Bunda's posts with tag: empathy

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag empathy
Blog Entryini kah KEADILAN ?!May 14, '07 2:39 PM
for everyone

What's your opinion about this TRUE STORY...?


Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.


Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.


Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak ke hadapan saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.


Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.


Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan adzan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?


Kasus ini terjadi ketika Agung, sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah Bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.


Berita ini rupanya sampai di telinga Agung. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. "Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.


"Gue, terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.


Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Agung pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.


"Agung nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala Lapas yang ikut menemani saya mewawancarai Agung sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu, anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.


Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Agung menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Agung. Ia berhasil keluar dari penjara.


Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.


Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, Agung selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk Agung. Ia keluar penjara kedua kalinya.


Pelarian ketiganya dilakukan ala Mission Imposible. Agung yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.


Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Agung memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Agung.


Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya.


Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!


Karena itu pula pada pelarian Agung yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Agung.


Hasilnya dua hari kemudian Agung kembali lagi ke Lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.


"Ibu kepala Agung minta maaf, tapi Agung kangen sama ibu Agung.* Tulisnya singkat.


Seorang anak cerdas yang harus terkurung di penjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.


Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap Agung) pastinya saat ini anak pintar dan rajin  itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya Agung itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat.

Inikah yang namanya KEADILAN...?! Inikah cara untuk menSEJAHTERAkan rakyat...?!

 

From my cousin...dedicated then to all of my "Seniors".

 


Blog EntrySekuntum Edelweis Untukmu, Aktivis Dakwah…May 11, '07 3:00 AM
for everyone

Sekuntum Edelweis Untukmu, Aktivis Dakwah…


”Aku ingin mundur dari wasilah da'wah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis.”

Kalimat itulah yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu mempersembahkan senyumnya setiap kali bersua denganku, tapi pagi itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum di wajahnya, seakan keputus-asaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. Ah....masih belum begitu lama, aku pun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini, saat itu pun begitu putus pengharapanku hingga aku pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan seperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktivitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama denganku, kepingan & kepingan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata Putus Asa.

Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktivitas yang berulang-ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.

Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Alloh SWT, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur, begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita dan DIA senantiasa menyediakan telinga-Nya untuk kita.

Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai keluh untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.

Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.

~BUNDA ATHIRA~

 

Assalaamu'alaikum, wahai Du'aat...

Tulisan di atas pernah aku buat & slalu kuhadiahkan buat sahabat2ku yg sedang futhur, begitu dulu aku menyebutnya...krn memang istilah itu sudah biasa diberikan buat para Mujahid Da'wah yang sebenernya kita nggak subjective menilai apa yang sedang dialaminya.

Sekarang...teman-teman yang dulu mengangkat slogan "satu bagian tubuh yang sakit, seluruh anggota tubuh ikut merasakannya", memberikan predikat futhur ini kepadaku. Nggak sedikit dari mereka yang meminta, bahkan menyuruh, aku supaya diruqyah. Mereka hanya menilai dari vacum-nya aku tiba2 dalam semua aktifitas da'wah-ku, bukan dari beban mental yang sudah puluhan tahun aku simpan rapi dan meledak tahun lalu.

Apa kalian ada yang peduli? NGGAK...! Nggak satu pun...termasuk suamiku, yang selama ini sangat aku banggakan aktifitas da'wah-nya di luar rumah...yang di mataku, beliau orang yang tanpa pamrih dalam berda'wah..."Hidup-mati nya hanya untuk DA'WAH". Tapi...beliau lupa...kalau aku dan anak-anak kami adalah juga bagian dari ummat.

Apa aku salah kalau ada saat2 di mana aku butuh didengar...butuh menjadi manusia biasa yang bisa mengeluarkan apa isi hati ini...apa beban yang selama ini aku simpan? Ya...sepertinya aku salah! Karena, buat semua kader da'wah, termasuk Murobbiyah-ku...ternyata memang aku yang salah seperti beliau & suamiku bilang "bukan saatnya untuk sibuk mikirin diri sendiri...berjuta masalah ummat di depan mata". Tapi...kalau Sang Da'i sendiri sakit jiwa-nya...apa bisa dia menyelesaikan masalah ummat?

Aku bukan mau bersibuk-ria dengan urusan pribadiku. Seluruh anggota keluargaku & teman2ku dulu juga tau, aku bukan type orang seperti itu. Tapi...bayangan buruk masa kecilku plus beban mental yang nggak pernah lepas dari diri ini, selalu datang tiba2...parahnya pada saat setiap aku sedang ada di medan yang dulu aku banggakan.

Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas da'wah...yang dulu aku slalu merasa kurang dengan waktu yang sudah ditetapkan-NYA, cuma 24 jam! Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas...di mana dulu Bunda-ku juga menuntut supaya aku bisa adil membagi waktu dengan bisnis. Bukannya aku nggak rindu dengan segala aktifitas...di mana aku bisa menyalurkan energi ini untuk ummat-NYA. Bukannya aku nggak rindu dengan aktifitas...di mana aku ready 24 hours untuk da'wah, bahkan walau hanya untuk mendengarkan curhat para kader, atau cuma supir siap pakai.

Tapi...kerinduanku sirna...jika aku ingat sikap orang2 yang dulu aku sebut sebagai "teman seperjuangan". Setiap ada yang menawarkan diri untuk mendengarkan...ternyata apa yang keluar dari hati ini jadi boomerang buat aku. Aku lagi yang salah...aku lagi yang biadab...aku lagi yang hina.

Dan parahnya, kenapa orang2 yang sudah tinggi musthawa-nya...justru yang membunuh aku di belakangku. Selalu ini yang aku hadapi dari pertama kali aku hijrah untuk menutup aurat. Apa mereka dihalalkan untuk mempublikasikan aib orang yang sudah berusaha untuk percaya dengannya? Apa karena mereka sudah terlalu yakin dengan "syurga di depan mata"...sehingga mereka menganggap itu bukan bagian dari dosa? Dan hal-hal manusiawi buat kami yang masih ecek2 adalah sebuah dosa besar & patut dipublikasikan dengan dalih sample untuk taushiyah...?

Begitu juga sahabat perempuanku satu2nya sepanjang hidupku...di mana tadinya aku bisa share masalah yang sangat pribadi sekalipun...orang yang bukan hanya dekat dengan keluargaku tapi juga faham aib keluargaku. Kenapa pada saat kondisi aku sekarang yang benar2 butuh seseorang yang mau meminjamkan hati & telinganya, justru mengkhianatiku dengan menyebarkan semua yang keluar dari hati ini dengan cara mengadu-domba semuanya...termasuk aku & suamiku...aku & Bundaku...aku & adikku...aku & sahabat2ku lainnya.

Apa sebenarnya rencana-MU ya, ROBB...? Aku nggak sanggup... Aku hanya butuh didenger...aku hanya butuh dibela...

Aku nggak butuh anggota dewan dan petinggi2 partai yang diserahkan suamiku & orangtuaku untuk meringankan bebanku. Aku hanya butuh hati manusia biasa...yang mau mendengarkan aku, manusia yang hina ini.

Dan aku rasa...aku juga nggak butuh dokter...karena aku selalu merasa kuat pada saat demo & long-march di bawah terik mentari, pada saat jadi panitia ini-itu, pada saat aku tidur cuma 2 jam s'hari, pada saat aku seperti terbang menembus macetnya Jakarta dari DPD ke DPP ke Kalibata...bolak-balik...dalam sehari.

Sekarang..."hadiah" di atas yang sering aku persembahkan untuk teman2ku dulu...juz a bullshit...! Ternyata...aku bukan "Edelweis"... Tapi aku masih ingin jadi "MEntari"...yang sudah menjadi sunnatuLLOH, ada kalanya terbit & tenggelam...untuk terbit lagi esok hari.

 

...'afwan...speechless lagi...

Aku sadar...dengan nekad posted tulisan ini...aku akan kehilangan teman lagi. Mungkin itu lebih baik daripada aku harus disalahkan lagi...&...lagi. Semua ini juga untuk menjawab beberapa question seperti "Bunda Athira itu akhwat bukan seh?" Bukannya semua muslimah di dunia ini akhwat kita?

 


Blog EntryOperasi Bayi ZAHRA KARIMAApr 22, '07 11:59 PM
for everyone

Tadi malam kami kedatangan tamu, Pak Andi, mantan ketua organisasi yang kami juga terlibat di dalamnya. Isteri beliau, Bu Dian, pun pernah satu bidang denganku di organisasi tersebut. Mereka berdua sudah lama tidak muncul di public dikarenakan musibah yang menimpa buah hati mereka, ZAHRA KARIMA, yang akan segera dioperasi untuk ke-2 kalinya.

