Bunda's posts with tag: politics
Oleh: Adam Bakhtiar Ketika tulisan ini dibuat, kira-kira 30 jam setelah terbunuhnya Benazir Bhutto. Berbagai macam versi pembunuhannya telah dibuat dan dirubah, kurang lebih dari tiga kali revisi atas alur pembunuhuan sang mantan Perdana Mentri tersebut, yang mana setiap versi memicu banyak tanda tanya dan kejanggalan, versi pertama pada awal kematian Benazir setelah beberapa jam, pihak kedokteran rumah sakit mengabarkan bahwa Benazir tewas ditembak pembunuh misterius yang tidak lama kemudian meledakkan dirinya. Kemudian versi kedua; jam satu dini hari 29 December diumumkan lagi oleh pihak dokter yang menangani kasus tersebut menyatakan bahwa Benazir tewas dikarenakan benturan keras dari atap (sunroof) Land Cruisernya dan bukan oleh tembakan, demikian sebagaimana press conference dari Mentri dalam negri Pakistan Javed Iqbal Cheema. Kemudian dia menambahkan bahwa dalang dibalik semua peristiwa ini adalah Al-Qaeda, terbukti dengan hasil rekaman percakapan antara pembunuh tersebut dengan pimpinannya (sesama Teroris) sebelum terjadi suicide bomber . Ketika Jhon F Kennedy tewas terbunuh oleh tembakan peluru yang mengenai kepalanya di kota Dallas, Bertrand Russel menulis sebuah artikel berjudul Minority of One on September 6, 1964. Dimana dia mengatakan “Pernyataan resmi terhadap pembunuhan Presiden Kennedy telah menimbulkan teka teki dan penuh kontradiksi satu sama lain, dimana pernyataannya telah ditulis ulang dan direvisi lebih dari tiga kali, kebohongan nyata ini telah tersebar oleh media-media cukup luas. Akan tetapi penolakan dan sanggahan akan kebohongan tersebut tidak terpublikasian sama sekali oleh pihak media”. Russel mengajukan 16 pertanyaan kepada pihak yang berwenang, semuanya berkaitan satu sama lain meskipun tudingan russel tersebut tidak digubris sama sekali oleh pihak yang berwenang. Dan misteri pembunuhan orang nomor wahid Amerika tersebut tetap menjadi sebuah kasus terbesar yang tak kunjung terselesaikan investigasinya. Dalam kisaran dua hari setelah terbunuhnya Benazir, televisi kenamaan Amerika “Fox News” menjuluki kejadian tersebut dengan“ Pakistan’s Kennedy Murder”. Dari sini muncul pertayaan kembali, kira-kira apakah mereka tahu apa yang kita tidak tahu? Atau secara tidak langsung mereka ingin menyampaikan pesan bahwa, investigasi kejadian tersebut akan hilang begitu saja dan menguap tanpa bekas yang bisa ditelisik, sebagaimana tidak terungkapnya kasus Kennedy diatas. Beberapa saat kemudian mobil pemadam kebakaran datang ditempat kejadian perkara dan membersihkan segala sesuatunya, termasuk juga bukti-bukti yang ada di lapangan. Yang patut disayangkan adalah tidak adanya autopsi pada jenazah Benazir Bhutto sebelum di makamkan, wal hasil tidak ada yang bisa memastikan bagaimana sebab-sebab pasti Benazir terbunuh. Berbagai macam pertanyaan timbul; bagaimana meninggalnya Benazir? Siapakah pembunuhnya? Apakah disebabkan bomb? Peluru? Atap mobil? Serangan jantung? Berapa peluru yang bersarang di kepalanya? Ditembak dari belakang atau dari depan? Apakah si penembak dan pengebom satu orang yang sama? Sniperkah? Dan lainnya. Tidak ada jawaban yang pasti akan semua pertanyaan itu, dan terbukti tak seorangpun bisa menjelaskannya dengan baik. Jawabnnya telah terkubur rapat-rapat dalam Garhi Khuda Bukh. Berdasarkan undang-undang investigasi, masalah seperti ini pertanggung jawabannya dikembalikan kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini negara. Hal semacam ini tidak sepatutnya dikesampingkan, yang mana ini adalalah sebuah perintah. Negara berkewajiban untuk menuntaskan melalui penyidikan; termasuk melakukan autopsy dan melacak semua bukti-bukti kejahatan dan ini hanya bisa dilakukan oleh expert yang berpengalaman dalam bidang penyidikan kasus kriminalitas besar. Hukum juga memperkenankan penelusuran jurisprudensi kedokteran, yang disebut sebagai forensik. Terlebih lagi teknologi kedokteran saat ini sudah berkembang pesat, terutama para ahli dapat menjelaskan kepada masyarakat secara detail darimana datangnya peluru dan siapa pemilik serta dimana senjata tersebut dibeli, yang mana semua itu bisa menuntaskan seluruh misteri pembunuhan Benazir. Kalau ingin bukti, tanyakan kepada sang Presiden Musharraf akan pentingnya sebuah penyelidikan berdasarkan hasil forensik, dimana ia menjelaskan secara detil dalam potongan-potongan biografi di dalam memoir pribadinya “ In The Line Of Fire”. yang mengisahkan beberapa percobaan pembunuhan terhadap dirinya, tahukah anda bahwa sebuah percakapan yang dihasilkan dari handphone dapat mudah dilacak dan disadap? Dr Noreena Hertz dalam bukunya ‘The Silent Takeover : Global Capitalism and the Death of Democracy’ menjelaskan dengan rinci akan sejarah dan cara kerja jaringan surveillance yang disebut sebagai ECHELON, yang mempunyai kemampuan untuk menangkap serta memantau lalu lintas email dan saluran telfon rakyat Eropa. