Bunda's posts with tag: pakistan
Link: http://www.alnoor-way.comIni project-nya my brotherz, Idham & Mamab. Wish U suxes deh...!  Belajar Bahasa Arab Via Phone "BBA V-P" bermula dari diskusi tiga orang aktivis LSM pada pertengahan tahun 2007. Ketiga orang aktivis yang masing-masing memiliki latar belakang pendidikan S2 di Islamabad-Pakistan tersebut menyadari akan tingginya minat belajar bahasa Arab dari beberapa lapisan masyarakat di Indonesia yang selama ini mereka jumpai. Tapi di sisi lain, banyak diantara kalangan peminat belajar bahasa Arab tersebut yang memiliki jadwal akivitas cukup padat, sehingga mereka kesulitan mengatur jadwal untuk menghadiri kelas-kelas bahasa Arab yang tersedia. Problem ini ditambah lagi dengan kondisi jalan-jalan di kota-kota besar yang sering mengalami kemacetan setiap hari. Pada tahun 2008 persaingan yang amat ketat antar operator telepon berimbas kepada penurunan tarif telepon sehingga lebih memudahkan masyarakat untuk menjangkau perangkat komunikasi. Hal ini kami pandang sebagai peluang emas untuk menangkap kebutuhan mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke kelas-kelas kursus konvensional agar memiliki kesempatan untuk bisa belajar bahasa Arab dengan menggunakan fasilitas komunikasi yang tersedia. Dalam jeda waktu antara pertengahan 2007 hingga awal 2008, upaya penyusunan sebuah buku panduan yang dapat menjamin keberhasilan program BBA V-P ini terus diupayakan. Hingga akhirnya ditelurkan sebuah panduan pilot project dalam bentuk buku kecil yang disusun oleh Sdr. Idham Cholid dan Sdr. Mabni Darsi dengan judul: Al-Hiwarul al-Yaumy. Buku ini telah mengalami proses editing oleh seorang pemerhati pendidikan yang berkewarganegaraan Bahrain, dan dibaca 'zauk arabiy'nya oleh salah seorang praktisi perbankan milik pemerintah di Dubai. Buku al-Hiwarul al-Yaumy juga telah mengalami proses uji coba dan berhasil dirasakan manfaatnya. Para peserta program BBA V-P telah menuliskan testimoninya. Diantaranya adalah Adik Fajar (21 th), mahasiswa IT di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, Ibu Novi (26 th) seorang Ibu Rumah Tangga, Bapak Fajar (36 th) seorang Pegawai Administrasi di sebuah LSM Nasional, dan Sdr. Maryadi (31 th) seorang pengusaha dari Cijantung. Kami mengucapkan terimakasih atas partisipasi mereka yang telah membuktikan betapa efektifnya dan efisiennya sistem belajar ini. Semangat dan pemikiran untuk terus mengembangkan sistem BBA V-P ini akan terus kami jaga dengan upaya memahami kebutuhan berbahasa Arab dari berbagai lapisan masyarakat (professional) yang memiliki minat untuk belajar bahasa Arab. Dan lebih jauh lagi, semangat itu, pemikiran dan berbagai upaya juga akan terus kami kembangkan agar berbagai lapisan masyarakat Indonesia dalam berbagai pilihan profesi yang digelutinya dapat mengekspresikan diri melalui bahasa yang kaya ini sehingga dapat meminimalisir kesalahfahaman dan menjadikan jalur komunikasi diantara umat manusia khususnya dengan warga Timur Tengah dan warga dunia pada umumnya menjadi lebih lancar sehingga terjalin hubungan yang harmonis. Woi...! Jangan lupa profit-nya, Bro...! Dah gue iklanin neh... 
Oleh: Adam Bakhtiar Ketika tulisan ini dibuat, kira-kira 30 jam setelah terbunuhnya Benazir Bhutto. Berbagai macam versi pembunuhannya telah dibuat dan dirubah, kurang lebih dari tiga kali revisi atas alur pembunuhuan sang mantan Perdana Mentri tersebut, yang mana setiap versi memicu banyak tanda tanya dan kejanggalan, versi pertama pada awal kematian Benazir setelah beberapa jam, pihak kedokteran rumah sakit mengabarkan bahwa Benazir tewas ditembak pembunuh misterius yang tidak lama kemudian meledakkan dirinya. Kemudian versi kedua; jam satu dini hari 29 December diumumkan lagi oleh pihak dokter yang menangani kasus tersebut menyatakan bahwa Benazir tewas dikarenakan benturan keras dari atap (sunroof) Land Cruisernya dan bukan oleh tembakan, demikian sebagaimana press conference dari Mentri dalam negri Pakistan Javed Iqbal Cheema. Kemudian dia menambahkan bahwa dalang dibalik semua peristiwa ini adalah Al-Qaeda, terbukti dengan hasil rekaman percakapan antara pembunuh tersebut dengan pimpinannya (sesama Teroris) sebelum terjadi suicide bomber . Ketika Jhon F Kennedy tewas terbunuh oleh tembakan peluru yang mengenai kepalanya di kota Dallas, Bertrand Russel menulis sebuah artikel berjudul Minority of One on September 6, 1964. Dimana dia mengatakan “Pernyataan resmi terhadap pembunuhan Presiden Kennedy telah menimbulkan teka teki dan penuh kontradiksi satu sama lain, dimana pernyataannya telah ditulis ulang dan direvisi lebih dari tiga kali, kebohongan nyata ini telah tersebar oleh media-media cukup luas. Akan tetapi penolakan dan sanggahan akan kebohongan tersebut tidak terpublikasian sama sekali oleh pihak media”. Russel mengajukan 16 pertanyaan kepada pihak yang berwenang, semuanya berkaitan satu sama lain meskipun tudingan russel tersebut tidak digubris sama sekali oleh pihak yang berwenang. Dan misteri pembunuhan orang nomor wahid Amerika tersebut tetap menjadi sebuah kasus terbesar yang tak kunjung terselesaikan investigasinya. Dalam kisaran dua hari setelah terbunuhnya Benazir, televisi kenamaan Amerika “Fox News” menjuluki kejadian tersebut dengan“ Pakistan’s Kennedy Murder”. Dari sini muncul pertayaan kembali, kira-kira apakah mereka tahu apa yang kita tidak tahu? Atau secara tidak langsung mereka ingin menyampaikan pesan bahwa, investigasi kejadian tersebut akan hilang begitu saja dan menguap tanpa bekas yang bisa ditelisik, sebagaimana tidak terungkapnya kasus Kennedy diatas. Beberapa saat kemudian mobil pemadam kebakaran datang ditempat kejadian perkara dan membersihkan segala sesuatunya, termasuk juga bukti-bukti yang ada di lapangan. Yang patut disayangkan adalah tidak adanya autopsi pada jenazah Benazir Bhutto sebelum di makamkan, wal hasil tidak ada yang bisa memastikan bagaimana sebab-sebab pasti Benazir terbunuh. Berbagai macam pertanyaan timbul; bagaimana meninggalnya Benazir? Siapakah pembunuhnya? Apakah disebabkan bomb? Peluru? Atap mobil? Serangan jantung? Berapa peluru yang bersarang di kepalanya? Ditembak dari belakang atau dari depan? Apakah si penembak dan pengebom satu orang yang sama? Sniperkah? Dan lainnya. Tidak ada jawaban yang pasti akan semua pertanyaan itu, dan terbukti tak seorangpun bisa menjelaskannya dengan baik. Jawabnnya telah terkubur rapat-rapat dalam Garhi Khuda Bukh. Berdasarkan undang-undang investigasi, masalah seperti ini pertanggung jawabannya dikembalikan kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini negara. Hal semacam ini tidak sepatutnya dikesampingkan, yang mana ini adalalah sebuah perintah. Negara berkewajiban untuk menuntaskan melalui penyidikan; termasuk melakukan autopsy dan melacak semua bukti-bukti kejahatan dan ini hanya bisa dilakukan oleh expert yang berpengalaman dalam bidang penyidikan kasus kriminalitas besar. Hukum juga memperkenankan penelusuran jurisprudensi kedokteran, yang disebut sebagai forensik. Terlebih lagi teknologi kedokteran saat ini sudah berkembang pesat, terutama para ahli dapat menjelaskan kepada masyarakat secara detail darimana datangnya peluru dan siapa pemilik serta dimana senjata tersebut dibeli, yang mana semua itu bisa menuntaskan seluruh misteri pembunuhan Benazir. Kalau ingin bukti, tanyakan kepada sang Presiden Musharraf akan pentingnya sebuah penyelidikan berdasarkan hasil forensik, dimana ia menjelaskan secara detil dalam potongan-potongan biografi di dalam memoir pribadinya “ In The Line Of Fire”. yang mengisahkan beberapa percobaan pembunuhan terhadap dirinya, tahukah anda bahwa sebuah percakapan yang dihasilkan dari handphone dapat mudah dilacak dan disadap? Dr Noreena Hertz dalam bukunya ‘The Silent Takeover : Global Capitalism and the Death of Democracy’ menjelaskan dengan rinci akan sejarah dan cara kerja jaringan surveillance yang disebut sebagai ECHELON, yang mempunyai kemampuan untuk menangkap serta memantau lalu lintas email dan saluran telfon rakyat Eropa. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab dalam investigasi masalah ini, adalah Kepala Staff Angkatan Darat yang baru saja dilantik menggantikan Jendral Pervez Musharraf untuk menggantikan tampuk kekuasaannya yang mau tidak mau harus menanggalkan baju militernya atas desakan semua fraksi dan rakyat Pakistan sendiri. Sebagai seorang Jendral, Kiyani tentunya sudah berpengalaman dalam melacak pembunuh, yang hanya membutuhkan sedikit petunjuk. Tapi sayangnya semua bukti dan pentunjuk untuk penyidikan sudah terlanjur disapu bersih dan dihilangkan untuk mempersulit penyidikan kasus pembunuhan Benazir yang sebetulnya. Sebagaimana ledakan sebelumnya, tepatnya 18 oktober di awal sambutan kedatangan Benazir yang menewaskan kurang lebih 140 pendukungnya, sadar akan ancaman terhadap keselamatan dirinya, Benazir telah mewanti-wanti pihak keamanan akan kurangnya penjagaan terhadap dirinya, sekaligus meminta diperketat keamanan untuknya. Sekarang dia telah mati dan tidak ada yang mempersoalkan bagaimana lengahnya penjagaan dari pihak negara untuk seorang politis besar dan disegani seperti Bhutto dan keluarga. Pernyataan mengejutkan keluar dari mulut, orang kepercayaan People Party of Pakistan, Amin Makhdoom. Yang mengatakan; “andai Benazir tidak mengeluarkan tubuhnya dari atap mobil kemungkinan besar dia masih hidup saat ini”. Dan berita terbaru ketika tulisan ini dibuat, pihak kepala kepolisian Rawalpindi menolak untuk diadakannya autopsy ( The News, December 30, 2007) dan penulis yakin bahwa pemakaman Benazir yang memakan waktu singkat itu tidak lain karena support dari pemerintah untuk menyegerakan penguburan Mantan Perdana Mentri tersebut, sebagaiman pemakaman kedua Perdana Mentri sebelumnya, Liaquat Ali Khan dan ayah Benazir, Zulfikar Ali Bhutto. Yang sama-sama terbunuh disaat masih memegang tampuk kekuasaan. Para pembesar politik pakistan termasuk rival politik Benazir, yang biasanya vokal dalam berbicara kini setelah kematiannya diam seribu bahasa, hanya seorang Nawas Sharif lah yang masih bersuara keras menutut pemerintah Pakistan agar mewujudkan apa yang selama ini menjadi cita-cita Benazir dan segenap rakyat Pakistan pada umumya, yaitu membuka jalannya demokrasi yang adil dan bebas. Nawas Sharif juga meminta Presiden Pervez Musharraf mundur dari jabatannya sebagai Presiden, dikarenakan tidak ada seorang pun pemimpin Pakistan yang pernah mengundurkan dirinya secara terhormat dan gentle, dan inilah saat-saat menekan Presiden mundur dari jabatannya, demikian seloroh Nawas Sharif di sela-sela jumpa pers. Satu hal lagi yang patut diperhatikan, sejak pembunuhan Liaquat Ali Khan sampai Murtaza Bhutto ( saudara laki-laki Benazir Bhutto) tidak siapapun yang mampu mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan mereka, pemerintah Amerika meminta kepada pemerintah setempat memberikan keseriusan dalam mengungkap siapa dibalik pembunuhan Benazir, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dimata masyarakat kepada pemerintah, maka itu pemerintah diminta untuk membuat sebuah tim independen demi mengungkap siapa sebenarnya pembunuh Benazir Bhutto. Link : http://%20fospipakistan.co.nr/ Adam ini salah satu adekku yang masih kuliah di Int'l Islamic University - Islamabad jurusan Hadith and its Sciences. Dia dulu MPer aktif & waktu aku baru p'tama kali kenal MP...dia yg banyak ngenalin aku ke temen2nya. Sekarang temen2nya masih aktif di MP & jadi temen2ku juga...tapi MP-nya Adam udah Almarhum... :(
Aku dapet hadiah novel dengan judul yg sama ini dari Islamabad...
Maaf s'besar2nya buat yg ngasih novel, HabiL...apalagi buat yg udah cape2 bikin novel itu, Mas HabiB. Jujur...aku kurang suka dengan tokoh central FAHRI yg Rano Karno banget. Kalo nonton movie-nya, pengen juga...soalnya sutradara-nya Mas Hanung. Walaupun blom yakin juga seh...kira2 bagus nggak ya film-nya...?
Soalnya, beli CD-nya juga agak kepleset neh... Yg enak cuma 3 lagu doang...dari 12 lagu. No. 1, 2 & 3 aja. # 1 & 3 sung by Rossa...# 2 sung by Sherina (d'best one in this album). No. 7, 8 & 9 juz instrumentalias...tapi OK juga koq.
| 01 Ayat-ayat Cinta | | | | | | | 02 Jalan Cinta | | | | | | | 03 Takdir Cinta | | | | | | | 07 Letter from Noura | | | | | | | 08 Thalagi | | | | | | | 09 The Basket | | | | | |
Menanggapai comment-nya Mas Syamsul di postingan-ku sebelumnya yang berjudul Benazir Bhutto Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri , aku jadi buka file di notebook-ku lagi tentang hal yang berkaitan dengan "Bom Bunuh Diri Tidaklah Sama Dengan Jihad", yaitu penjelasan Ustadz Ahmad Sarwat yang pernah aku copy dari eramuslim.com. Sebelumnya, aku mohon maaf buat yang kontra. It's just in a forum, ukhuwwah islamiyyah is the most important. Berikut penjelasan beliau : Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Istilah 'bom bunuh diri' kalau dikaitkan dengan perlawanan bangsa Palestina melawan jagal Israel tentu sangat tidak tepat. Bahkan penggunaan istilah itu sendiri adalah bagian dari propaganda Israel dalam menghancurkan mentalitas saudara kita di sana.
