ini meskipun mereka menjadi dosen terbang di universitas Islam di seluruh dunia. Karya-karya mereka, bahkan bebas untuk disebarluaskan karena mereka memahami bahwa ilmu yang mereka sebarluaskan pada hakikatnya adalah ilmu dari Allah SWT. Andaikan sistem royalti diterapkan pada seluruh karya mereka, tentu mereka bisa hidup sangat berkecukupan. Bahkan mungkin karya J.K. Rowling dengan Harry Potter-nya bisa dikalahkan. Namun hal ini tidak mereka lakukan dan mereka tetap bersikap sebagaimana kedalaman ilmu mereka. Mereka memiliki ma'isyah (pendapatan) dari bisnis mereka, bukan dari "bayaran" atas da'wah mereka.

Di Indonesia, ustadz-ustadz mujahid ini sebenarnya cukup banyak, namun mereka tidak terlalu dikenal karena memang mereka menghindari popularitas berlebihan dari media massa . Masyarakat pun sebenarnya mengenal mereka, tapi lebih menganggap mereka sebagai ustadz lokal atau ustadz kampung, hanya karena wajah mereka belum nongol di televisi. Mereka tidak menyebutnya sebagai ustadz nasional karena wajah mereka tidak pernah kelihatan di layar kaca. Padahal, untuk urusan ceramah dan jam terbang, ustadz-ustadz ini bahkan sering juga diundang ke luar negri. Ustadz-ustadz mujahid ini sudah mengalami pengalaman rohani dan fisik yang jauh lebih berat daripada ustadz-ustadz komersil yang sering nangkring di layar kaca, sebutlah misalnya penangkapan, penjara, penyiksaan fisik, membela kaum muslimin di daerah konflik, diboikot oleh pemerintah, diancam dan diteror, dan sebagainya. Ketidakpopuleran mereka dan sikap teguh mereka dalam berislam, bukan dalam mengikuti keinginan pasar dan media massa , mendapatkan tempat di dalam hati sebagian kaum muslimin. Bahkan seorang ustadz yang saat ini menjadi ketua sebuah lembaga tertinggi negara menolak untuk tidur di hotel dan memilih menginap di rumah seorang panitia acara. Tidurnya pun hanya di ruang tamu saja. Hal ini memberikan pengalaman ruhiyah yang menancap cukup kuat di hati para panitia sekaligus memunculkan rasa rindu kepada sebuah "figur yang tidak komersil atas da'wahnya".

Keprihatinan dan sikap kritis terhadap hal ini harus senantiasa dijaga. Sesungguhnya Islam tidak sekedar perbincangan ringan yang muncul saat Ramadhan tiba saja. Islam bukanlah sebuah agama yang dengan sangat mudahnya menjadi skrip dan naskah shoting, kemudian diucapkan dengan syahdu dan berakhir dengan segepok uang sebagai imbal balik dari deklamasi sang ustadz di depan kamera. Meskipun da'wah dengan televisi dan tokoh masyarakat yang populis dibutuhkan, namun jalannya harus dijaga agar Islam tidak mudah menjadi komoditas bisnis yang bisa diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan pasar dan keinginan pemilik modal. Tanggung jawab ini tentu terletak pada organisasi-organisa si Islam tingkat nasional, yang memiliki nilai tawar terhadap pemerintah dan tentu pihak manajemen dari para ustadz komersil ini. Apa gunanya dewan fatwa MUI, Muhammadiyyah atau NU? Mengapa mereka tidak pernah membahas hal ini? Padahal masyarakat sangat membutuhkan siraman rohani meskipun kemampuan ekonomi mereka tidak selalu cukup untuk mendatangkan ustadz-ustadz ibukota (meminjam istilah "artis ibukota"). Kalau kemudian semua penyanyi dangdut bersikap seperti mbak Mawar (dalam cerita sebelumnya), tentulah nilai-nilai "ngebor dan goyang kayang" lebih menancap di dalam hati daripada nilai-nilai "keajaiban shodaqoh". Kalau saja semua band bersikap sebagaimana mbak Mawar, tentu "musik cadas dan nyanyian jahiliyah" lebih mengena daripada euforia "manajemen qalbu". Keikhlasan mereka (mbak Mawar dan kawan-kawan) , dalam konteks yang keliru, menjadi benar di mata masyarakat. Profesionalitas da'wah para ustadz komersil, dalam konteks yang kurang tepat, menjadi salah di mata masyarakat. Kesalahan berimbas pada persepsi buruk dan generalisasi negatif atas konsep Islam. Sebagai hasilnya, muncul kalimat " Ah, nggak usah ngundang ustadz deh ! Ngapain, ceramah agama kayak gitu ujung-ujungnya duit juga! Udah dihakimin, divonis salah ini-itu, dikatain bid'ah, haram...akhirnya minta duit juga ke kita. Ngapain, mendingan juga ngundang artis. Sama-sama mahal, tapi hati terhibur!"