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab dalam investigasi masalah ini, adalah Kepala Staff Angkatan Darat yang baru saja dilantik menggantikan Jendral Pervez Musharraf untuk menggantikan tampuk kekuasaannya yang mau tidak mau harus menanggalkan baju militernya atas desakan semua fraksi dan rakyat Pakistan sendiri. Sebagai seorang Jendral, Kiyani tentunya sudah berpengalaman dalam melacak pembunuh, yang hanya membutuhkan sedikit petunjuk. Tapi sayangnya semua bukti dan pentunjuk untuk penyidikan sudah terlanjur disapu bersih dan dihilangkan untuk mempersulit penyidikan kasus pembunuhan Benazir yang sebetulnya. Sebagaimana ledakan sebelumnya, tepatnya 18 oktober di awal sambutan kedatangan Benazir yang menewaskan kurang lebih 140 pendukungnya, sadar akan ancaman terhadap keselamatan dirinya, Benazir telah mewanti-wanti pihak keamanan akan kurangnya penjagaan terhadap dirinya, sekaligus meminta diperketat keamanan untuknya. Sekarang dia telah mati dan tidak ada yang mempersoalkan bagaimana lengahnya penjagaan dari pihak negara untuk seorang politis besar dan disegani seperti Bhutto dan keluarga. Pernyataan mengejutkan keluar dari mulut, orang kepercayaan People Party of Pakistan, Amin Makhdoom. Yang mengatakan; “andai Benazir tidak mengeluarkan tubuhnya dari atap mobil kemungkinan besar dia masih hidup saat ini”. Dan berita terbaru ketika tulisan ini dibuat, pihak kepala kepolisian Rawalpindi menolak untuk diadakannya autopsy ( The News, December 30, 2007) dan penulis yakin bahwa pemakaman Benazir yang memakan waktu singkat itu tidak lain karena support dari pemerintah untuk menyegerakan penguburan Mantan Perdana Mentri tersebut, sebagaiman pemakaman kedua Perdana Mentri sebelumnya, Liaquat Ali Khan dan ayah Benazir, Zulfikar Ali Bhutto. Yang sama-sama terbunuh disaat masih memegang tampuk kekuasaan. Para pembesar politik pakistan termasuk rival politik Benazir, yang biasanya vokal dalam berbicara kini setelah kematiannya diam seribu bahasa, hanya seorang Nawas Sharif lah yang masih bersuara keras menutut pemerintah Pakistan agar mewujudkan apa yang selama ini menjadi cita-cita Benazir dan segenap rakyat Pakistan pada umumya, yaitu membuka jalannya demokrasi yang adil dan bebas. Nawas Sharif juga meminta Presiden Pervez Musharraf mundur dari jabatannya sebagai Presiden, dikarenakan tidak ada seorang pun pemimpin Pakistan yang pernah mengundurkan dirinya secara terhormat dan gentle, dan inilah saat-saat menekan Presiden mundur dari jabatannya, demikian seloroh Nawas Sharif di sela-sela jumpa pers. Satu hal lagi yang patut diperhatikan, sejak pembunuhan Liaquat Ali Khan sampai Murtaza Bhutto ( saudara laki-laki Benazir Bhutto) tidak siapapun yang mampu mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan mereka, pemerintah Amerika meminta kepada pemerintah setempat memberikan keseriusan dalam mengungkap siapa dibalik pembunuhan Benazir, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dimata masyarakat kepada pemerintah, maka itu pemerintah diminta untuk membuat sebuah tim independen demi mengungkap siapa sebenarnya pembunuh Benazir Bhutto. Link : http://%20fospipakistan.co.nr/ Adam ini salah satu adekku yang masih kuliah di Int'l Islamic University - Islamabad jurusan Hadith and its Sciences. Dia dulu MPer aktif & waktu aku baru p'tama kali kenal MP...dia yg banyak ngenalin aku ke temen2nya. Sekarang temen2nya masih aktif di MP & jadi temen2ku juga...tapi MP-nya Adam udah Almarhum... :(
Menanggapai comment-nya Mas Syamsul di postingan-ku sebelumnya yang berjudul Benazir Bhutto Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri , aku jadi buka file di notebook-ku lagi tentang hal yang berkaitan dengan "Bom Bunuh Diri Tidaklah Sama Dengan Jihad", yaitu penjelasan Ustadz Ahmad Sarwat yang pernah aku copy dari eramuslim.com. Sebelumnya, aku mohon maaf buat yang kontra. It's just in a forum, ukhuwwah islamiyyah is the most important. Berikut penjelasan beliau : Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Istilah 'bom bunuh diri' kalau dikaitkan dengan perlawanan bangsa Palestina melawan jagal Israel tentu sangat tidak tepat. Bahkan penggunaan istilah itu sendiri adalah bagian dari propaganda Israel dalam menghancurkan mentalitas saudara kita di sana.
