Bunda's posts with tag: receipes

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag receipes
Blog EntryMutton AchawalaDec 11, '07 4:51 AM
for everyone

History :

One day in Islamabad, aku pengen masak Gule Kambing. Karena di kulkas masih ada daging kambing & santan kalengan. Tapi nggak punya bumbu2 yang lengkap, bahkan hampir lengkap sekali pun nggak ada. Finally, aku nekad mixed daging kambing itu dengan coconut milk. Begitu mateng...masuk ke mulut Mbak Athira...dia langsung bilang "Achawala...". Achawala itu bahasa Urdu yang artinya bagus banget, enak banget, Te-O-Pe deh... Karena langsung tandas, jadinya aku PeDe inget2 bumbu apa aja yang tadi aku cemplungin & aku catat kemudian. Moga yang berani coba2 sama resep ini, same comment with Mbak Athira.

 

Bahan :

- 1/2 kg daging kambing/domba yang sudah dibersihkan lemaknya, dipotong kotak tipis
- Santan
- Minyak untuk menumis

 

Bumbu :

- Daun salam
- Lengkuas, dimemarkan
- Jahe, dimemarkan
- Garam
- Gula pasir

 

Bumbu yang dihaluskan :

- 1/2 buah, bawang bombay / 6 siung, bawang merah
- 3 siung, bawang putih
- 6 buah, cabe merah
- 1 sendok teh, lada
- 1 sendok teh, ketumbar
- 1/2 sendok teh, jinten

 

Cara membuat :

Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis dengan daun salam, lengkuas & jahe. Masukkan potongan daging kambing/domba, aduk sampai berubah warnanya.

Tambahkan santan, garam & gula, aduk terus sampai rata. Masak sampai daging terasa empuk & kuah agak kental.

 


Blog EntryKambing PetisTanDec 3, '07 5:54 AM
for everyone

History :

Salah satu mahasiswa yang lagi dapet giliran haji waktu itu, bawa oleh2 1 botol kecil petis. Selama ini aku nggak doyan petis, nggak tau cara masaknya & nggak tau buat masakan apa aja. Lumayan lama juga itu petis cuma buat pajangan isi kulkas. Finally, aku nekad mixed itu petis dengan sisa2 kambing Qurban yang setia nemenin si-petis di kulkas. Ternyata, aroma udang bisa ngebanting dikit aroma kambing. Begitu mateng, asap masakan yang masuk ke hidung, ikut mempengaruhi otak-ku, sehingga namanya jadi "Kambing PetisTan" (Kambing bumbu petis ala Pakistan). Rasanya pun...hhmmm...bole dicoba, kecuali sama si-Jago Masak.

 

Bahan :

- 1/2 kg daging kambing/domba yang sudah dibersihkan lemaknya, dipotong dadu
- 2 buah tomat, dipotong dadu
- Cabe merah besar, dibuang isinya, diiris tipis (banyaknya sesuai selera)
- Cabe rawit utuh, sesuai selera
- Minyak goreng/mentega
- Air

 

Bumbu :

- 1 sendok makan petis
- 1 sendok makan gula pasir
- 3 sendok makan kecap manis
- Bawang bombay/bawang merah *
- Bawang putih
- Lada putih *
- 1/2 ibu jari, jahe
- Garam

 

Cara membuat :

Haluskan bawang bombay/bawang merah, bawang putih, lada jahe & garam. Kemudian ditumis hingga harum.

Masukkan daging kambing/domba, aduk terus hingga berubah warna. Tambahkan petis, kecap manis & gula putih. Aduk terus hingga merata.

Tuangkan air, masak hingga daging terasa empuk & kuah tinggal sedikit.

Masukkan tomat, cabe merah iris & cabe rawit. Aduk terus hingga matang.

 

Note :

* Karena di Islamabad nggak ada bawang merah, makanya aku selalu pakai bawang bombay. Jadi, bisa diganti dengan bawang merah.

* Kebetulan masih ada stock lada putih, jadi waktu itu aku pake lada putih. Pernah ada yang coba pake lada hitam, katanya fine2 aja.