Yang mereka lakukan bukan operasi bunuh diri, melainkan perang suci membela agama, nusa dan bangsa serta hak-hak hidup paling asasi di muka bumi.
Tidak ada bedanya apa yang mereka lakukan dengan yang dilakukan oleh arek-arek Suroboyo di tahun 1945, ketika mereka menyongsong meriam Belanda hanya berbekal bambu runcing. Dilihat dari hitung-hitungan biasa, meriam Belanda itu pasti akan membunuh mereka semua. Lalu apalah artinya bambu runcing menghadapi meriam-meriam itu?
Tetapi semua kita tahu bahwa mereka adalah pahlawan yang tiap tahun kita peringati jasanya pada hari pahlawan. Tidak ada seorang pun di antara kita yang menyebut tindakan mereka sebagai bunuh diri. Padahal apa yang mereka lakukan lebih dahsyat dari sekedar apa yang dikerjakan oleh mujahidin Palestina sekarang.
Maka di luar medan perang, sebenarnya masih ada peperangan lainnya yang tidak kalah dahsyat. Yaitu perang urat syaraf, perang opini dan perang media. Kalau sebagai muslim kita sampai hati menyebut perjuangan bangsa Palestina itu sebagai 'bom bunuh diri', maka pada hakikatnya kita adalah korban perang. Sebab kita sudah termakan perang opini yang mereka buat, karena sudah berhasil membuat kita berhenti dari mendukung perjuangan bangsa terjajah itu.
Sebagai muslim, kita tahu bahwa apa yang mereka lakukan dengan meledakkan bom di tengah kerumunan Yahudi bukanlah bunuh diri. Sebab orang yang bunuh diri itu adalah orang yang tidak punya harapan lagi. Mereka kecewa dan mengakhiri hidup dengan menghilangkan nyawa diri sendiri.
Sedangkan pejuang muslim Palestina itu tidak putus asa, melainkan mereka sedang menjalankan perintah Allah SWT. Mereka tidak takut mati asalkan demi mempertahankan agama Allah. Mereka telah berkorban harta dan jiwa, janganlah kita zalimi dengan berbagai tuduhan versi orang-orang kafir. Janganlah kita termakan dengan propaganda asing yang ingin memecah belah persatuan umat Islam sedunia.
Mereka yang mati dalam rangka mempertahankan negeri dari penjajah kafir, tentu saja akan mati bahagia. Bahkan mereka tidak mati, melainkan tetap hidup. Kalau orang bunuh diri pasti mati. Tetapi orang yang terbunuh di jalan Allah, tidak mati melainkan tetap hidup di sisi Allah dan tetap mendapat rizki.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah: 154)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran: 169)
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Lagi jalan2 b'dua Dede...tiba2 banyak sms dari Islamabad, yg intinya sama semua : Benazir Tewas di Rawalpindi, Pakistan. Aku langsung ngajak Dede ke mobil...switch-on Tv, cari progress newz. Sahabat bukan...sodara apalagi. Tapi cukup bikin aku kaget. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Islamabad, waktu pemerintahan Benazir. Beberapa tahun kemudian, Benazir diasingkan & pemerintahan dikendalikan oleh Nawaz Shareef. Beberapa tahun kemudian setelah dipimpin Nawaz Sharif, Musharaf berhasil menggantikan posisi Musharaf. 7 tahun menetap di Islamabad, perbedaan sosial-budaya begitu terasa perubahannya. Waktu masih dipimpin Benazir, walaupun dia nggak berhijab...tapi aku masih banyak menemui wanita bercadar & berjilbab rapi di tempat umum. Ganti Nawaz Shareef, pemandangan wanita2 tertutup mulai berkurang...mereka lebih fashionable, tapi masih memakai sheerwal-qameez (pakaian khas Pakistan). Ganti lagi dengan Musharaf, masya ALLOH...really unbelievable...! Sheerwal-qameez yang biasa berlengan panjang, mereka copot lengannya & berubah model tank-top atau setali. Dengan ukuran yg sangat minimalis. Aku sendiri bingung...gimana cara pakainya ya? Belum lagi, udah banyak perempuan2 yang mulai berpakaian casual (stretch jeans plus T-shirt / tank-top, and so on) Rawalpindi sendiri merupakan kota tetangga Islamabad. Campus-ku dulu, sebelum ada new women campus, terletak di sana.  Benazir Bhutto Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri Tokoh oposisi di Pakistan Benazir Bhutto tewas dalam serangan bom bunuh diri usai menggelar kampanye, Kamis (27/12). Kementerian Dalam Negeri Pakistan memastikan tewasnya Bhutto dalam insiden tersebut, namun penyebab pastinya masih simpang siur. Juru bicara kementerian dalam negeri Pakistan Javed Cheema mengatakan, kemungkinan Bhutto terkena pecahan bahan peledak yang disembunyikan pelaku di dalam jaketnya. Sementara penasehat keamanan partai tempat Bhutto bernaung mengatakan, bahwa seorang laki-laki bersenjata menembak Bhutto di bagian dada dan leher ketika Bhutto akan masuk ke mobilnya. Setelah menembak Bhutto, pelakunya melakukan bom bunuh diri. Suami Bhutto, pada para wartawan sebelumnya mengatakan bahwa isterinya dalam "kondisi serius" dan sedang menjalani pembedahan. Aparat kepolisian mengatakan, korban tewas akibat bom bunuh diri yang terjadi di Rawalpindi itu berjumlah 20 orang. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah empat orang tewas ditembak dan tiga orang luka-luka dalam kampanye pemilu mantan perdana menteri Pakistan Nawaz Sharif. (ln/al-arby) Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/int/7c27212430-benazir-bhutto-tewas-dalam-serangan-bom-bunuh-diri.htm Progress News from Dawn, Pakistan : Police confirm Benazir was shot before bombing ISLAMABAD, Dec 27 (AFP) Benazir Bhutto was shot in the neck by her attacker before he blew himself up in a suicide attack Thursday outside a campaign rally, police officials confirmed. She succumbed to her injuries in hospital but it was not immediately known if it was the gunshot wound that killed her. “The attacker fired and then blew himself up,” said one of the officials, who asked not to be named. (Posted @ 21:58 PST)
Court, banks ablaze in caretaker PM's hometown JACOBABAD, Pakistan, Dec 27 (AFP) The main court, banks and other buildings were set on fire in Jacobabad, hometown of Pakistan's caretaker prime minister Mohammedmian Soomro after Benazir Bhutto's assassination Thursday, an AFP reporter said. Mobs also torched several shops, including some belonging to relatives of Mr. Soomro, said residents of the city, in the Sindh province. Portraits of Soomro were also set on fire while demonstrators took to the streets, blocking roads and a railway track. (Posted @ 21:46 PST)