Ya. Efek negatif memang tidak selalu langsung dirasakan. Tapi saat akumulasi efek tadi menagih waktunya, tunggulah saat kehancuran da'wah. Koreksi internal memang kadang menyesakkan. Tapi ini harus dilakukan karena Islam bukanlah sebuah agama yang mudah ditukar dengan harga yang murah (baca: imbalan dan kemewahan duniawi) !

PS : Kepada para ustadz yang masih berpikir panjang menghadiri sebuah acara dengan syarat-syarat akomodasi, harga dan transport yang kurang sesuai di hati "Anda dan pihak manajemen", semoga Allah SWT membuka hati dan memberikan hidayah untuk yang kedua kalinya kepada Anda.


Blog EntryQur'anic Family of Mas Tammim & Mbak WiwikJun 20, '07 3:46 AM
for everyone


11 Amanah Alloh

1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Qur'an usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB

2. Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, Hafal Qur'an usia 1O tahun Predikat Mumtaz, Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba OlimPiade IPS tingkat SMA 2OO3

3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al-Azhar Kairo, Hafal Qur'an usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6

4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, Hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4

5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 SMA Husnul Khotimah, Hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6

6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IpA tngkat SD se Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum

7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, Hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya

8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, Hafal 25 Juz

9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, Hafal 2 Juz

10. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun, Hafal 1 Juz

11. Hasna, wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6

 

Tips

- Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat

- Jangan terlalu mengandalkan sekolah. 2/3 keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah

- Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu ->

   *Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri. Ayah idaman dalam Al Quran = Luqman. Ibrahim mentarbiyah anak dan istrinya.

- Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu ->

   *Imam Syafi'i ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu.
   *Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah.
   *Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun.

 

- Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya ->

  *Perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll
  *File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dan lain lain
  *Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4OOO buku di rumah

 

- Visi yang ada di kepala kami adalah anak-anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran ->

  *Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren
  *Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi
  *Setiap hari diperdengarkan murottal
  *Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati

 

- Nasihat sang suami yang mencerminkan kekuatan visinya sebagai kepala keluarga ->
  *Bu, kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun.
  *Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita

- Tiga Fase interaksi dengan Anak menurut Imam Ali ->

   *7 tahun pertama = perlakukan ia seperti raja
      masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi

   *7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan
      Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin Disiplin

   *7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat

- Pakar mengatakan 7 s/d 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting.

  *Hafal Qurannya Al Banna 1O tahun, Qordhowi 1O tahun, Imam Syafi I 9 tahun, Imam Ahmad 7 tahun

  *Rasul menyuruh sholat di usia 7 tahun, dan bila sampai 1O tahun belum sholat maka pukullah ia

 

- Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul

- Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami

- Ba'da maghrib dan ba'da subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur'an.
  *Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.

- Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh

- Di Komplek perumahan DPR-RI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah

- Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak

- Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka

- Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol

- Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar

  *Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu

 

- Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami

- Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan

 

Jadi pengen malu...  I've 2 try being like them...!

Tapi galaknya jangan dibawa ke rapat Salimah dong, Mbak...


Blog EntrySekuntum Edelweis Untukmu, Aktivis Dakwah…May 11, '07 3:00 AM
for everyone

Sekuntum Edelweis Untukmu, Aktivis Dakwah…


”Aku ingin mundur dari wasilah da'wah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis.”

Kalimat itulah yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu mempersembahkan senyumnya setiap kali bersua denganku, tapi pagi itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum di wajahnya, seakan keputus-asaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. Ah....masih belum begitu lama, aku pun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini, saat itu pun begitu putus pengharapanku hingga aku pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan seperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktivitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama denganku, kepingan & kepingan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata Putus Asa.

Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktivitas yang berulang-ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.

Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Alloh SWT, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur, begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita dan DIA senantiasa menyediakan telinga-Nya untuk kita.

Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai keluh untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.

Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.

~BUNDA ATHIRA~

 

Assalaamu'alaikum, wahai Du'aat...

Tulisan di atas pernah aku buat & slalu kuhadiahkan buat sahabat2ku yg sedang futhur, begitu dulu aku menyebutnya...krn memang istilah itu sudah biasa diberikan buat para Mujahid Da'wah yang sebenernya kita nggak subjective menilai apa yang sedang dialaminya.