Yang mereka lakukan bukan operasi bunuh diri, melainkan perang suci membela agama, nusa dan bangsa serta hak-hak hidup paling asasi di muka bumi.
Tidak ada bedanya apa yang mereka lakukan dengan yang dilakukan oleh arek-arek Suroboyo di tahun 1945, ketika mereka menyongsong meriam Belanda hanya berbekal bambu runcing. Dilihat dari hitung-hitungan biasa, meriam Belanda itu pasti akan membunuh mereka semua. Lalu apalah artinya bambu runcing menghadapi meriam-meriam itu?
Tetapi semua kita tahu bahwa mereka adalah pahlawan yang tiap tahun kita peringati jasanya pada hari pahlawan. Tidak ada seorang pun di antara kita yang menyebut tindakan mereka sebagai bunuh diri. Padahal apa yang mereka lakukan lebih dahsyat dari sekedar apa yang dikerjakan oleh mujahidin Palestina sekarang.
Maka di luar medan perang, sebenarnya masih ada peperangan lainnya yang tidak kalah dahsyat. Yaitu perang urat syaraf, perang opini dan perang media. Kalau sebagai muslim kita sampai hati menyebut perjuangan bangsa Palestina itu sebagai 'bom bunuh diri', maka pada hakikatnya kita adalah korban perang. Sebab kita sudah termakan perang opini yang mereka buat, karena sudah berhasil membuat kita berhenti dari mendukung perjuangan bangsa terjajah itu.
Sebagai muslim, kita tahu bahwa apa yang mereka lakukan dengan meledakkan bom di tengah kerumunan Yahudi bukanlah bunuh diri. Sebab orang yang bunuh diri itu adalah orang yang tidak punya harapan lagi. Mereka kecewa dan mengakhiri hidup dengan menghilangkan nyawa diri sendiri.
Sedangkan pejuang muslim Palestina itu tidak putus asa, melainkan mereka sedang menjalankan perintah Allah SWT. Mereka tidak takut mati asalkan demi mempertahankan agama Allah. Mereka telah berkorban harta dan jiwa, janganlah kita zalimi dengan berbagai tuduhan versi orang-orang kafir. Janganlah kita termakan dengan propaganda asing yang ingin memecah belah persatuan umat Islam sedunia.
Mereka yang mati dalam rangka mempertahankan negeri dari penjajah kafir, tentu saja akan mati bahagia. Bahkan mereka tidak mati, melainkan tetap hidup. Kalau orang bunuh diri pasti mati. Tetapi orang yang terbunuh di jalan Allah, tidak mati melainkan tetap hidup di sisi Allah dan tetap mendapat rizki.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah: 154)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS Ali Imran: 169)
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Email dari temen... ~ ME, yang masih b'usaha u/ objective ~ Ceramah Taufik Kiemas di RSIS - Singapore Selasa, 11/9/07, saya menghadiri ceramah Taufik Kiemas, suami mantan Presiden Megawati, dalam acara seminar yang diadakan RSIS (Rajaratman School of International Studies) tempat saya kuliah. Seminar merupakan bagian dari mata kuliah yang wajib saya ikuti. Taufik Kiemas datang atas undangan Indonesian Center RSIS yang dipimpin oleh Prof. Dr. Leonard Sebastian (Indonesianis Singapura). Tampak hadir menyertai Taufik para petinggi PDIP, di antaranya Pramono Anung, Sutradara Ginting, Puan Maharani dan beberapa yang tidak saya kenal. Dalam kesempatan itu Taufik memaparkan dua hal pokok. Pertama, soal perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi Pemilu 2009. Kedua soal terorisme dan sektarianisme di Indonesia. Pada poin pertama Taufik, dengan bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh seorang translator, memaparkan tentang cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai rumah besar nasionalisme yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI dan mewujudkan pluralisme. "Mustahil nasionalisme tanpa pluraslisme, " tukas Taufik. Untuk mewujudkan rumah besar itu, PDIP harus bekerjasama dengan pihak eksternal. Dalam hal ini ia menyebut Golkar untuk dalam negeri dan Amerika Serikat yang dianggap memiliki kemampuan campur tangan terhadap negara lain. "Saya tidak butuh orang-orang golkar. Yang saya butuhkan adalah Partai Golkar yang berhaluan pluralis," ujar Taufk. Sikap itu juga disampaikan saat Taufik dan kawan-kawan berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Menurut Taufik, saat di AS ia menegaskan kembali tentang sikap PDIP sebagai partai oposisi di Indonesia dan sebagai partai nasionalisme yang menjunjung tinggi pluralisme. Saat membahas bagian kedua dari ceramahnya tentang pluralisme dan terorisme di Indonesia, ia menyebutkan bahwa nasionalisme/ pluralisme di Indonesia sedang