Musharraf condemns the killing of Benazir Bhutto, urges calm ISLAMABAD, Dec 27 (AP) President Pervez Musharraf condemned the killing Thursday of former premier Benazir Bhutto and called for calm, according to the Associated Press of Pakistan. Musharraf also called a high-level emergency meeting to discuss the government's response, the agency said. ''He urged the people to stay calm to face this tragedy and grieve with a renewed resolve to continue the fight against terror,'' the agency reported. (Posted @ 20:56 PST) Benazir’s death: Musharraf convenes emergency meeting RAWALPINDI, Pakistan, Dec 27 (Reuters) – Formr prime minister Benazir Bhutto’s assassination Thursday in a suicide attack has left a void at the top of her Pakistan People's Party, and has also thrown into turmoil U.S. President George W. Bush's plan to bring stability to this key U.S. ally by reconciling her and President Pervez Musharraf. Shortly after Benazir’s death, President Pervez Musharraf convened an emergency meeting with his senior staff, where they were expected to discuss whether to postpone the election, an official at the Interior Ministry said, speaking on condition of anonymity. As news of her death spread, supporters at the hospital in Rawalpindi smashed glass doors and stoned cars. Many chanted anti-Musharraf slogans. Angry supporters also took to the streets in the northwestern city of Peshawar as well other areas. In Rawalpindi, the site of the attack, Bhutto's supporters burned election posters from the ruling party and attacked police, who fled from the scene. In Karachi, shop owners quickly closed their businesses as supporters from Bhutto's party burned tires on the roads. Nawaz Sharif, another former premier and leader of a rival opposition party, speaking to the BBC, questioned whether to hold the elections. “I think perhaps none of us is inclined to think of the elections,” he said. “We would have to sit down and take a very serious look at the current situation together with the People's Party and see what we have to do in the coming days.” The attacker struck just minutes after Benazir Bhutto addressed an election rally of thousands of supporters. There were conflicting accounts over the sequence of events. Rehman Malik, Bhutto's security adviser, said she was shot in the neck and chest by the attacker, who then blew himself up. But Javed Iqbal Cheema, spokesman for the Interior Ministry, told state-run Pakistan Television that Bhutto died when a suicide bomber struck her vehicle. Bhutto was rushed to the hospital and taken into emergency surgery. “At 6:16 p.m. she expired,” said Wasif Ali Khan, a member of PPP who was at Rawalpindi General Hospital. (Posted @ 20:30 PST)
Benazir Bhutto killed in gun, bomb attack RAWALPINDI, Pakistan, Dec 27 (Reuters) Former prime minister Benazir Bhutto was killed in a gun and bomb attack after a rally in Rawalpindi Thursday, Pakistan People’s Party said. “She has been martyred,” said party official Rehman Malik. Benazir, 54, died in hospital in Rawalpindi. A private tv channel said she had been shot in the head. Police said a suicide bomber fired shots at Benazir as she was leaving the rally venue in a park before blowing himself up. “The man first fired at Bhutto's vehicle. She ducked and then he blew himself up,” said police officer Mohammad Shahid. Police said 16 people had been killed in the blast. Earlier, party officials said Benazir was safe. A Reuters witness said he saw bodies on a road as well as a mutilated human head. (Posted @ 19:50 PST)
Progress Newz from BBC : Pakistani former Prime Minister Benazir Bhutto has been assassinated in a suicide attack. Ms Bhutto had just addressed an election rally in Rawalpindi when she was shot in the neck by a gunman who then set off a bomb. At least 15 other people died in the attack and several more were injured. President Pervez Musharraf and his government called on people to remain calm so that the "nefarious designs of terrorists can be defeated." There were no immediate claims of responsibility for the attack. Ms Bhutto, leader of the Pakistan People's Party (PPP), had twice been the country's prime minister and had been campaigning ahead of elections due in January. It was the second suicide attack against her in recent months and came amid a wave of bombings targeting security and government officials. Nawaz Sharif, also a former prime minister and a political rival, said her death was a tragedy for "the entire nation". "It is not a sad day, it is [the] darkest, gloomiest day in the history of this country," he said, speaking at the hospital where she was taken. The United Nations Security Council is to meet for emergency consultations shortly to discuss the situation in Pakistan after the killing. Scene of grief The attack occurred close to an entrance gate of the park in Rawalpindi where Ms Bhutto had been speaking. Police confirmed reports Ms Bhutto had been shot in the neck and chest before the gunman blew himself up. She died at 1816 (1316 GMT), said Wasif Ali Khan, a member of the PPP who was at Rawalpindi General Hospital. Some supporters at the hospital wept while others exploded in anger, throwing stones at cars and breaking windows. Police in the north-western city of Peshawar are reported to have used tear gas and batons to break up a demonstration by angry Bhutto supporters and there were also protests in other cities. Mr Sharif said there had been a "serious lapse in security" by the government. But an old friend of Ms Bhutto, Salman Tassir, told the BBC World Service he did not think criticism should be directed at the government. "There have been suicide attacks on Gen Musharraf also," he told Newshour. "... I mean it is extremism and the fanatics who are to blame." Earlier on Thursday, at least four people were killed ahead of an election rally Mr Sharif had been preparing to attend close to Rawalpindi. Ms Bhutto's death has plunged the PPP into confusion and raises questions about whether January elections will go ahead as planned, the BBC's Barbara Plett in Islamabad says. Return from exile The killing was condemned by the US, the UK and others. The attack shows that there are still those in Pakistan trying to undermine reconciliation and democratic development in Pakistan," a US state department official said. UK Foreign Secretary David Miliband said he was "deeply shocked" by Ms Bhutto's death and said "extremist groups... [could] not and must not succeed". Ms Bhutto returned from self-imposed exile in October after years out of Pakistan where she had faced corruption charges. Her return was the result of a power-sharing agreement with President Musharraf in which he granted an amnesty that covered the court cases she was facing. Since her return relations with Mr Musharraf had broken down. On the day of her return she led a motor cavalcade through the city of Karachi. It was hit by a double suicide attack that left some 130 dead.