Sekarang...teman-teman yang dulu mengangkat slogan "satu bagian tubuh yang sakit, seluruh anggota tubuh ikut merasakannya", memberikan predikat futhur ini kepadaku. Nggak sedikit dari mereka yang meminta, bahkan menyuruh, aku supaya diruqyah. Mereka hanya menilai dari vacum-nya aku tiba2 dalam semua aktifitas da'wah-ku, bukan dari beban mental yang sudah puluhan tahun aku simpan rapi dan meledak tahun lalu.

Apa kalian ada yang peduli? NGGAK...! Nggak satu pun...termasuk suamiku, yang selama ini sangat aku banggakan aktifitas da'wah-nya di luar rumah...yang di mataku, beliau orang yang tanpa pamrih dalam berda'wah..."Hidup-mati nya hanya untuk DA'WAH". Tapi...beliau lupa...kalau aku dan anak-anak kami adalah juga bagian dari ummat.

Apa aku salah kalau ada saat2 di mana aku butuh didengar...butuh menjadi manusia biasa yang bisa mengeluarkan apa isi hati ini...apa beban yang selama ini aku simpan? Ya...sepertinya aku salah! Karena, buat semua kader da'wah, termasuk Murobbiyah-ku...ternyata memang aku yang salah seperti beliau & suamiku bilang "bukan saatnya untuk sibuk mikirin diri sendiri...berjuta masalah ummat di depan mata". Tapi...kalau Sang Da'i sendiri sakit jiwa-nya...apa bisa dia menyelesaikan masalah ummat?

Aku bukan mau bersibuk-ria dengan urusan pribadiku. Seluruh anggota keluargaku & teman2ku dulu juga tau, aku bukan type orang seperti itu. Tapi...bayangan buruk masa kecilku plus beban mental yang nggak pernah lepas dari diri ini, selalu datang tiba2...parahnya pada saat setiap aku sedang ada di medan yang dulu aku banggakan.

Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas da'wah...yang dulu aku slalu merasa kurang dengan waktu yang sudah ditetapkan-NYA, cuma 24 jam! Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas...di mana dulu Bunda-ku juga menuntut supaya aku bisa adil membagi waktu dengan bisnis. Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas...di mana aku bisa menyalurkan energi ini untuk ummat-NYA. Bukannya aku nggak rindu dengan aktifitas...di mana aku ready 24 hours untuk da'wah, bahkan walau hanya untuk mendengarkan curhat para kader, atau cuma supir siap pakai.

Tapi...kerinduanku sirna...jika aku ingat sikap orang2 yang dulu aku sebut sebagai "teman seperjuangan". Setiap ada yang menawarkan diri untuk mendengarkan...ternyata apa yang keluar dari hati ini jadi boomerang buat aku. Aku lagi yang salah...aku lagi yang biadab...aku lagi yang hina.

Dan parahnya, kenapa orang2 yang sudah tinggi musthawa-nya...justru yang membunuh aku di belakangku. Selalu ini yang aku hadapi dari pertama kali aku hijrah untuk menutup aurat. Apa mereka dihalalkan untuk mempublikasikan aib orang yang sudah berusaha untuk percaya dengannya? Apa karena mereka sudah terlalu yakin dengan "syurga di depan mata"...sehingga mereka menganggap itu bukan bagian dari dosa? Dan hal-hal manusiawi buat kami yang masih ecek2 adalah sebuah dosa besar & patut dipublikasikan dengan dalih sample untuk taushiyah...?

Begitu juga sahabat perempuanku satu2nya sepanjang hidupku...di mana tadinya aku bisa share masalah yang sangat pribadi sekalipun...orang yang bukan hanya dekat dengan keluargaku tapi juga faham aib keluargaku. Kenapa pada saat kondisi aku sekarang yang benar2 butuh seseorang yang mau meminjamkan hati & telinganya, justru mengkhianatiku dengan menyebarkan semua yang keluar dari hati ini dengan cara mengadu-domba semuanya...termasuk aku & suamiku...aku & Bundaku...aku & adikku...aku & sahabat2ku lainnya.

Apa sebenarnya rencana-MU ya, ROBB...? Aku nggak sanggup... Aku hanya butuh didenger...aku hanya butuh dibela...

Aku nggak butuh anggota dewan dan petinggi2 partai yang diserahkan suamiku & orangtuaku untuk meringankan bebanku. Aku hanya butuh hati manusia biasa...yang mau mendengarkan aku, manusia yang hina ini.