menghadapi apa yang ia sebut sektarianisme. Sektarianisme inilah yang menjadi kelompok teroris. Persoalannya, menurut Taufik, bila kelompok teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik sehingga lebih sulit dideteksi. Dan tanpa tedeng aling ia menyebut PKS. Lebih lanjut ia menjelaskan, karena itulah mengapa kelompok nasionalis yang memperjuangan pluralisme di Indonesia bersatu melawan PKS dalam Pilkada di DKI Jakarta. Karena hanya dengan bersatu padu itulah mereka dapat mengalahkan PKS di sejumlah daerah. "Tampaknya melihat kaum pluralis bersatu mereka takut juga," tandas Taufik. Ia juga sempat menyitir pidato Pak Hidayat Nur Wahid, yang saya tidak tahu dimana, bahwa Pak Dayat berbicara tentang nasionalisme dan pluralisme, seolah-olah ia lebih nasionalis dari orang nasionalis sendiri. Terus terang, mendengar paparan Taufik itu dada saya langsung bergemuruh. Tadinya tidak ada niat saya untuk bertanya. Saya datang hanya untuk menggugurkan kewajiban kuliah saja. Dan kita juga sama-sama tahulah kualitas Taufik, jadi saya pikir tak ada sesuatu yang bisa diambil. Di samping, kedatangan saya juga untuk menjaga hubungan baik saya dengan Andi Widjajanto (anak Theo Syafei yang sedang mengambil Phd. Di Singapura) teman sekelas saya di satu mata kuliah. Saya juga tahu Andi kini menjadi salah satu advicer penting di PDIP terkait persoalan militer. Pada saat masuk sesi tanya jawab, reflek saya angkat tangan. Saya katakan, sebelum masuk ke pertanyaan saya ingin menanggapi dulu apa yang disampaikan Taufik tentang PKS. Saya perlu meluruskan masalah ini ke audience karena yang hadir adalah para mahasiswa RSIS dari berbagai negara. Apa jadinya jika mereka beranggapan bahwa setiap muslim harus dicurigai sebagai teroris sebagaimana yang disampaikan Taufik. Lebih berbahaya kalau mereka beranggapan PKS adalah supporter teroris di Indonesia. Dengan sedikit emosi saya katakan, PKS adalah a small party in Indoensia, only 7 percent. PKS dibentuk oleh para generasi muda Indonesia yang mecoba mencari solusi terhadap berbagai persoalan di Indonesia. Mereka bercita-cita ingn membangun apa yang mereka sebut "The New Indoensia" / Indonesia Baru. Dan perlu dicatat, mereka adalah lulusan universitas secular di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB dan IPB. Lalu saya jelaskan, tampaknya cita-cita mereka ini ditangkap oleh sebagain masyarakat Indonesia berpendidikan dan menginginkan perubahan. Karena itu terbukti, PKS unggul di Jakarta. Di sini saya memberi penekanan: "Jakarta adalah tolok ukur politik di Indonesia. Jika Anda ingin mengatahui the real politics in Indonesia dan proses demokratisasi di Indonesia, look at Jakarta!" Sebab jika Anda melihat Indonesia secara keseluruhan, maka sesungguhnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpendidikan rendah yang mudah dibohongi oleh para elit partai. Setalah itu barulah saya masuk ke pertanyaan sederhana: Apa konsep PDIP untuk membangun Indonesia. Pertanyaan itu tak dijawab secara baik oleh Taufik, karena mungkin ia keburu kaget ada orang PKS terselip di antara hadirin. Setelah tahu saya orang PKS pernyataannya menjadi melunak, ia katakan syukurlah kalo ternyata PKS sudah berubah. Alhamdulillah, tampaknya hadirin mendapatkan informasi lain tentang PKS, hal itu terlihat dari pertanyaan2 yang terlontar, baik dari orang Indonesia sendiri, Singaporean, Malaysian, semua tampak bernada positif terhadap PKS. Beberapa kawan dari Indonesia dan beberapa negara menghampiri saya mengomentari penjelasan singkat saya itu. Menurut saya, ceramah Taufik Kiemas di RSIS itu tak boleh dianggap angin lalu. Boleh jadi inilah gambaran sikap PDIP sendiri dan sikap partai-partai lain secara umum terhadap PKS. Sikap ini tampaknya akan melatari kebijakan partai untuk menghadapi Pemilu 2009. Isu terorisme, sektarianisme adalah isu usang namun efektif untuk menjatuhkan citra partai Islam. Sebagaimana tudingan militer secular Turki yang menuding Justice Party di Turki memiliki hidden agenda islamisme. Wallahu a'lam SUHUD ALYNUDIN 50 Nanyang Crescent Graduate Hall #03-18 Singapore 637598
PASANGAN Adang Daradjatun-Dani Anwar memang kalah dalam pemilihan Gubernur Jakarta. Tetapi, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah 'memenangi' demokrasi yang tengah bertumbuh di negeri ini. Mereka kalah amat terhormat. Mereka kalah dengan jiwa besar.