| History : One day in Islamabad, aku pengen masak Gule Kambing. Karena di kulkas masih ada daging kambing & santan kalengan. Tapi nggak punya bumbu2 yang lengkap, bahkan hampir lengkap sekali pun nggak ada. Finally, aku nekad mixed daging kambing itu dengan coconut milk. Begitu mateng...masuk ke mulut Mbak Athira...dia langsung bilang "Achawala...". Achawala itu bahasa Urdu yang artinya bagus banget, enak banget, Te-O-Pe deh... Karena langsung tandas, jadinya aku PeDe inget2 bumbu apa aja yang tadi aku cemplungin & aku catat kemudian. Moga yang berani coba2 sama resep ini, same comment with Mbak Athira. Bahan : - 1/2 kg daging kambing/domba yang sudah dibersihkan lemaknya, dipotong kotak tipis - Santan - Minyak untuk menumis Bumbu : - Daun salam - Lengkuas, dimemarkan - Jahe, dimemarkan - Garam - Gula pasir Bumbu yang dihaluskan : - 1/2 buah, bawang bombay / 6 siung, bawang merah - 3 siung, bawang putih - 6 buah, cabe merah - 1 sendok teh, lada - 1 sendok teh, ketumbar - 1/2 sendok teh, jinten Cara membuat : Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis dengan daun salam, lengkuas & jahe. Masukkan potongan daging kambing/domba, aduk sampai berubah warnanya. Tambahkan santan, garam & gula, aduk terus sampai rata. Masak sampai daging terasa empuk & kuah agak kental. | | |
| History : Salah satu mahasiswa yang lagi dapet giliran haji waktu itu, bawa oleh2 1 botol kecil petis. Selama ini aku nggak doyan petis, nggak tau cara masaknya & nggak tau buat masakan apa aja. Lumayan lama juga itu petis cuma buat pajangan isi kulkas. Finally, aku nekad mixed itu petis dengan sisa2 kambing Qurban yang setia nemenin si-petis di kulkas. Ternyata, aroma udang bisa ngebanting dikit aroma kambing. Begitu mateng, asap masakan yang masuk ke hidung, ikut mempengaruhi otak-ku, sehingga namanya jadi "Kambing PetisTan" (Kambing bumbu petis ala Pakistan). Rasanya pun...hhmmm...bole dicoba, kecuali sama si-Jago Masak. Bahan : - 1/2 kg daging kambing/domba yang sudah dibersihkan lemaknya, dipotong dadu - 2 buah tomat, dipotong dadu - Cabe merah besar, dibuang isinya, diiris tipis (banyaknya sesuai selera) - Cabe rawit utuh, sesuai selera - Minyak goreng/mentega - Air Bumbu : - 1 sendok makan petis - 1 sendok makan gula pasir - 3 sendok makan kecap manis - Bawang bombay/bawang merah * - Bawang putih - Lada putih * - 1/2 ibu jari, jahe - Garam Cara membuat : Haluskan bawang bombay/bawang merah, bawang putih, lada jahe & garam. Kemudian ditumis hingga harum. Masukkan daging kambing/domba, aduk terus hingga berubah warna. Tambahkan petis, kecap manis & gula putih. Aduk terus hingga merata. Tuangkan air, masak hingga daging terasa empuk & kuah tinggal sedikit. Masukkan tomat, cabe merah iris & cabe rawit. Aduk terus hingga matang. Note : * Karena di Islamabad nggak ada bawang merah, makanya aku selalu pakai bawang bombay. Jadi, bisa diganti dengan bawang merah. * Kebetulan masih ada stock lada putih, jadi waktu itu aku pake lada putih. Pernah ada yang coba pake lada hitam, katanya fine2 aja. | | |
| History : Dulu, semasa aku masih tinggal di Islamabad, belum ada yang jual lada putih. Sampai aku cari ke DFS (Duty Free Shop) & Asian Market, sama sekali nggak ada yang jual. Tapi katanya sekarang sudah ada yang jual. Walau begitu, resep ini pernah aku coba dengan lada putih, ternyata rasanya beda. Dengan lada hitam lebih pas. Bukan karena udah terbiasa, tapi emang lebih pas dengan lada hitam. Buat yang udah pernah nyobain Sapi Lada Hitam & Kepiting Lada Hitam, pasti tau bedanya. Bahan : - 1 kg Daging kambing / domba yang udah dibuang lemaknya, diiris tipis-lebar - Minyak / mentega untuk menumis - Air Bumbu : - 1 buah, bawang bombay diiris tipis - Bawang putih dicincang halus, banyaknya sesuai selera - 1 buah, paprika merah dipotong segitiga - 2 sendok teh, bubuk lada hitam - Kecap manis, sesuai selera - Garam Cara membuat : Tumis bawang bombay & bawang putih sampai harum. Masukkan daging, aduk sampai berubah warna. Masukkan paprika merah, aduk sampai layu. Tambahkan lada hitam & kecap manis, aduk sampai merata. Tuang air & garam, aduk terus sampai mendidih. Masak dengan api kecil sampai daging terasa empuk & kuah tinggal sedikit. Untuk menetralisir lemak yang tersisa pada daging, sebelum disajikan boleh ditaburi minyak zaitun 1 sendok makan saja. Selain dapat menambah cita rasa khas masakan. Note : Jangan pernah memasak minyak zaitun, karena akan merubah kandungan vitamin & non-cholesterol oilnya menjadi lemak jenuh yang berbahaya untuk kesehatan. | | |
| Setelah disuguhi Bakwan Rame buatan Mbak Nida & Mas Azzam, sahabat MP-ku yang sedang menuntut ilmu di Cairo, memory-ku langsung rewinded pengalaman terpaksa masak selama 7 tahun di Islamabad. Then, terbersit ide untuk menambah 1 tagbox lagi di "senyum MEntari" khusus Pakindo Receipes. Kenapa namanya Pakindo...? Karena, di tagbox ini aku akan share resep2 masakan Indo dengan bumbu Indo ala kadarnya atau dengan tambahan bumbu Pakistani, dan masakan Pakistani dengan selera lidah Indo. Nama aneka hasil olahan selama di sana pun, suka2 kita...seperti Bakwan Rame-nya Azdha's Family itu. Dan sebenernya, resep2 masakanku itu sangat nggak tepat disebut resep. Karena nggak semua bumbu aku cantumkan takarannya. Ya karena emang basically aku nggak bisa masak, so waktu aku mau masak whatever, aku telpon Bunda ke Indo, beliau pun hanya ngasih tau macam2 bumbu & cara memasaknya...tanpa takaran bumbunya. Setiap aku tanya, jawabannya "Kamu kira2 aja, Nak...by feeling..." Tapi alhamduliLLAH...praktek cooking-ku yang pertama sukses berat. Ceritanya, waktu itu pas Iedul Fithri di awal tahun '97. Seluruh mahasiswa yang sudah berkeluarga wajib open house dengan menu Indonesia. Aku kalang-kabut. New comer...baru 5 bulan tinggal di Islamabad, plus nggak punya bekal cooking skill, plus lagi hamil 8 bulan & alergy sama dapur selama hamil. Parahnya, aku & Mas Oke nekad pilih somay sebagai menu open house kita. Dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi lho masaknya... Selesai? Belom lah...kita terusin lagi pagi-nya sampai menjelang Dzuhur. House opened after Dzuhur till midnight, as the rule. AlhamduliLLAH-nya, Athira nggak minta buru2 keluar ke dunia ini. Dan yang paling bersyukur lagi, semua bilang somay-nya enak. Jelas mereka nggak basa-basi...karena mereka pun makannya nggak inget jatah temen2 yang laen yang belom dateng ke rumahku. Tapi yang nggak jelas, apa karena mereka udah lama nggak ketemu somay ya...? Nah...mulai dari situ, aku jadi suka praktek masak. Tapi bukan hanya untuk aku & Mas Oke, juga Athira setelah lahir. Aku korbankan mahasiswa2 singel sebagai object penderita sekaligus juri-nya. Ada yang jujur...ada juga yang tinggi banget basa-basinya. Dan dari hobby dadakan ini, Indonesian Embassy pun pernah 2 kali order menu untuk acara gathering. Kayaknya sih bukan karena alasan rasa masakanku aja, tapi waktu itu pas juru masak Wisma Nusantara lagi umroh atau mudik (aku lupa). Begitu juga Ibu2 istri Diplomat sering order Pudding Bunda Athira khas kreasiku, ya...dengan resep yang ala kadar-nya tanpa takaran itu. Sebenernya, aku & Mas Oke juga Athira, bisa dibilang nggak pernah kangen masakan Indo. Kita sangat menikmati Pakistani Food & Afghani Food yang resto-nya bertaburan di setiap sudut Islamabad. Hanya kecuali, pada saat hamilnya Athira, aku ngidam masakan Padang ala Sederhana. Dan pada saat hamilnya Dede, aku ngidam asinan bengkoang. Tapi karena hampir tiap hari di rumah kedatangan tamu mahasiswa2 Indo, bahkan mereka juga sering bermalam di rumah, ya kesempatan buatku untuk jadiin mereka object penderita. Nah...dalam rangka menyambut Eidul Adha, atau di Pakistan biasa disebut Bakra Eid (Hari Raya Kambing -red.), aku akan share aneka olahan dari daging kambing / domba, sebagai launching tagbox baru-ku ini. (Hallah...!) Oh ya, lamb is better than mutton. Aku belom ketemu dalil yang menguatkan argument ini. Tapi di Saudi, Afghan, Marocco, warganya prefer lamb (daging domba) than mutton (daging kambing). Dan di negara2 Eropa Timur seperti Turkey, Albania, Bosnia, Kosovo & Checz, mereka never makan mutton, tapi lamb. Begitu juga waktu aku ke Aussie, mereka suka sekali dengan lamb. Sebenernya, hanya mitos bahwa daging domba itu lebih prengus dari daging kambing. Daging domba juga lebih cepat empuk dimasak daripada daging kambing. Untuk soal harga pun, daging domba lebih mahal dibanding harga daging kambing. Mitos juga kalau daging kambing & domba dituduh sebagai penyebab penyakit hypertensi, jantung, cholesterol & asam urat. Asal kita mengolahnya dengan baik, seperti membuang lemaknya & memperbanyak bumbu rempah2 sebagai antioksidan-nya. Survey pun membuktikan bahwa kandungan lemak pada daging kambing & domba jauh lebih sedikit dibanding dengan yang ada pada daging ayam & sapi. (Maaf belum ketemu dalil yang akurat. So, this post will be updated.) Kita juga bisa meniru Pakistani atau negara2 lainnya, dalam hal style mereka menyantap daging jenis ini. Contohnya Pakistani, pada waktu menyantap masakan dari olahan daging jenis ini, mereka nggak pernah lupa menyertakan fresh salad seperti daun selada, timun, tomat, lobak, cabe ijo besar & bawang bombay yang semuanya diiris tipis. Nggak ketinggalan, fresh plain yoghurt yang ditaburi sedikit jinten yang masih ada kulitnya. Daging kambing / domba, plus roti / nasi, plus fresh salad & plain yoghurt...hhmmm...murmer... Beda lagi Turkish, mereka mencampur fresh salad tadi dengan olive oil & perasan lemon. Dan Afghani, mereka memeras lemon di atas fresh salad tadi begitu siap menyantap hidangan. Sehat kan...? Note : PENTING...! Untuk yang jago masak, DILARANG coba2 dengan resep ini. Bisa jatuh image-ku...hehehe... Resep2 ini hanya untuk para perantau yang belum bisa masak. So, enak-nggak enak...nggak bisa nyalahin aku. Tapi, most welcome buat yang punya inovasi & mau share takaran bumbu2nya. Dan maaf, untuk foto2nya menyusul. Selain aku mau ngubek2 album foto lama dulu...skarang ini aku jarang banget praktek masakan2 ini lagi. Karena aku harus berbagi dapur dengan juru masak di rumah.  | | |
Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat – syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang–orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” Jika zakat terbatasi pada ketentuan nishab dan haul, Sementara pengertian infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat. Infaq ada yang wajib dan ada yang sunnah. Infaq wajib diantaranya zakat, kafarat, nadzar, dll. adapun Infak sunnah diantara nya, infak kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana alam, infak kemanusiaan, dll. infaq dan shodaqoh dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan jumlah. Rasulullah Muhammad SAW selalu mendorong umatnya berinfaq dan shodaqoh baik di kala lapang maupun sempit. Terkait dengan infak ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan sore : “Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran”. Donasi yang terkumpul dari infaq dan sedekah dikelola secara amanah dan profesional untuk dikembalikan ke masyarakat yang membutuhkan dalam program-program populis dan pemberdayaan, seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun aksi social. Adapun Shadaqoh dapat bermakna infak, zakat dan kabaikan non materi. Dalam hadits Rasulullah SAW memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqoh dengan hartanya, beliau bersabda : “Setiap tasbih adalah shadaqoh, setiap takbir shadaqoh, setiap tahmid shadaqoh, setiap tahlil shadaqoh, amar ma’ruf shadaqoh, nahi munkar shadaqoh dan menyalurkan syahwatnya pada istri shadaqoh”. Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran ( shiddiq ) iman seseorang. Selain itu, ada istilah shadaqah dan infaq, sebagian ulama fiqh, mengatakan bahwa sadaqah wajib dinamakan zakat, sedang sadaqah sunnah dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan infaq sunnah dinamakan shadaqah. http://www.upzpakistan.com/?p=5
Abdul Halim Mahally Research Fellow pada Middle East and Islamic Transformative Studies Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta serta Kandidat Doktor pada University Kebangsaan Malaysia (UKM) Pandangan masyarakat internasional sedang tertuju ke Pakistan. Media massa sibuk menjadikan peristiwa berdarah di Masjid Merah sebagai headlines. Ada apa sebenarnya? Inilah pertanyaan yang sangat boleh jadi menyelimuti banyak kalangan. Militer Pakistan terlibat baku senjata dengan penduduk Pakistan yang diklaim sebagai kelompok militan yang menempati Masjid Lal (Masjid Merah) di tengah kota Islamabad. Banyak nyawa melayang dan ratusan lainnya terluka. Pemimpin kelompok yang menempati masjid, Abdul Rasyid Ghazi, pun meninggal tertembus peluru tajam pasukan komando Pakistan di persembunyian bawah tanah Masjid (Republika, 11/7). Sejak Pakistan merdeka dari Inggris pada 14 Agustus 1947, baru kali ini terjadi banjir darah di ibukota negara tersebut. Presiden Pakistan Jenderal Perves Musharraf hanya memberi dua opsi kepada kelompok yang menempati masjid itu, menyerah atau mati. Musharraf gerah Selama penulis menimba ilmu di Islamabad, para tokoh masyarakat di sekitar Masjid Lal dikenal santun. Jamaah di Masjid Lal juga tidak membuat aksi kekerasan ketika pada tahun 1998, Imam Masjid Lal yang juga Ketua Ahli Ru’yah Pakistan meninggal diberondong orang tak dikenal usai shalat Shubuh. Persis di samping area Masjid Lal adalah pusat perbelanjaan murah meriah. Masjid yang terletak berdekatan dengan Mabes Angkatan Laut Pakistan ini mulai disorot tajam ketika Musharraf secara mendadak mendukung aksi invasi AS ke Afghanistan pascatragedi 11/9. Sejak keberpihakan itu, para khatib dan Imam di Masjid Lal hampir tidak pernah berhenti memojokkan posisi penguasa militer Pakistan. Padahal, di awal kepemimpinannya, Musharraf sangat dibanggakan oleh rakyat Pakistan karena berhasil mendepak pemerintahan sipil yang korup. Wajar, bila Musharraf gerah. Apalagi, Pemilu Nasional Pakistan tidak lama lagi akan digelar. Tragedi berdarah di Masjid Lal sejatinya menggambarkan betapa pemerintah Jenderal Musharraf tidak lagi disenangi oleh rakyat Pakistan. Jika dulu Sang Jenderal disambut hangat dengan melengserkan PM Nawaz Sharif, maka kini ia tak lagi populer di mata warganya. Dukungan Islamabad dalam invasi militer Amerika ke Afghanistan adalah penyebab utamanya. Akibat kedekatannya dengan Washington, Musharraf terpaksa menangkapi rakyatnya sendiri dalam rangka memerangi jaringan terorisme