Berikut aku proposed kondisi kesehatan Zahra & keluarga Pak Andi. Semoga Alloh SWT memudahkan jalan untuk kesembuhan Zahra, lewat tangan teman-teman sekalian...baik berupa materi atau moril dengan do'a dan menyebarkan informasi ini ke rekan ataupun milist lainnya. Sekecil apapun bantuan yang kita berikan, sangat berarti untuk kesembuhan Zahra.

Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, jazaakumullohujaziilan, sudah meluangkan waktunya untuk ikut berempati atas musibah yang menimpa keluarga mereka. Semoga Alloh SWT senantiasa melimpahkan rohmat dan barokah-NYA untuk kita semua. Syafaahalloh, Ananda ZAHRA...

 

Tentang Pak Andi dan Keluarga

Bapak Andi Dwi Efendi adalah guru di sekolah swasta Islam di Kramat Jati, Jakarta Timur. Beliau aktifis sebuah organisasi sosial dan da'wah di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Istri beliau bernama Dian Rahmawati, yang terpaksa harus keluar dari pekerjaannya sebagai guru SD Islam swasta di Cijantung, Jakarta Timur, karena harus selalu menjaga Zahra.

Anak pasangan ini berjumlah 4 orang, yaitu 3 putri dan 1 putra. Usia ketiga anaknya dari yang tertua 8 tahun, 7 tahun dan 5 tahun. Bayi Zahra adalah anak yang ke-4. Saat ini Pak Andi dan keluarga tinggal di rumah yang sangat sederhana di Jl. Lebak Sawah No.6 Rt4 Rw2, Cijantung, Jakarta Timur. Kehidupan yang sederhana ini terasa bertambah berat dengan adanya musibah ini. Biaya operasi yang cukup besar tidak mampu ditanggung oleh keluarga ini. Rasa cinta terhadap anak bungsunya, tekad yang besar untuk menyaksikan anaknya tumbuh menjadi orang yang berguna di hari depan, serta ikhtiar untuk menjaga amanah Alloh sajalah yang membuat Pak Andi sekeluarga mencari jalan untuk dapat mengobati penyakit anaknya ini.

 

Riwayat Perjalanan Penyakit Zahra

Masalah yang dihadapi Pak Andi bermula ketika istri beliau, Bu Dian, hamil anak ke-4. Dari awal kehamilan sampai usia kandungan 37 minggu berlangsung secara normal. Pak Andi dan Bu Dian selalu memeriksakan kehamilannya secara teratur pada bidan terdekat. Pada usia kehamilan 37 minggu Bu Dian sakit diare dan mual muntah selama 2 hari. Karena khawatir maka Bu Dian memeriksakan kehamilannya ke bidan. Saat diperiksa dikatakan kondisi jantung bayi lemah. Bidan menyarankan untuk diperiksa lebih lanjut dengan USG. Menuruti saran bidan maka dilakukan USG di RS Harapan Bunda, hasilnya dikatakan denyut jantung dikatakan lemah yaitu sekitar 84 kali/menit. Dokter yang memeriksa menyarankan untuk segera dilakukan operasi caesar mengingat kondisi bayi yang lemah.

Hari itu juga, Selasa, 14 February 2006 jam 18.00 WIB dilakukan operasi caesar di RS Haji, Pondok Gede. Ketika lahir kondisi bayi Zahra sehat, denyut jantung normal, langsung menangis dan tidak biru. Kondisi ini berlangsung sampai bayi berusia 2 minggu.

Pada usia 2 minggu tersebut, Zahra batuk dan pilek tanpa disertai demam. Sehari kemudian batuk bertambah hebat disertai dahak dan terlihat sesak nafas. Zahra lalu dibawa ke dokter specialist anak untuk diperiksa. Saat itu dilakukan inhalasi dan diberi obat untuk 3 hari. Namun setelah 3 hari tidak ada perkembangan, Zahra kembali dibawa lagi ke dokter dan disarankan untuk dirawat.

Pada hari perawatan pertama, dilakukan pemeriksaan rontgen dada. Hasilnya menunjukkan adanya kecurigaan kelainan jantung yaitu posisi jantung berada di sebelah kanan. Selanjutnya dokter yang merawat menyarankan untuk dilakukan echo-cardiography. Hasilnya didapatkan kondisi jantung yang hanya mempunyai satu serambi. Untuk lebih memastikan lagi, maka dilakukan echo-cardiography di RSCM. Hasilnya menguatkan diagnosis dari echo-cardiography sebelumnya. Dokter di RSCM menyarankan untuk dilakukan tindakan operasi di RS Jantung Harapan Kita.