Dan aku rasa...aku juga nggak butuh dokter...karena aku selalu merasa kuat pada saat demo & long-march di bawah terik mentari, pada saat jadi panitia ini-itu, pada saat aku tidur cuma 2 jam s'hari, pada saat aku seperti terbang menembus macetnya Jakarta dari DPD ke DPP ke Kalibata...bolak-balik...dalam sehari.

Sekarang..."hadiah" di atas yang sering aku persembahkan untuk teman2ku dulu...juz a bullshit...! Ternyata...aku bukan "Edelweis"... Tapi aku masih ingin jadi "MEntari"...yang sudah menjadi sunnatuLLOH, ada kalanya terbit & tenggelam...untuk terbit lagi esok hari.

 

...'afwan...speechless lagi...

Aku sadar...dengan nekad posted tulisan ini...aku akan kehilangan teman lagi. Mungkin itu lebih baik daripada aku harus disalahkan lagi...&...lagi. Semua ini juga untuk menjawab beberapa question seperti "Bunda Athira itu akhwat bukan seh?" Bukannya semua muslimah di dunia ini akhwat kita?

 


LinkYoung MuslimsMar 15, '07 9:16 AM
for everyone
Link: http://www.ymsite.com/

Mission...
The goal of Young Muslims shall be to seek the pleasure of ALLAH (SWT) by educating, training and developing the Muslim youth to be Islamic workers for Iqamat-ad-Deen in North America.

One Foundation...
Knowledge - A key element that Islam promotes and the Muslims need. This is the goal that Young Muslims works towards and helps impart to its members. Young Muslims is a growing organization of youth around North America which has been moving towards increasing the understanding and resolve of the next generation to help them successfully carry on the torch of Islam.

One Direction...
The purpose of Young Muslims is to present to its members as completely as possible the beautiful way of life that is Islam. Islam is the only institution that can safeguard humanity against the evil that has seeped into society and the world in general. Only those properly prepared can become the vanguard for Islam. Young Muslims strives to be a step in that direction.

One Tradition...
To achieve a goal, one requires a path to it. To this end, Young Muslims has developed guidelines and a curriculum through which this path can be realized. Young Muslims is dedicated to providing ample resources with an intelligent and enriching environment.

LinkHidayat Nur WahidMar 13, '07 2:37 PM
for everyone

LinkHudzaifah : UKM Islam TrisaktiMar 12, '07 6:33 AM
for everyone

Blog EntryHati BicaraFeb 20, '07 10:33 AM
for everyone

Bersama bayu menghembus...
ku kaitkan utas-utas bicara yang terhimpun di lubuk rasa
terus terlanjur mengisi kekosongan perasaan
airmata pilu luluh menghujam bumi
mengenang memori kita bersama

Takdir Illahi menjadi hakikat mengikuti perhitungan jadwal-Nya
masa kita terus berlalu pergi
menjadi kenangan yang abadi di kali sepi
membanjiri hati yang diulit mimpi

Suka duka, tangis tawa dalam paduan kenangan yang mencoret nostalgia
untuk tatapan bersama kala rindu memuncak datang menerpa
kala sunyi ditusuk hati yang lara

Mungkin rindu memberontak di pedalaman hati yang terpukau dengan sihir kenangan
lantas mengembalikan ingatan memori silam bersama paduan keceriaan yang diwarnai

Sesungguhnya kita pasrah dalam kabus reda
teruskanlah sisa-sisa perjuangan yang masih berbaki
demi mencapai kebahagiaan...

pandanglah ke hadapan untuk mencari sinar masa yang gemilang
dan tolehlah sebentar ke belakang untuk mengutip mutiara panduan dari pengalaman semalam

Aku ibarat rembulan yang gemerlapan
merindui bumi dengan cahayaku yang tulus suci
di setiap tirai malam melabuhkan kelambu kegelapan


Blog EntryKu tak ingin tekun lagi...Feb 18, '07 2:51 PM
for everyone

Tragedi menimpa lagi

Menghentak diriku sekejam mungkin

Mata berair, merah dan pedih

Meronta daku terkapai sendiri

Jiwa memberontak...luka berdarah

 

Malam yang suram

Bulan yang murung

Bertemankan bintang-bintang

Yang pudar cahaya

Pungguk pun menyepi

Irama lalu kau

Tiada lagi bahagia di malam ini

 

Ketibaan fajar

Tak dinantikan lagi

Biarlah terus malam

Yang sebenarnya malang 

 

Aku tak ingin

Tuk tekun kembali


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help