yang diklaim Presiden Bush dan negara-negara Barat telah berpindah dari Afghanistan ke wilayah Pakistan. Sejak rezim Taliban dilengserkan pada 13 Nopember 2001, banyak sisa-sisa Taliban yang bersembunyi di sepanjang wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Sebab, penduduk di perbatasan mayoritas adalah suku Pusthun yang juga menjadi basis pendukung pemerintahan Taliban. Upaya Musharraf untuk menangkapi sisa-sisa Taliban dan pengikut Alqaidah juga tak berjalan mulus meski 80 ribu tentara Pakistan telah dikerahkan. Sedangkan pemerintah Presiden Bush selalu menyudutkan posisi Islamabad yang dinilai tak serius memberantas ‘kaum teroris’ di perbatasan Pakistan. Posisi Jenderal Musharraf sendiri sangat dilematis. Ia berkali-kali mengalami upaya pembunuhan. Selama empat kali percobaan pembunuhan atas dirinya, Musharraf berhasil lolos dari incaran maut. Entahlah nantinya, hanya waktulah yang bisa menjawabnya. Dalam hemat penulis, ada tiga keuntungan sekaligus risiko yang tengah dihadapi Presiden Musharraf akibat mendukung perang melawan teror versi Bush. Pertama, dukungan Musharraf terhadap AS dalam war on terrorism di Afghanistan sangat menguntungkan Pakistan. Islamabad dikucuri bantuan dana sebesar 396,5 juta dolar AS atas bantuan informasi intelijen yang diberikan. Berbagai sanksi ekonomi dan militer yang dijatuhkan Washington akibat uji coba nuklir Pakistan tahun 1998 dihapuskan. Total dana yang mengalir ke kocek Musharraf mencapai 4,2 miliar dolar. Kedua, Pakistan tidak lagi diisolasi dunia internasional. Jenderal Musharraf bisa tersenyum lega karena aksi kudetanya dulu membuat Pakistan dijauhi banyak negara. Ketiga, kerja sama militer Amerika dengan Pakistan yang terhenti sejak Perang Soviet melawan Afghan (1979 – 1989) telah dipulihkan. Ini sangat penting agar pasokan senjata dari Pentagon berjalan lancar sehingga Islamabad bisa menandingi kekuatan militer India, musuh bebuyutannya. Sedangkan risiko yang harus dipikul Musharraf adalah pertama, Cina memandang curiga pada kedekatan Washington dengan Islamabad. Sebagai sekutu terdekat Cina, Pakistan diharapkan menjaga jarak dengan Amerika. Pemerintah Presiden Hu Jintao tak ingin Musharraf terlalu akrab dengan Bush karena kepentingan Beijing di kawasan Asia Selatan mulai dijegal. Kedua, Jenderal Musharraf menghadapi aksi perlawanan dari rakyatnya sendiri yang benci AS. Di sebagian kalangan sipil dan bahkan militer Pakistan, Musharraf dituding berkomplot dengan Bush untuk membunuhi orang Islam dan menggadaikan kedaulatan negara Republik Islam Pakistan. Tak heran bila ada elemen militer di Pakistan yang juga ikut merancang pembunuhan atas Musharraf pada 13 Desember 2003. Sedangkan kalangan sipil radikal tak bosan berdemo dan melakukan aksi anarkis menentang kedekatan Musharraf dengan Washington. Ketiga, Musharraf menghadapi resiko pembunuhan oleh sisa-sisa Taliban dan jaringan Alqaidah yang kini bertebaran di seantero wilayah Pakistan. Mereka ini terus berupaya melenyapkan nyawa Musharraf tanpa atau dengan bantuan elemen sipil-militer Pakistan. Alasannya jelas, Jenderal Musharraf terlibat dalam menghancurkan pemerintahan Islam di Afghanistan. Walhasil, banjir darah di Masjid Lal tak diragukan merupakan puncak perlawanan terhadap kedekatan pemerintah Musharraf dengan AS. http://republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16 http://www.ppmipakistan.or.id/?p=34#more-34
LAL MASJID Exposed Import.flv (16.4 MB)
LAL MASJID Exposed Import.flv (15.6 MB)
Suasana di Islamabad Masih Mencekam Liputan6.com, Islambad: Pascainsiden penembakan di depan Masjid Lal atau Masjid Merah, suasana ibu kota Pakistan, Islamabad masih mencekam. Rentetan tembakan, Rabu (4/7) masih terdengar di dekat masjid. Hingga malam tadi, pemerintah Pakistan masih memberlakukan jam malam. Petugas militer Pakistan masih menempatkan personil bersenjata lengkap dan armada militernya di sekitar masjid. Sementara itu, puluhan jamaah termasuk pemimpin mereka dikabarkan masih berada di dalam masjid dan menolak untuk menyerahkan diri. Insiden berdarah di kota ini terjadi saat santri jamaah Masjid Lal menyerbu sebuah pos polisi. Namun, menurut kelompok radikal justru pihak keamanan Pakistan yang memancing kemarahan dengan memasang barikade di sekitar masjid. Akibat kejadian ini 16 orang tewas. Peristiwa ini merupakan puncak dari ketegangan antara pemerintah Pakistan dan kelompok radikal yang bersikukuh menerapkan hukum Islam ala Taliban. (IAN) Jam Malam Diberlakukan di Pakistan Liputan6.com, Islamabad: Pemerintah Pakistan belum lama ini memberlakukan jam malam menyusul insiden penembakan di depan Masjid Lal atau Masjid Merah, Islamabad, Selasa silam. Namun, situasi belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik karena para pemimpin kelompok radikal menolak menyerah meski seratus pengikutnya telah mengaku kalah. Saat ini, mereka masih bertahan di dalam masjid. Sejak Selasa malam hingga hari ini (4/7), suasana mencekam masih terasa di Islamabad. Kondisi ini dipicu oleh penyerbuan polisi yang bertujuan menumpas kelompok radikal di Masjid Lal. Sembilan orang tewas ditembak dalam insiden tersebut.(YNI) Santri-Tentara Pakistan Bentrok Liputan6.com, Islamabad: Upaya pemerintah Pakistan meredam aktivitas kelompok muslim radikal berbuntut bentrokan berdarah. Lima tewas di antaranya dua polisi dan seorang tentara dalam insiden di sekitar Masjid Lal atau Masjid Merah di Islamabad, Pakistan, belum lama ini. Insiden terjadi menyusul pemasangan barikade di depan masjid. Warga maraha bahkan terlibat kontak senjata. Menurut pasukan pemerintah, para santri lebih dahulu menyerang pos polisi, melempari gedung Kementerian Lingkungan Hidup, dan membakar kendaraan yang diparkir. Massa menyerang dengan AK-47 dan bom molotov. Sekitar empat jam setelah letusan senjata, pemerintah mengirimkan juru runding ke masjid guna menghentikan bentrokan. Sejumlah informasi menyebutkan konflik antara pemerintah Pakistan dengan santri ini berlangsung berbulan-bulan karena masalah tanah dan kalangan santri menerapkan hukum Islam ala Taliban.(TOZ) I'd like 2 offer my condolence 4 the horrible incidence that occurred yesterday...'n a deep sympathy 2 my buddies 4 the inoperative public services. 
Link: http://www.kbri-islamabad.go.idKali aja ada yang terpaksa nyasar ke Pakistan, bisa contact ke Indonesian Embassy di sana.
Dulu aku sempet mikir...siapa juga ya temenku yang mau iseng dengan sengaja dateng ke Pakistan. Ternyata...buanyak...! Dari yang niat banget mau menaklukkan Himalaya Mountains, mampir mau/dari umroh, sampai untuk operasi cangkok ginjal yang serius, juga untuk pengobatan. Ada juga anaknya temen mertuaku yang married sama Pakistani & harus cari-cari tau lah tentang embassy kita, sebelum diboyong sama suaminya.
 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Dr Anis Malik Thoha |
Mas Anis pernah meghadiahkan buku ini untuk kami, yang masih dalam bahasa Arab (belum diterjemahkan) dengan judul aslinya “At-Ta’adduddiyah Ad-Diniyah: Ru’yah Islamiyah“. JazaakumuLLOHUjaziilan untuk hadiahnya, Mas... Dan baru seminggu yang lalu, saya beli terjemahannya. Oh ya, dulu Mas Anis juga senior saya di Comparative Religion IIUI, tapi beliau di jenjang doctoral.