Menurut penghitungan cepat (quick count) Lembaga Survei Indonesia (LSI), Fauzi Bowo-Prijanto memperoleh 56,12% suara, Adang-Dani mengantongi 43,88% suara. Sebuah perolehan suara yang sungguh amat mengejutkan. Sebab, sebelumnya berbagai lembaga survei memprediksi jago PKS itu hanya akan memperoleh suara di bawah 27%.
Kekalahan tetaplah kecundang. Tetapi, jangan lupa, Adang-Dani hanya diusung satu partai, sedangkan Fauzi Bowo-Prijanto diusung 20 partai. Perolehan di atas 40% bagi Adang-Dani memperlihatkan betapa berlipatnya suara yang mereka dulang. Ini membuktikan pula betapa berharganya kedua tokoh ini bagi PKS dalam pengumpulan suara di Ibu Kota.
Tetapi, yang menjadi indah bagi demokrasi yang tengah bertumbuh di Indonesia adalah Adang-Dani dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI Jakarta Triwisaksana selekasnya mengakui kekalahan itu. Mereka langsung pula mengucapkan selamat kepada sang pemenang: Fauzi-Prijanto. Padahal, Komisi Pemilihan Umum Jakarta secara resmi belum mengumumkan siapa pemenangnya.
Mereka yakin, perolehan suara itulah angka maksimal. Karena berdasarkan tim pemantau PKS yang tersebar di berbagai tempat pemungutan suara (TPS), perolehan suara Adang-Dani berkisar angka yang dirilis LSI itu. Menerima kekalahan dengan dada lapang, tanpa membuat rupa-rupa alasan dan kambing hitam, terasa menyejukkan. Secara jernih pula PKS menyatakan tidak akan menjadi oposisi, melainkan tetap mendukung Fauzi-Prijanto dengan sikap kritis dan konstruktif.
Sementara itu, di pihak partai yang mengusung Fauzi-Prijanto, sebagai rasa hormat, mereka juga akan segera menggelar silaturahmi dengan PKS. Pihak Fauzi juga berharap apa yang diperlihatkan para elite Jakarta dalam pilkada bisa berimbas kepada akar rumput.
Demokrasi yang tengah bertumbuh, dan masih bopeng di sana-sini, memang perlu banyak keteladanan, khususnya dari para elite. Keteladanan hanya bisa muncul dari sikap dewasa dan rasa hormat kepada sebuah proses.
Bahwa kompetisi kekuasaan selalu memiliki tujuan utama kemenangan, ini sudahlah pasti. Tetapi, kemenangan akan menjadi lebih sempurna jika diraih dengan cara yang elok, yang tidak hanya mengikuti seluruh prosedur dan aturan main, namun juga penuh rasa hormat terhadap seluruh unsur yang terlibat kompetisi.
Pilkada Jakarta memang seharusnya menjadi contoh, tidak hanya di berbagai wilayah lain, tetapi juga bagi para elite nasional. Pemilihan Presiden pada 2004 yang dimenangi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla memang sukses besar sebagai pemilihan presiden pertama kali. Tetapi, ia masih menyisakan persoalan, yakni belum pulihnya hubungan personal antara mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dengan bekas dua pembantunya yang memenangi pemilu itu.
Demokrasi perlu banyak prasyarat.. Ia perlu orang-orang terdidik yang punya rasa hormat terhadap perbedaan. Demokrasi perlu pula orang-orang yang berjiwa besar untuk menerima kekalahan, juga pandai mengelola kemenangan.
Pilkada Jakarta yang telah berlangsung indah, haruslah pula berimplikasi kepada hasil yang maksimal. Artinya, kemenangan Fauzi-Prijanto baru benar-benar punya arti jika bisa menjawab berbagai problem Ibu Kota: transportasi yang kian semrawut, banjir yang jadi langganan, kriminalitas yang meninggi, dan jurang kaya-miskin yang kian menganga. Selamat bekerja bagi Fauzi-Prijanto. Terima kasih Adang-Dani.