Team dokter RS Harapan Kita menyatakan bahwa bayi Zahra Karima harus menjalani paling tidak 2 kali operasi. Operasi pertama yaitu PA Banding, untuk mengikat pembuluh darah yang menuju paru-paru, agar paru-paru tidak tergenang oleh darah. Operasi ini sudah dilakukan pada bulan May 2006 dan menghabiskan dana lebih dari 60 juta rupiah. Operasi kedua yaitu untuk memasang sekat jantung, baru akan dilakukan setelah berat badan bayi Zahra mencapai 8 kg, atau menunggu usianya paling tidak 1 tahun.

Selama masa tunggu tersebut ternyata kondisi Zahra tidak kunjung membaik. Zahra masih sering sakit, sesak nafas dan batuk. Sekarang usia Zahra sudah 7 bulan lebih. Sejak operasi yang pertama tercatat sudah 4 kali Zahra harus kembali dirawat di RSAB dan RS Jantung Harapan Kita. Team dokter RS Harapan Kita belum bisa memutuskan apakah dengan kondisi seperti itu Zahra harus menjalani operasi kedua yang dipercepat.

 

Jantung Normal dan Jantung Bayi Zahra

Jantung yang normal memiliki 2 serambi (atrium) dan 2 bilik (ventrikel) yaitu kanan dan kiri. Keempat ruang jantung ini benar-benar terpisah dan berfungsi memisahkan darah yang penuh oksigen dari paru-paru dan diedarkan ke seluruh tubuh dengan darah kotor penuh dengan carbon-dioxide dari seluruh tubuh yang siap dibersihkan di paru-paru.

Sedangkan jantung Zahra, serambi kanan dan kiri menjadi satu sehingga darah bercampur antara yang kanan dan kiri. Akibatnya tekanan darah ke paru-paru menjadi meningkat, akibatnya paru-paru tidak berfungsi secara normal dan Zahra menjadi sulit untuk bernafas. Bila hal ini dibiarkan maka kondisinya akan semakin memburuk sampai mengancam jiwa.

Rencana yang akan dilakukan oleh team dokter adalah catheterize untuk memastikan diagnosis dan perencanaan operasi, selanjutnya akan dilakukan 2 tahap operasi yaitu yang pertama mengikat pembuluh darah jantung yang ke paru-paru (arteri pulmonalis) untuk mengurangi tekanan ke paru-paru. Tahap ke-2 adalah melakukan koreksi terhadap serambi yang satu dan posisi jantung yang berputar ke kanan. Setelah operasi Zahra harus dirawat di ruang ICCU untuk pemantauan. Perkembangan dan rencana selanjutnya tergantung kondisi kesehatan dan tahapan pengobatan yang akan dilakukan.

 

Rincian Biaya Pengobatan

Operasi Tahap I (sudah dilakukan)           : Rp 70.000.000,-
Operasi Tahap II                                     : Rp 90.000.000,-
     dengan perincian sbb                         :
     • Catheterize                                       Rp  5.000.000,-
     • Obat-obatan & persiapan operasi        Rp  5.000.000,-
     • Estimasi biaya perawatan di ICCU      Rp 15.000.000,-
     • Operasi                                            Rp 60.000.000,-
     • Pasca operasi                                   Rp  5.000.000,-

 

Rekening Donasi

  • Bank BCA Depok a/n Andi Dwi Efendi SPT (No.Rek. 4212261151)
  • Bank Mandiri cabang Pasar Rebo a/n Oke Setiadi (No.Rek. 1290004602856)

 

Contact Person

  • Bapak Andi Dwi Efendi     Tlp: 021-87782673     Hp: 0812 900 3754
  • Bapak Oke Setiadi           Tlp: 021-70751083     Hp: 0815 9266 083
  • dr. Eka Ginanjar               Tlp: 021-8408793      Hp: 0811 8680 93 / 021-93056606

 

Untuk transparansi dan memudahkan pencatatan serta penyaluran, setelah transfer mohon confirmasi ke contact persons di atas dengan menyebutkan:

  • Untuk Pak Andi / Zahra
  • Jumlah donasi
  • Bank yang dituju

 

Note: Insya Alloh foto-foto Zahra selama dirawat segera menyusul.


LinkInfo PalestineMar 12, '07 10:57 AM
for everyone

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help