 


Blog EntryKambing Lada HitamDec 2, '07 12:12 AM
for everyone

History :

Dulu, semasa aku masih tinggal di Islamabad, belum ada yang jual lada putih. Sampai aku cari ke DFS (Duty Free Shop) & Asian Market, sama sekali nggak ada yang jual. Tapi katanya sekarang sudah ada yang jual. Walau begitu, resep ini pernah aku coba dengan lada putih, ternyata rasanya beda. Dengan lada hitam lebih pas. Bukan karena udah terbiasa, tapi emang lebih pas dengan lada hitam. Buat yang udah pernah nyobain Sapi Lada Hitam & Kepiting Lada Hitam, pasti tau bedanya.

 

Bahan :

- 1 kg Daging kambing / domba yang udah dibuang lemaknya, diiris tipis-lebar
- Minyak / mentega untuk menumis
- Air

 

Bumbu :

- 1 buah, bawang bombay diiris tipis
- Bawang putih dicincang halus, banyaknya sesuai selera
- 1 buah, paprika merah dipotong segitiga
- 2 sendok teh, bubuk lada hitam
- Kecap manis, sesuai selera
- Garam

 

Cara membuat :

Tumis bawang bombay & bawang putih sampai harum. Masukkan daging, aduk sampai berubah warna. Masukkan paprika merah, aduk sampai layu. Tambahkan lada hitam & kecap manis, aduk sampai merata. Tuang air & garam, aduk terus sampai mendidih. Masak dengan api kecil sampai daging terasa empuk & kuah tinggal sedikit.

Untuk menetralisir lemak yang tersisa pada daging, sebelum disajikan boleh ditaburi minyak zaitun 1 sendok makan saja. Selain dapat menambah cita rasa khas masakan.

Note : Jangan pernah memasak minyak zaitun, karena akan merubah kandungan vitamin & non-cholesterol oilnya menjadi lemak jenuh yang berbahaya untuk kesehatan.

 


Blog EntryPakindo Receipes ala Bunda AthiraDec 1, '07 11:22 PM
for everyone

Setelah disuguhi Bakwan Rame buatan Mbak Nida & Mas Azzam, sahabat MP-ku yang sedang menuntut ilmu di Cairo, memory-ku langsung rewinded pengalaman terpaksa masak selama 7 tahun di Islamabad. Then, terbersit ide untuk menambah 1 tagbox lagi di "senyum MEntari" khusus Pakindo Receipes.

Kenapa namanya Pakindo...? Karena, di tagbox ini aku akan share resep2 masakan Indo dengan bumbu Indo ala kadarnya atau dengan tambahan bumbu Pakistani, dan masakan Pakistani dengan selera lidah Indo. Nama aneka hasil olahan selama di sana pun, suka2 kita...seperti Bakwan Rame-nya Azdha's Family itu.

Dan sebenernya, resep2 masakanku itu sangat nggak tepat disebut resep. Karena nggak semua bumbu aku cantumkan takarannya. Ya karena emang basically aku nggak bisa masak, so waktu aku mau masak whatever, aku telpon Bunda ke Indo, beliau pun hanya ngasih tau macam2 bumbu & cara memasaknya...tanpa takaran bumbunya. Setiap aku tanya, jawabannya "Kamu kira2 aja, Nak...by feeling..." Tapi alhamduliLLAH...praktek cooking-ku yang pertama sukses berat.

Ceritanya, waktu itu pas Iedul Fithri di awal tahun '97. Seluruh mahasiswa yang sudah berkeluarga wajib open house dengan menu Indonesia. Aku kalang-kabut. New comer...baru 5 bulan tinggal di Islamabad, plus nggak punya bekal cooking skill, plus lagi hamil 8 bulan & alergy sama dapur selama hamil. Parahnya, aku & Mas Oke nekad pilih somay sebagai menu open house kita. Dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi lho masaknya... Selesai? Belom lah...kita terusin lagi pagi-nya sampai menjelang Dzuhur. House opened after Dzuhur till midnight, as the rule. AlhamduliLLAH-nya, Athira nggak minta buru2 keluar ke dunia ini. Dan yang paling bersyukur lagi, semua bilang somay-nya enak. Jelas mereka nggak basa-basi...karena mereka pun makannya nggak inget jatah temen2 yang laen yang belom dateng ke rumahku. Tapi yang nggak jelas, apa karena mereka udah lama nggak ketemu somay ya...?