****
http://www.media-indonesia.com/editorial.asp?id=2007081122120505
Halaman belakang rumah Bapak yang cukup luas adalah tempat bermain bidadari2ku. Dari main sepeda, sepatu roda, basket, bahkan berenang di kolam karet. Tapi udah beberapa hari ini, saung/gazebo yang terletak di halaman belakang itu dijadikan markaz kader & simpatisan DPC PKS Pasar Rebo yang bersibuk-ria selama Pilkada DKI 2007. Karena di saung itu ada fasilitas internet. Kalau Mbak udah ada rasa malu main di depan ammu2 (om2 -red.). Tapi nggak buat Dede & Hanan. Hal ini juga salah satu yang membuat Dede banyak mendengar & tertarik dengan Pilkada 2007, termasuk jadi fans beratnya Pak Adang. Pulang-pergi TPA pun, Dede & Hanan juga harus melewati pintu halaman belakang karena letak masjid di belakang rumah kami. Nah...pulang TPA sore ini, dia mendekatiku & ngajak main tebak2an, "Bunda, tebak ya...1 lawan 20 menang siapa?" "Ya jelas menang 20 lah...! Kan banyak tuh...", jawabku spontan & rasanya aku udah bisa nebak ke mana arah pertanyaannya. "Bunda salah! Yang bener menang 1. Kan cuma beda tipis...", jawabnya sambil tersipu. Masya ALLOH...tau apa kamu tentang "beda tipis", Nak...?
AlhamduliLLAH wa syukuriLLAH... setelah 10 jam 47 menit di udara tanpa transit, akhirnya Garuda yang aku tumpangi dari Jeddah mendarat dengan sempurna di Cengkareng. Kalo bukan karena besoknya Pilkada & kangen anak2, pengen banget ber-lama2 di tanah Harom. Sengaja kuminta bidadari2ku nggak menjemputku karena mereka harus sekolah. Nggak disangka, rasa rindu untuk segera melihat senyum bidadari2ku harus tertunda 3 jam lagi dikarenakan macet di toll selama itu. Entah ada apa, mungkin karena besok libur Pilkada. Tapi di toll Taman Mini ada angkutan umum terbalik & aku melihat proses evakuasi korban yang bikin aku langsung melayang. Tanpa menunggu mobil masuk ke carport, nggak sabar aku langsung turun di depan rumah & menghambur ke dua buah hatiku. Belum sempat ngomong apa2, Dede udah ngomong duluan, "Bunda, coblos muka Adang!" Gubbraks...!!! Koq anakku jadi kampanye gini? Aku tanya tanpa berharap jawaban darinya, "Kenapa harus Adang?" "Dani itu kan temennya Adang, makanya namanya Adang-Dani. Tapi Fauzi Bowo nggak suka Adang Dani. Padahal Fauzi Bowo punya uang ratusan milyar, tapi Adang cuma punya 1 milyar. Kasian Adang...", orasi Dede dengan lancar. "Siapa yang ngajarin Dede? Bunda kan nggak ikut2an kampanye.", tanyaku makin penasaran. "Nggak ada. Tapi besok Bunda coblos muka Adang ya...jangan coblos "kumis"nya." Hallah...! Nggak nyambung deh perasaan. Sampai di dalam rumah, Mbak cerita waktu kampanye putaran terakhir, pas aku lagi umroh, rumah Bapak yang tepat di sebelah rumahku dijadikan meeting point seluruh warga kecamatan Pasar Rebo. Ini emang udah tradisi DPC PKS Pasar Rebo sebelum kampanye, demo, whatever kegiatan deh. Karena dari awal PKS di-deklarasikan sampai tahun lalu, emang rumah "sebelah" merangkap kantor DPC PKS Pasar Rebo. Tapi...Dede kan nggak diajak kampanye Adang waktu aku nggak ada di Jakarta? Ya...seperti biasa...dia cuma merekam yang didengar & mereview tanpa aturan. Orang rumah juga cerita, setiap ada debat CaGub DKI 2007 di Tv, Dede ikut2an rajin menyimak walaupun nggak ngerti apa yang mereka perdebatkan. Begitu juga untuk berita2 kampanye pilkada tsb. Sekarang dengan rasa penasaran, aku tanya Dede, "Emang...coblos itu apa seh, Dek?" "Coblos itu, ditusuk pake sedotan trus diminum deh airnya." Tuh kan betul...anakku yang masih berumur 4 tahun ini memang belum faham apa itu "coblos", tapi dia memang fans berat Adang yang katanya sholeh, baik karena Dede dikasih bendera, balon & air mineral bergambar CaGub No.1 itu. Besoknya, aku udah niat mau datang ke TPS in last minutes karena badanku masih terasa capek banget. Tapi Dede yang udah bangun pagi, nguber2 aku terus supaya cepet2 dateng ke TPS. Dia juga merengek minta ikut. Alasannya setelah kutanya, "Takut Bunda salah coblos." Kalo dia bisa nggak bawel sih nggak apa2. Tapi mulutnya itu nggak bisa diem ber-yel2 "Coblos muka Adang! Coblos muka Adang!" Akhirnya aku yakinkan dia, "OK, insya ALLOH Bunda mau bolongin tuh muka Pak Adang. Tapi Dede di rumah aja ya." Eh...masih aja dia nambahin kampanyenya, "Inget lho Bunda, Pak Adang nggak ada kumisnya." Iya...iya... Yang berkumis itu kan Eyang Kakung, Dek!