BUKU JUARA Predikat ini layak disematkan pada buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press (GIP) ini.
Setahun yang lalu, buku ini meraih penghargaan dari Isma'il Al-Faruqi Publications Award, International Islamic University Malaysia (IIUM). Awal Maret 2007 lalu, buku ini juga meraih penghargaan pada Islamic Book Fair (IBF) 2007 yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, sebagai buku terbaik category non-fiksi.
Buku ini merupakan disertasi beliau semasa kuliah di International Islamic University Islamabad (IIUI), Pakistan. Disertasi tersebut memperoleh Gold Medal karena dinilai sebagai disertasi terbaik. Sekarang beliau menjadi dosen Ilmu Perbandingan Agama sekaligus dekan fakultas Comparative Religion di IIUM. Beliau juga salah satu pakar pluralisme agama di Indonesia sekarang ini.
REVIEW Dalam bukunya, beliau mengutip definisi populer dari Pluralisme Agama yang dirumuskan John Hick. “..pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan presepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi dan bahwa tranformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.”
Dengan kata lain, Hick ingin menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah merupakan manifestasi-masifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain. Sangat jelas, rumusan Hick tentang pluralisme agama di atas adalah berangkat dari pendekatan substantif, yang mengungkung agama dalam ruang (private) yang sangat sempit, dan memandang agama lebih sebagai konsep hubungan manusia dengan kekuatan sakral yang transendental dan bersifat metafisik ketimbang sebagai suatu sistem sosial.
Dengan demikian telah terjadi proses pengebirian dan reduksi pengertian agama yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, pemahaman agama yang reduksinstik inilah yang merupakan “pangkal permasalahan” sosio-teologis modern yang sangat akut dan komplek yang tak mungkin diselesaikan dan ditemukan solusinya kecuali dengan mengembalikan agama itu sendiri ke habitat aslinya. Ke titik orbit yang sebenarnya, dan kepada pengertiannya yang benar dan komprehensif, tidak reduksionistik.
Menurut beliau, ternyata “pemahaman reduksionistik” inilah justru yang semakin populer dan bahkan diterima di kalangan para ahli dari disiplin ilmu dan pemikiran yang berbeda, hingga menjadi sebuah fenomena baru dalam pemikiran manusia yang secara diametral berbeda dengan apa yang sudah dikenali secara umum.
Yang unik dalam fenomena baru ini adalah bahwa pemikiran “persamaan agama" (religious equality) ini, tidak saja dalam memandang eksistensi riil agama-agama (equality on existence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajarannya, sehingga dengan demikian diharapkan akan tercipta suatu kehidupan bersama antar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “pluralisme agama”. Alih-alih menciptakan kerukuan dan toleransi, paham pluralisme agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama, meskipun dengan jargon menerima kebenaran semua agama. Dengan dalih Piagam Hak Asasi PBB, maka semua agama harus tunduk dan patuh. Bahkan penganutnya menganggap Piagam PBB lebih pluralisme agama. 
By Abdul Halim Mahally First Published: April 6, 2007 JAKARTA: As local media pays more attention to domestic crises, from the natural disaster in West Sumatra to Lapindo Brantas in East Java, international issues seems overlooked. The tension between the USA and the Islamic Republic of Iran has reached a peak. The Middle East is currently engulfed by a war cloud. Washington and Tehran are unfortunately likely to enter into armed conflict soon. Three reasonable indications, at least, support this prediction. First, the Pentagon has already appointed Admiral William Fallon as the new US Central Command, replacing General John Abizaid. Fallon is charged with multiple and yet difficult tasks: keeping Afghanistan and Iraq stable which includes preparing attacks on Iran. Second, the US has exercised its military power in the biggest war in the Middle East since 2003, involving use of aircraft carriers and hundreds of fighting jets. They underwent a similar exercise before the US military fired missiles on Iraq in 1991 (First Gulf War) and 2003 (Second Gulf War). Third, Iran was unfortunately reluctant to halt its program of uranium enrichment, even though the UN Security Council recently issued its two resolutions (1737 in December 2006 and 1747 in March 2007). Tehran’s behavior does not bode well for dialogue and only encourages Washington to invade Iran in the near future. The international community would once again witness the shedding of blood at the beginning of the 21st century. After World War I (1914–18), World War II (1939–45) and the Cold War (1948–90), a number of states still resorted to military force as a means to settle international disputes. In the first year of our third millennium, for instance, hundreds of thousands died in the US-Taliban conflict. More than three million Afghans became refugees in Pakistan and Iran when the US and its coalition forces started bombing the Taliban regime on Oct. 7, 2001. In the name of combating terrorism and its networks, five US aircraft carriers in the Persian Gulf fired 600 cruise missiles into all Iraqi territories on March 19, 2003. The Taliban regime ended with the takeover of Kabul on Nov. 13, 2001 and Baghdad fell on April 9, 2003. The expansionist ambition of the US war planners apparently did not cease, but is instead increasingly on the rise. Iran now becomes the next target of the US war machine. And Syria, to a great extent, is possibly the most wanted after Tehran. But why should the US attack Iran? President Bush’s administration has, of course, strong reasons to bomb Iran. Firstly, Washington accused Tehran of masterminding attacks against the US and its coalition in the post-Iraq war era. Suicide and remote bombs are claimed to be the work of the Iranians. Secondly, the Iranian intelligence services were held responsible for supplying arms to Hezbollah in Southern Lebanon and to the Muslim freedom fighters in occupied Palestine where Israeli interests are threatened. Any attack on Israeli occupation forces would mean a declaration of war against the US. Thirdly, the Iranian government has been deemed guilty of illegal proliferation of nuclear weapons. Although the head of the International Atomic Energy Agency (IAEA) Mohammed ElBaradei assured the world that Tehran needs years to acquire nuclear bombs, the Bush Administration has a different view: invading Iran before it is able to successfully test its nuclear weapons is the best preventative measure. The refusal of President Ahmadinejad to stop Iranian uranium enrichment is seen by US policy makers as casus belli or smoking gun for mobilizing American military might in the Persian Gulf. Are we then to believe that war between the US and Iran is inevitable? There is no easy answer. Nevertheless, I am of the view that there is still an opportunity to avoid war. First, the UN Security Council has to show its credibility as the world peacekeeper by pressuring the Bush Administration to avoid unilateral action. The US must not make the same mistake as before, when it failed to stem the US attacks on Iraq in 2003. It is the right time for countries such as France, China and Russia to use their veto powers and resist US arrogance. Second, Arab states under the Arab League should express their silenced voices to the US. If Arab leaders stand united in solidarity, President Bush would not unilaterally attack Iran. Third, all Muslim countries listed in the Organization of Islamic Conference (OIC) must also concur. As the largest world organization after the United Nations and Non-Alignment Movement, OIC could play a very important role. If OIC member countries scattered across the Middle East, South Asian, Southeast Asian and African regions eventually stand together to implement boycotts or embargoes on the US, I believe Washington would face significant losses for taking any irresponsible action. However, much depends on the United Nations, The Arab League and OIC. If they show reluctance to act, war is truly unavoidable. Consequently, one should stop dreaming that the US war machine can automatically come to a halt. Good Luck! AH. Mahally (Abdul Halim Mahally) is an Associate Director for Middle East Studies at Research Center for Political Sciences, the University of Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Abis mandi...dapet email dari Mas Halim yg isinya tulisan beliau yg dimuat di Daily Star Egypt. Thx banget ya, Mas... 
| |