Nah...mulai dari situ, aku jadi suka praktek masak. Tapi bukan hanya untuk aku & Mas Oke, juga Athira setelah lahir. Aku korbankan mahasiswa2 singel sebagai object penderita sekaligus juri-nya. Ada yang jujur...ada juga yang tinggi banget basa-basinya.

Dan dari hobby dadakan ini, Indonesian Embassy pun pernah 2 kali order menu untuk acara gathering. Kayaknya sih bukan karena alasan rasa masakanku aja, tapi waktu itu pas juru masak Wisma Nusantara lagi umroh atau mudik (aku lupa). Begitu juga Ibu2 istri Diplomat sering order Pudding Bunda Athira khas kreasiku, ya...dengan resep yang ala kadar-nya tanpa takaran itu.

Sebenernya, aku & Mas Oke juga Athira, bisa dibilang nggak pernah kangen masakan Indo. Kita sangat menikmati Pakistani Food & Afghani Food yang resto-nya bertaburan di setiap sudut Islamabad. Hanya kecuali, pada saat hamilnya Athira, aku ngidam masakan Padang ala Sederhana. Dan pada saat hamilnya Dede, aku ngidam asinan bengkoang. Tapi karena hampir tiap hari di rumah kedatangan tamu mahasiswa2 Indo, bahkan mereka juga sering bermalam di rumah, ya kesempatan buatku untuk jadiin mereka object penderita.

Nah...dalam rangka menyambut Eidul Adha, atau di Pakistan biasa disebut Bakra Eid (Hari Raya Kambing -red.), aku akan share aneka olahan dari daging kambing / domba, sebagai launching tagbox baru-ku ini. (Hallah...!)

Oh ya, lamb is better than mutton. Aku belom ketemu dalil yang menguatkan argument ini. Tapi di Saudi, Afghan, Marocco, warganya prefer lamb (daging domba) than mutton (daging kambing). Dan di negara2 Eropa Timur seperti Turkey, Albania, Bosnia, Kosovo & Checz, mereka never makan mutton, tapi lamb. Begitu juga waktu aku ke Aussie, mereka suka sekali dengan lamb.

Sebenernya, hanya mitos bahwa daging domba itu lebih prengus dari daging kambing. Daging domba juga lebih cepat empuk dimasak daripada daging kambing. Untuk soal harga pun, daging domba lebih mahal dibanding harga daging kambing.

Mitos juga kalau daging kambing & domba dituduh sebagai penyebab penyakit hypertensi, jantung, cholesterol & asam urat. Asal kita mengolahnya dengan baik, seperti membuang lemaknya & memperbanyak bumbu rempah2 sebagai antioksidan-nya.

Survey pun membuktikan bahwa kandungan lemak pada daging kambing & domba jauh lebih sedikit dibanding dengan yang ada pada daging ayam & sapi. (Maaf belum ketemu dalil yang akurat. So, this post will be updated.)

Kita juga bisa meniru Pakistani atau negara2 lainnya, dalam hal style mereka menyantap daging jenis ini. Contohnya Pakistani, pada waktu menyantap masakan dari olahan daging jenis ini, mereka nggak pernah lupa menyertakan fresh salad seperti daun selada, timun, tomat, lobak, cabe ijo besar & bawang bombay yang semuanya diiris tipis. Nggak ketinggalan, fresh plain yoghurt yang ditaburi sedikit jinten yang masih ada kulitnya. Daging kambing / domba, plus roti / nasi, plus fresh salad & plain yoghurt...hhmmm...murmer...

Beda lagi Turkish, mereka mencampur fresh salad tadi dengan olive oil & perasan lemon. Dan Afghani, mereka memeras lemon di atas fresh salad tadi begitu siap menyantap hidangan.

Sehat kan...?

 

Note : PENTING...! Untuk yang jago masak, DILARANG coba2 dengan resep ini. Bisa jatuh image-ku...hehehe... Resep2 ini hanya untuk para perantau yang belum bisa masak. So, enak-nggak enak...nggak bisa nyalahin aku. Tapi, most welcome buat yang punya inovasi & mau share takaran bumbu2nya. Dan maaf, untuk foto2nya menyusul. Selain aku mau ngubek2 album foto lama dulu...skarang ini aku jarang banget praktek masakan2 ini lagi. Karena aku harus berbagi dapur dengan juru masak di rumah.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help