oleh : Djony Edward Wartawan Bisnis Indonesia Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal tersebut sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan Gubernur DKI Jakarta. Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh bersama)." Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud common enemy bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan dari A hingga Z tentang perkembangan di tanah air. Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena pernyataan itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic Salvation (FIS) di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang kemudian kemenangan itu langsung dijegal oleh militer. Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada di Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja setelah MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui aksi-aksi tak konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan, aksi tak simpatik anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan Nurmahmudi, hingga aksi pengempesan ban mobil sang walikota dan pelemparan bom molotov mobil kader PKS Depok. Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama pasangannya Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wagub Banten. Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar bersatu untuk melawan kader dari PKS. Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan Sa'aduddin dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun akhirnya dimenangkan oleh PN Jabar. Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS adalah common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta. Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi paling nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa pilkada DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah memanas, padahal kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta program kerja mereka. Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada Pemilu 2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika dipresentir menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis dengan Koalisi Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih yang terhimpun di 20 parpol pendukung. Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20 parpol dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang. Berikut al. parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar (9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%), PBB (1,45%), maupun PKPB (1,83%). Maksimalkan kemenangan Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan putra Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa sebegitu besar suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1? Padahal untuk sahnya seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol peserta pemilu 2004. Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin. Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman Ustad Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor ngidul, setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin. "Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad dengan adik saya," demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa Presiden Soeharto. "Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi. "Foke, Ustad," tambah Ginandjar. Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi. Singkat kata, dalam obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling disegani di PKS itu. Apa jawaban Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut petikannya, "Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon, yakni Adang Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi secara sehat." Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada PKS, dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan PKS dan PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya tingkat konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah. Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang juga merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu pendukung Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan kemenangan digalanglah Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan aspek pendidikan politik, yang penting bagaimana memaksimalkan kemenangan. Jadilah PKS sebagai common enemy bagi, paling tidak, elit politik di DKI. Tapi belum tentu bagi rakyat DKI Jakarta. Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih dari 30%. Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri, ada yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat dan pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang memasuki tahun ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya cuma sibuk berdakwah), sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah pemilihan. Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus jantung hati rakyat. Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin menyapa atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami rakyat. Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60 titik posko yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan sukarela warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko itu dibentuk dari awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir yang terakhir. Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang cuma memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda warga Jakarta. Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru meinggu kedua pasca banjir menurunkan bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap yang tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba dalam kebajikan, maka kader PKS lah yang maju dimuka. Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik, karena itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi Jakarta. Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon seperti fenomena yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri Marin, maupun Agum Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono Kusumaatmaja, tak lebih dari bagian dinamika yang memperkaya dan mengarahkan PKS sebagai common enemy. Plus minus Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat dan mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus. Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi kelemahan dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan kalau memang dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran tidak memenuhi kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku. Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada DKI Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung birokrasi yang saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelaha da kepastian Daftar Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene masih dikomandaninya. Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah tokoh mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai adanya ghost vooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan buntu, KPUD tetap jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil proses yang lemah sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada paling buruk di Indonesia. PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan menghalangi kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi oleh waktu dan tempat pendaftaran. Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang telah ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan mengarah pada kartel kekuasaan. Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis yang memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma. Sejumlah organisasi parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau setidaknya menjadi penasihat, menunjukkan supelnya sang calon. Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol dengan sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni ideologi serta anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung pencalonannya. Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak mampu mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu membendung meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI Jakarta, padahal tekadnya menyejahterakan warga. Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada pasangan Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa karena kemiskinan meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik. Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan dan pengangguran bertambah di Jakarta. Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat menjabat Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen Polri sehingga memang tak terlalu dikenal. Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu, sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan hingga jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai predikat buruk tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS yang bersih? PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan, itupun kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian dari dalam. Sebuah spekulasi yang memang harus diuji. Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui sebagai militer aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan Dani Anwar adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak perjuangan sekolah gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan, walaupun pelaksananya Sutiyoso dan Foke. Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan syariat Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten, pemkot dan pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun yang otomatis diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya akan terlaksana jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah memerlukan waktu. Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap memilih. Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati maknanya hampa sama sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada pada nurani Anda!!! http://web.bisnis.com/kolom/2id297.html
 Iklannya Pak Adang Dorojatun & Pak Dani Anwar di TV, keRRRen abiZZZ...!!! Cuocok sama kondisi Jakarta yang makin miris tapi Bang Yos makin kayak selebritis.
Blom tau siapa director iklan itu, tapi diliat dr style-nya seh pasti Mas Ipank. Mas Ipank emang Te-O-Pe deh...!!!
Wish U all best of the best...buat Mas Ipank...buat Pak Adang & Pak Dani...juga buat Jakarta gue. :) 
By Abdul Halim Mahally First Published: April 6, 2007 JAKARTA: As local media pays more attention to domestic crises, from the natural disaster in West Sumatra to Lapindo Brantas in East Java, international issues seems overlooked. The tension between the USA and the Islamic Republic of Iran has reached a peak. The Middle East is currently engulfed by a war cloud. Washington and Tehran are unfortunately likely to enter into armed conflict soon. Three reasonable indications, at least, support this prediction. First, the Pentagon has already appointed Admiral William Fallon as the new US Central Command, replacing General John Abizaid. Fallon is charged with multiple and yet difficult tasks: keeping Afghanistan and Iraq stable which includes preparing attacks on Iran. Second, the US has exercised its military power in the biggest war in the Middle East since 2003, involving use of aircraft carriers and hundreds of fighting jets. They underwent a similar exercise before the US military fired missiles on Iraq in 1991 (First Gulf War) and 2003 (Second Gulf War). Third, Iran was unfortunately reluctant to halt its program of uranium enrichment, even though the UN Security Council recently issued its two resolutions (1737 in December 2006 and 1747 in March 2007). Tehran’s behavior does not bode well for dialogue and only encourages Washington to invade Iran in the near future. The international community would once again witness the shedding of blood at the beginning of the 21st century. After World War I (1914–18), World War II (1939–45) and the Cold War (1948–90), a number of states still resorted to military force as a means to settle international disputes. In the first year of our third millennium, for instance, hundreds of thousands died in the US-Taliban conflict. More than three million Afghans became refugees in Pakistan and Iran when the US and its coalition forces started bombing the Taliban regime on Oct. 7, 2001. In the name of combating terrorism and its networks, five US aircraft carriers in the Persian Gulf fired 600 cruise missiles into all Iraqi territories on March 19, 2003. The Taliban regime ended with the takeover of Kabul on Nov. 13, 2001 and Baghdad fell on April 9, 2003. The expansionist ambition of the US war planners apparently did not cease, but is instead increasingly on the rise. Iran now becomes the next target of the US war machine. And Syria, to a great extent, is possibly the most wanted after Tehran. But why should the US attack Iran? President Bush’s administration has, of course, strong reasons to bomb Iran. Firstly, Washington accused Tehran of masterminding attacks against the US and its coalition in the post-Iraq war era. Suicide and remote bombs are claimed to be the work of the Iranians. Secondly, the Iranian intelligence services were held responsible for supplying arms to Hezbollah in Southern Lebanon and to the Muslim freedom fighters in occupied Palestine where Israeli interests are threatened. Any attack on Israeli occupation forces would mean a declaration of war against the US. Thirdly, the Iranian government has been deemed guilty of illegal proliferation of nuclear weapons. Although the head of the International Atomic Energy Agency (IAEA) Mohammed ElBaradei assured the world that Tehran needs years to acquire nuclear bombs, the Bush Administration has a different view: invading Iran before it is able to successfully test its nuclear weapons is the best preventative measure. The refusal of President Ahmadinejad to stop Iranian uranium enrichment is seen by US policy makers as casus belli or smoking gun for mobilizing American military might in the Persian Gulf. Are we then to believe that war between the US and Iran is inevitable? There is no easy answer. Nevertheless, I am of the view that there is still an opportunity to avoid war. First, the UN Security Council has to show its credibility as the world peacekeeper by pressuring the Bush Administration to avoid unilateral action. The US must not make the same mistake as before, when it failed to stem the US attacks on Iraq in 2003. It is the right time for countries such as France, China and Russia to use their veto powers and resist US arrogance. Second, Arab states under the Arab League should express their silenced voices to the US. If Arab leaders stand united in solidarity, President Bush would not unilaterally attack Iran. Third, all Muslim countries listed in the Organization of Islamic Conference (OIC) must also concur. As the largest world organization after the United Nations and Non-Alignment Movement, OIC could play a very important role. If OIC member countries scattered across the Middle East, South Asian, Southeast Asian and African regions eventually stand together to implement boycotts or embargoes on the US, I believe Washington would face significant losses for taking any irresponsible action. However, much depends on the United Nations, The Arab League and OIC. If they show reluctance to act, war is truly unavoidable. Consequently, one should stop dreaming that the US war machine can automatically come to a halt. Good Luck! AH. Mahally (Abdul Halim Mahally) is an Associate Director for Middle East Studies at Research Center for Political Sciences, the University of Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Abis mandi...dapet email dari Mas Halim yg isinya tulisan beliau yg dimuat di Daily Star Egypt. Thx banget ya, Mas... 
| |